ja_mageia

Pokok Doa
 1. Bangsa & Negara
 2. Gereja-gereja di Indonesia
 3. GKI Perumahan Citra1
     - Kesatuan hati (MJ/BP/Aktifis)
     - Kerinduan umat utk melayani
 4.Pencalonan Penatua thn 2015-2018
 5.Panitia Natal
 

 

  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
Taat seperti Maria PDF Print E-mail
Written by Pdt. Danny Purnama   
Saturday, 20 December 2014 10:25

Kalau mau jujur, sebagai manusia kita kadangkala taat karena dua hal, yang pertama kita mengharapkan imbalan dari     ketaatan kita atau kedua, takut mendapatkan sangsi atau hukuman.  Ketika Operasi Zebra dilakukan beberapa waktu yang lalu, banyak orang yang mendadak taat peraturan lalu lintas dan jumlah pelanggaran menurun.  Namun begitu Operasi Zebra itu selesai, kembali banyak pengguna jalan yang tidak taat pada aturan yang ada.  Sungguh memiriskan hati melihat kenyataan seperti ini.  Memang di antara begitu banyak orang yang hidup seenaknya, tidak taat pada peraturan, masih ada orang yang hidup taat dengan penuh kesadaran dan kerelaan.  Mereka mematuhi peraturan dan nasihat bukan untuk kepentingan dirinya sendiri supaya dapat imbalan dan terhindar dari sangsi, tapi untuk  kepentingan dan kebaikan bersama, contoh: menaati rambu-rambu lalu lintas bukan karena ada polisi atau takut ditilang, tapi karena sadar betul akan keselamatan bersama.

Kita dapat belajar dari teladan Maria yang penuh ketaatan pada kehendak Allah ketika ia mendapat kabar tentang terpilihnya dirinya untuk menjadi ibu bagi Sang Juruselamat. Mendapat kabar kalau akan punya anak, tentu menjadi sebuah kabar sukacita.  Apalagi bila kehadiran anak itu sudah lama dinantikan.  Namun tentu soalnya menjadi lain bila kabar itu datang kepada seorang perempuan yang belum bersuami seperti Maria.  Karenanya wajar bila Maria mempertanyakan rencana Tuhan itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34).  Ada risiko yang harus Maria tanggung bila menerima rencana Allah yang akan menjadikannya ibu bagi Yesus:  Yusuf, sang tunangan bisa “menceraikan” dirinya karena dianggap telah berzinah, ia juga akan dicemooh dan dijauhi masyarakat, bahkan bukan tidak mungkin         kepadanya akan dikenakan hukuman rajam sebagai perempuan yang berzinah.  Tapi Maria taat kepada kehendak Allah.

Kata “taat” dalam B. Yunani adalah upakouo yang artinya cukup banyak: mendengarkan dengan sungguh-sungguh, kepatuhan, bersikap tunduk dan kerelaan.  Maria mau taat karena ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh rencana dan kehendak Tuhan melalui dirinya.  Sekalipun tahu ada risiko yang harus ia hadapi, Maria memilih rela untuk tunduk dan patuh kepada rancangan Tuhan bagi keselamatan dunia.  Dengan tulus ikhlas ia kemudian mengatakan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”  Ia tahu siapa dirinya, yaitu hamba Tuhan.  Sebagai seorang hamba ia harus siap sedia dan menerima apapun tugas yang diamanatkan sang tuan, aka dengan penuh kerelaan, Maria patuh dan taat pada kehendak Allah, bukan kehendak dirinya.

Dalam hidup ini kita kerap bergumul untuk bisa taat melakukan apa yang Allah kehendaki.  Kita kerap bergumul hebat: bagaimana mau taat di tengah dunia yang justru dipenuhi ketidaktaatan.  Kita juga bergumul hebat: ketika kehendak Allah Bapa itu bertentangan dengan keinginan dan kepentingan kita pribadi.  Memang ada harga yang harus dibayar saat kita mau taat kepada kehendak Allah dan menaruh kehendak pribadi di belakangnya.  Kita mau taat bukan pertama-tama karena mengharapkan imbalan dan berkat dari ketaatan kita itu.  Kita taat karena kita sudah lebih dulu dikasihi Allah.  Kita taat karena kita juga mau mengasihi Allah. Yoh 14:15 menyebutkan: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”  Karena sudah menikmati kasih Allah yang menyelamatkan dan kita juga mau mengasihi Allah yang lebih dulu mengasihi kita, maka dengan penuh kerelaan hati kita menundukkan diri dan patuh kepada-Nya bukan lagi kepada keinginan diri sendiri.  Di titik inilah kita harus berjuang untuk mengalahkan ego dan kepentingan diri sendiri, sama seperti Maria akhirnya menundukkan keinginan-Nya di bawah kehendak Allah: “…jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

 

Hari ini, di Minggu Adven IV, kita belajar dari Maria untuk taat melakukan kehendak Allah bukan karena takut atau kuatir kepentingan kita tidak dipenuhi, bukan supaya dapat    imbalan, tapi karena kita dengan rela melakukannya dilandasi kasih kepada Allah yang lebih dulu mengasihi kita supaya ada kebaikan dan berkat yang bisa dirasakan bersama.

 

Penulis: Pdt. Danny Purnama

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra1

No:38/XX/Minggu, 21 Desember 2014 

 

 
Pemberita yang Rendah Hati PDF Print E-mail
Written by Sugiri Santosa   
Saturday, 13 December 2014 12:39

Ucok     :           Eh, keren ‘kali kau sore ini, mau ke mana Jo?

Paijo     :           Ah, bisa aja si abang ini. Saya mau rapat komisi di gereja, lalu latihan paduan suara

                       buat Natal. Yah, sedikit-sedikit ikut bantu lah.

Ucok     :           Bagus ‘kali niatmu itu Jo. Gereja kita itu banyak anggotanya, tetapi yang mau kerja 

                       cuma sedikit. Jadi sibuklah kau yang bantu-bantu itu.

Paijo     :           Engga apa-apa kok bang, saya juga tadinya cuma pengunjung gereja saja. Tapi

                       lama-lama saya jadi malu, kegiatan gerejanya banyak tapi yang aktif kok sedikit. Kan

                       tidak adil ya bang!

Ucok     :           Itulah masalah kronis gereja kita Jo! Banyak pekerjaan, tetapi yang mau turun

                       tangan sedikit. Bebannya jadi berat, merangkap sana-sini dan terus-terusan lagi.

Paijo     :           Begitulah pekerjaan pelayanan yah bang, bisa cape sendirian.

Ucok     :           Tapi hati-hati juga, istilah pelayanan itu adalah istilah yang banyak disalah pahami.

Paijo     :           Maksud abang?

Ucok     :           Orang seringkali menggunakan perkataan pelayanan dengan enteng, tidak mengerti

                       apa artinya. Kalau aktif di sana-sini, maka dengan ringan kita bilang itu pelayanan.

                       Rajin melawat, ikut    paduan suara, jadi guru Sekolah Minggu, jadi penatua, itu

                       pelayanan. Padahal belum tentu begitu, bisa jadi cuma ikut aktif membantu. Itu

                       namanya kegiatan, bukan pelayanan.

Paijo     :           Lha, saya tambah bingung lagi nih. Jadi pelayanan itu opo bang?

Ucok     :           Melayani berarti memberi diri. Seperti Tuhan Yesus, yang hadir menjadi hamba.

                       Identitasnya berubah. Melayani itu adalah memberi diri sepenuhnya kepada Tuhan,

                       agar Tuhan lah yang menjadi penguasa hidupnya. Pelayan tidak punya hak untuk

                       mengatur kapan dia mau bekerja atau bagaimana caranya dia bekerja, dia tunduk

                       sepenuhnya pada kepentingan tuannya.

Paijo     :           Jadi pelayan itu tidak boleh gampang tersinggung, uring-uringan, mogok lalu

                       berhenti bang?

Ucok     :           Betul, mana ada pelayan yang berani ngambek sama tuannya, apalagi sampai

                       ngeloyor pergi?

Paijo     :           Serius banget kedengarannya bang!

Ucok     :           Pelayan itu juga bukan pekerja paruh waktu atau part timer. Dia tidak bisa mengatur

                       jadwal pekerjaannya hanya pada hari Minggu dan jam-jam tertentu saja. Tidak ada

                       hari liburnya Jo!

Paijo     :           Jangan begitu loh bang, saya jadi tambah takut nih!

Ucok     :           Melayani itu pekerjaan fulltime. Jadi jangan mengira bahwa pekerjaan pelayanan itu

                       cuma dilakukan pada hari Minggu dan saat-saat ada kegiatan gerejawi saja. Melayani

                       Tuhan itu tidak ada putusnya dan tidak ada liburnya. Artinya, sambil merawat

                       keluarga, memasak, bekerja di kantor, menyetir mobil di jalanan yang macet, sikap

                       melayani itu harus tetap ada. Kelihatannya susah, tetapi Tuhan menolong

                       memungkinkan hal itu bisa kita lakukan.

Paijo     :           Jadi melayani itu bukan hanya melakukan kegiatan-kegiatan    gerejawi yah bang?

 

Ucok     :           Betul, melayani adalah melakukan segala sesuatu untuk memuliakan Tuhan. Lewat

                       pekerjaan dan perilaku se hari-hari, kita bersaksi dan menjadi pemberita keselamatan

                       kepada orang-orang di sekeliling kita, keluarga, pembantu, tetangga, teman kerja,

                       siapa saja yang kita temui se hari-hari. Menyediakan masakan yang sehat untuk

                       anak-anak dan suami, berperilaku sopan di jalan, bekerja dengan sungguh-sungguh

                       di kantor, mengerjakan proyek dengan teliti dan jujur, dan tentunya juga

                       mengingatkan teman yang salah, melawat jemaat yang sakit dan banyak lagi yang

                       bisa dan perlu  kita lakukan. Tujuannya satu, memuliakan Tuhan. Jadi bekerja di

                       ladang Tuhan itu belum cukup, harus ditambah lagi: untuk kemuliaan Tuhan!

Paijo     :           Eh bang, saya jadi ingat cerita tentang keledai, yang ditunggangi Tuhan Yesus pas

                       saat Ia memasuki Yerusalem. Banyak orang bersorak-sorak, menghamparkan kain

                       dan melambaikan daun palem menyambut Yesus, seperti menyambut seorang raja.

                       Si keledai itu kelihatan banget menikmati sambutan dan pujian orang banyak. Sambil

                       melangkah, dengan anggun dia menengok ke kanan ke kiri, manggut-manggut dan

                       mesem-mesem. Matanya merem melek karena bangga, lupa bahwa yang dipuji

                       adalah Tuhan Yesus yang duduk di atas punggungnya. Itulah yang kita sering

                       lakukan, lupa bahwa Tuhanlah pokok pelayanan kita. Jadi kalau ada aku nya atau

                       ego yang di depan, itu bukan pelayanan yah bang.

Ucok     :           Satu contoh yang menarik juga adalah kehidupan pak Yohanes Pembaptis. Dari lahir

                       sampai kematiannya, yang dia pikirkan dan lakukan cuma buat Tuhan. Dia tidak

                       peduli dengan keadaannya sendiri yang melarat, hidup seadanya. Dia juga engga

                       takut kepada siapapun, bahkan kepada raja Herodes yang kemudian memenggal

                       kepalanya. Itulah contoh ketulusan total seorang pelayan.

Paijo     :           Iya bang, meskipun saat itu dia begitu terkenal, dia bilang membuka tali kasut 

                       Tuhan Yesus pun dia tidak pantas. Beda yah dengan kita, yang tidak mau repot dan

                       maunya dilayani.

Ucok     :           Yohanes bersikap begitu karena dia mengerti bahwa Tuhan Yesus turun ke dunia,

                       merendahkan diri-Nya untuk mati ganti dia dan umat manusia.

Paijo     :           Kalau saja kita semua mengerti hal ini, mana mungkin kita bisa berkelit dan     

                       menampik pekerjaan Allah di dunia ini, ya engga bang?

Ucok     :           Betul Jo, hati yang bersyukur melihat kesempatan melayani sebagai berkat, bukan

                       beban.

Paijo     :           Tapi melayani Tuhan itu kan berat, bagaimana bisa jadi berkat?

Ucok     :           Ketika kita bilang bahwa kita siap dipakai, Allah akan melengkapi kita dengan  

                       hikmat-Nya, juga dengan sukacita. Nah, sukacita itu bukanlah kegembiraan lahiriah

                       yang biasa, tetapi kegirangan yang berasal dari rasa syukur yang dalam kepada

                       Tuhan. Kita yang cuma debu kok bias-bisanya dipercaya jadi rekan kerja Tuhan di

                       dunia ini.

Paijo     :           Kapan lagi yah bang, mumpung masih ada kesempatan. Saya jadi ingat lagu:

                       ..melayani Tuhan, selalu manise.

Ucok     :           Lanjutkan!

 

Penulis: Sugiri Santosa

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra1

No: 37/XX/Minggu, 14 Desember 2014

 

 
Peka dan Hidup dalam Pembaruan PDF Print E-mail
Written by Pnt. J. Hadi Sucianto   
Saturday, 06 December 2014 10:10

Hari Minggu ini, kita memasuki Minggu Adven II. Masa Adven adalah masa mengenang kedatangan Yesus Kristus yang pertama dalam rupa seorang bayi yang tidak berdaya, lahir di Betlehem kurang lebih dua ribu tahun yang lalu. Masa Adven juga merupakan masa penantian kedatangan-Nya kedua sebagai Raja yang adil dan berkuasa.

Bacaan-bacaan hari ini mengantarkan kita kepada pemahaman:

 

  1. Manusia yang mengalami penderitaan, kesusahan akibat kejatuhannya ke dalam dosa. Yesaya mengibaratkannya bagai rumput yang menjadi kering, bunga yang menjadi layu.
  2. Inisiatif Allah untuk merangkul, mengangkat kembali harkat dan martabat manusia melalui pengampunan dan pendamaian.
  3. Memberikan pemulihan kepada manusia dengan kasih dan kesetiaan-Nya bahkan menganugerahkan keselamatan (sola gratia) kepada manusia ciptaan-Nya dengan mengutus Putra tunggal-Nya ke    tengah-tengah dunia.

 

Bagaimana manusia menyambut uluran tangan dan kasih Tuhan yang sudah berinisiatif? Tema minggu ini menuliskannya secara jelas. Diperlukan kepekaan untuk menyambut/ mendengarkan-Nya. “Peka”  berarti: (a) mudah merasa (b) mudah bergerak (c) tidak lalai (d) mudah menerima atau meneruskan pengaruh (Kamus Besar Bahasa Indonesia Online). Sebagai manusia yang beriman, kita mudah merasakan kehadiran-Nya, mudah digerakkan dan meneruskan kasih-Nya kepada sesama. Rasul Paulus memberi istilah “berubah/mentransformasikan diri dari manusia lama menjadi manusia baru”, demikian dituliskan dalam surat Kolose 3:8-10 “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” 

Sudahkah kita berubah, mengarah kepada kehidupan yang lebih baik bagi sesama, dengan saling berbagi waktu, tenaga, pemikiran dalam kehidupan bergereja dan di tengah masyarakat? Pdt. Gloria Tesalonika dalam Pemandangan Umum tahun ini membuat sebuah catatan reflektif: “Mengapa sulit sekali mencari aktivis untuk terlibat dalam pelayanan?”, “mengapa gairah dan antusiasme itu melesu?”. Kerapkali kesibukan, tidak adanya waktu, hingga kondisi lalu lintas ibukota yang setiap hari diisi dengan kemacetan menjadi alasan yang dikemukakan. Namun alasannya ternyata tidak hanya itu. Ada sebab lain yang turut memengaruhi kehidupan anak Tuhan, yaitu tantangan dunia yang semakin besar……., arus perubahan zaman yang begitu cepat, ……adanya ’roh zaman’ yang begitu kuat memengaruhi sendi-sendi kehidupan kita, termasuk pada pencarian spiritualitas yang berpusat pada Kristus, yang saat ini tidak lagi menjadi prioritas utama.

Oleh karenanya melalui perenungan Minggu ini kita diajak untuk:

 

  1. Terus mengasah kepekaan terhadap suara Tuhan melalui hal-hal yang kita lakukan, kita lewati, kita lihat setiap hari. Berarti “pasang mata dan pasang telinga dengan mata hati”
  2. Proaktif menyambut “panggilan” Tuhan dengan “kontinu” menekuni firman-Nya
  3. Waspada terhadap arus kemajuan zaman dengan pelbagai isu dan intriknya

 

 

Selamat menghayati Minggu-Minggu Adven,

Tuhan memberkati.

 

Penulis: Pnt. J. Hadi Sucianto

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 36/XX/Minggu, 7 Desember 2014

 

 

 
Hidup Kudus dan Berjaga-jaga PDF Print E-mail
Written by Widyadi Purwosuwito   
Saturday, 29 November 2014 09:25

Memasuki bulan Desember kecemasan sebagian warga DKI Jakarta mulai terbukti ketika ada beberapa ruas jalan yang tergenang bahkan terendam air akibat guyuran hujan. Langkah konkrit Pemprov. DKI Jakarta mulai dilakukan di antaranya mengecek ulang fungsi 555 buah pompa penyedot air yang ada dan mengimbau masyarakat untuk waspada dan berjaga-jaga menghadapi bencana banjir yang akan terjadi.

Sepuluh tahun yang lalu, bulan Desember 2004 Bencana Tsunami di Aceh akibat gempa di Samudera Hindia telah meluluh lantakkan kehidupan masyarakat di ujung barat Indonesia. Sekitar 230 ribu orang tewas dan hilang akibat bencana yang juga menimpa 8 negara. Melalui tayangan televisi orang menganggap bencana tersebut semacam kiamat kecil.

Kiamat atau akhir zaman selalu menarik perbincangan orang. Tanggal 10 November 2003 diyakini oleh Pdt. Mangapin Sibuea akan terjadi akhir zaman. Beberapa orang di berbagai daerah rela menjual harta dan rumahnya untuk berkumpul di Gereja Pondok Nabi, Bandung menantikan kedatangan Yesus Kristus yang ke dua kali.

Ramalan suku Maya tentang penyelarasan galaxi meramalkan akan terjadi kiamat pada tanggal 21 Desember 2012. Film layar lebar berjudul “2012” garapan sutradara Roland Emmerich ikut meramaikan seantero jagat dan bukunya menjadi best seller.

Berkali-kali sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu orang seperti tersihir bila ramalan dan prediksi kiamat atau akhir zaman akan terjadi. Fakta membuktikan bahwa semua ramalan yang pernah ada ternyata meleset dan pada hari “H” nya tidak terjadi peristiwa apapun. Akhir zaman adalah hak prerogatif dan otoritatif Allah yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. “Tetapi Hari kedatangan Tuhan akan tiba seperti pencuri” (2 Ptr 3:10).

Berbicara tentang akhir zaman selalu membuat orang penasaran, ingin jawaban yang pasti. Seperti para murid Yesus menanyakan, “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi, dan apakah tandanya, kalau semuanya itu akan sampai kepada kesudahannya” (Mrk 13:4).         Kehancuran bukan point penting yang hendak disampaikan oleh Yesus dalam perikop ini, tetapi situasi damai sejahtera yang membawa harapan itulah yang menjadi pesan yang ingin disampaikan-Nya. “Ambang pintu” yang dikatakan oleh Yesus adalah tentang “tunas keselamatan” yang muncul di tengah kekacauan dunia. Seperti pohon ara menandai       berakhirnya musim dingin yang mematikan, begitulah tunas keselamatan menandai hadirnya hari Tuhan.

Yesaya menyadarkan umat Israel agar memahami keterpurukan yang dialaminya adalah akibat pemberontakan mereka terhadap Allah, kehidupan yang najis, dan kesalehan palsu yang mereka tunjukkan telah membuat mereka menjauh dari kasih dan perlindungan Allah.

Situasi perpecahan dan konflik berkepanjangan yang mengancam keutuhan jemaat    Korintus sangat memprihatinkan. Sehingga Paulus perlu mengingatkan mereka, bahwa di hari Tuhan yang mendekat ini, seharusnya mereka memunculkan terang Allah di tengah-tengah dunia yang rusak. Mereka harus hidup sesuai dengan kehendak Allah, menjaga diri mereka dari cacat cela kehidupan selama penantian.

Bagaimana dengan kita orang percaya yang hidup di abad ini? Di tengah karut-marut dunia yang menghadirkan kekerasan, penindasan dan penjajahan lewat kekuatan politik, ekonomi, militer dan budaya. Dalam skala kecil pribadi dan keluarga nampak semakin memudarnya nilai-nilai etika dan moral, kenyamanan diri dan kesenangan duniawi, materialisme dan konsumerisme. Bagaimana sikap kita?

Melalui Minggu Adven ke-1 ini umat diajak untuk menantikan dan menyambut kehadiran Allah di dalam pengakuan dosa dan pertobatan. Menyadari akan pemberontakan manusiawinya, kenajisan hidupnya, kesalehan palsunya, agar menjelang hari Tuhan umat dapat menjaga hidup kudus dan berjaga-jaga. Inilah yang mengawali proses ‘transformasi’, perubahan hidup, yang sesuai dan seturut dengan kehendak-Nya sebagai Raja dalam hati kita. Proses ini akan berlanjut dalam tema-tema Minggu Adven yang menguraikan perihal karakter Kristiani yang seyogyanya dimiliki oleh setiap kita sebagai umat Tuhan. Melalui masa penantian akan kedatangan Tuhan inilah, umat menatap masa depan dengan sebuah  harapan dan keyakinan iman, bahwa akan ada masa di mana tunas keselamatan itu muncul memberi kedamaian bagi orang-orang yang tetap bertahan di dalam segala bentuk kekacauan dunia. Seperti syair KJ 81: “O datang, Tunas Isai, patahkan belenggu pedih dan umat-Mu lepaskanlah dari lembah sengsaranya. Bersoraklah, hai Israel, menyambut Sang Imanuel!” kita memasuki minggu adven ke-1 ini dengan keyakinan akan tunas keselamatan yang dijanjikan dan telah digenapi dalam Yesus Kristus.

 

Penulis: Widyadi Purwosuwito

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 35/XX/Minggu, 30 November 2015

 

 
Keputusanku Mengikut Yesus Rajaku PDF Print E-mail
Written by Budi Ichwan Soetarto   
Sunday, 23 November 2014 10:54

Mahatma Gandhi, seorang tokoh besar India, ajarannya didasari oleh perilaku hidup yang cinta damai dan anti kekerasan. Namun ironis ia tewas dibunuh oleh lawan politiknya. Walaupun ia dikenal sebagai pemeluk agama Hindu, tetapi Gandhi sangat mengagumi Yesus.

Setelah kematiannya, di rumahnya ditemukan buku-buku antara lain: buku kecil Injil Yohanes, khotbah di atas bukit, dan di depan dinding kamarnya terpampang gambar Tuhan Yesus dengan tulisan “Dia damai sejahtera kita.”

Suatu hari sahabatnya bernama Stanley Jones bertanya kepada Gandhi “Anda pengagum Yesus, mengapa tidak menjadi Kristen?” jawab Gandhi “benar saya pengagum berat Yesus, tetapi saya tidak suka pada murid-murid-Nya, munafik, tidak punya integritas..!”

Seperti dikatakan Pdt. Andar Ismail: “berpenampilan suci tapi bersikap dengki”. Inilah pelajaran mahal bagi kita pengikut Kristus. Jangan lagi terulang menjadi batu sandungan, yang gampang berucap “cinta Yesus” tetapi lakunya berbeda. Kita dituntut harus serupa dengan Yesus, baik dalam berpikir maupun berperasaan. Karena melalui laku kitalah, orang lain melihat Yesus.

Yehezkiel sebagai nabi Allah mengabdikan hidupnya untuk melayani umat Israel. Ia mengajak umat untuk bertobat, mau mengakui kesalahan dan kembali menyembah Allah. Sebagai Raja dan Gembala sejati, Allah mau mencari umat yang terhilang, menyelamatkan mereka yang tersesat dan menggembalakan umat menuju hidup sejahtera.

Allah juga memilih, mengangkat serta memercayakan Daud sebagai raja sekaligus gembala bagi bangsa Israel. Daud melaksanakan tugasnya dengan baik (Yeh 34:11-24). Dalam kesaksiannya Daud berkata “Allahlah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, karena itu kita patut bersyukur dan memuji Allah (Maz 100)

Sebagai pengikut Yesus, sudah semestinya kita bersikap bagaikan gembala yang memiliki hati yang mau menghadirkan hidup untuk orang lain. Dalam hal ini, Yesus pun bukan hanya mau mengandalkan kita sebagai murid-murid-Nya, tetapi Tuhan juga menghendaki kita sungguh-sungguh mengandalkan Yesus dalam menjalani kehidupan ini, mengingat Yesus sebagai gembala sejati, yang telah memberikan nyawa-Nya untuk kita domba-domba-Nya (Ef 1:15-23). Teladan Yesus mendorong kita untuk berempati dan berkorban bagi sesama kita.

Saat ini kita tengah menantikan kedatangan-Nya kembali sebagai bukti dan penggenapan bahwa Ia sungguh-sungguh sebagai Raja dan      Gembala sejati (Mat 25:31-46). Lebih lanjut bagaimana kita sebagai murid-murid Yesus siap menjadi domba-domba-Nya yang setia dan rela menderita bersama Yesus serta bersikap sebagai gembala yang baik terhadap mereka yang lapar, haus, sakit, bahkan telanjang. Tidak perlu khawatir karena Roh Kudus siap menolong kita, sehingga kita mampu melaksanakannya dan juga untuk hidup berintegritas (terpadunya antara pikiran, ucapan dan perilaku)

Melalui bacaan leksionari minggu ini, kita diingatkan bahwa sesungguhnya Firman Tuhan itu bagaikan cermin yang memberi petunjuk akan apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan tidak benar, sehingga olehnya kita disadarkan, diingatkan untuk tidak melanggar   firman-Nya. Jangan seperti si iblis dalam cerita legenda Tiongkok: “ketika melihat cermin, nampak wajahnya yang jelek, menyeramkan, ia malah kabur lari tunggang langgang sambil cerminnya dibanting.”

Sesungguhnya yang Tuhan mau ketika ada yang tidak beres dalam diri kita maka wajib kita mengubahnya menjadi baik, karena itu manusia yang penuh kelemahan ini memerlukan dan membutuhkan pimpinan serta belas kasih dari Tuhan. Jika selama ini kasih Tuhan telah kita terima dan rasakan dengan berbagai pertolongan-Nya yang tak pernah kita duga sebelumnya, itulah yang kita yakini bahwa Tuhan menolong tepat pada waktunya.

Menjadi murid Yesus berarti kita siap diproses untuk tumbuh menjadi dewasa dalam iman, yang kemudian akan tampil beda, baik dalam keadaan susah maupun senang, serta senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Fanny Crosby pernah berkata “mata yang paling tajam melihat kebaikan Tuhan adalah hati yang bersyukur”. Oleh karenanya mari jadikan Yesus sebagai kompas hidup kita. Karena di sanalah kita menemukan ketenangan hidup dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Amin.

 

Penulis: Budi Ichwan Soetarto

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 34/XX/Minggu, 23 November 2014 

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini20
mod_vvisit_counterKemarin29
mod_vvisit_counterMinggu Ini139
mod_vvisit_counterBulan Ini373
mod_vvisit_counterKeseluruhan68590

Login Form