ja_mageia

Pokok Doa
 1. Bangsa & Negara
 2. Gereja-gereja di Indonesia
 3. GKI Perumahan Citra1
     - Kesatuan hati (MJ/BP/Aktifis)
     - Kerinduan umat utk melayani
 4. Panitia Pentakosta 2015

  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
DIPULIHKAN DALAM KEBENARAN FIRMAN PDF Print E-mail
Written by Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF.   
Sunday, 17 May 2015 00:30

”Ausculta!” (bhs. Latin) – artinya: “Dengarkanlah!” merupakan kata kunci bagi bapa gereja, Benediktus (abad VI) dalam membangun kehidupan komunitas. Ini merupakan fakta bahwa gereja bercermin dari kehidupan komunitas Yahudi maupun gereja perdana (Kis. 2:42). Kitab Suci memiliki tempat tersendiri yang melahirkan hikmat. Hikmat (d’ath – bhs. Ibrani) bukan sebagai pengetahuan di ranah kognisi semata melainkan menyangkut relasi akrab (intim) dengan Allah. Sebagaimana pemazmur katakan, ”… dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mzm. 1:2b). Kata ‘merenung’ mengarah pada meditasi: berpikir menembus permukaan hingga menemukan inti terdalam. Dari meditasi inilah akan mengarah pada yang lebih mendalam yaitu kontemplasi: membuat diri kita benar-benar disentuh oleh apa yang kita dengar atau lihat (baca). Hidup kontemplatif adalah hidup tidak dengan kepala saja melainkan mengalir dari hati dalam kehidupan seseharian. Ini bukan ”the luxury of spiritual elite”.

 

Doa Tuhan Yesus bagi murid-muridNya, ”Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” (Yoh 17:17) ditujukan dalam ranah dunia bukan di seberang dunia. Itu artinya perlu adanya korelasi yang kreatif dan dinamis antara teks Alkitab dengan teks kehidupan. Teks kehidupan yang di dalamnya mengandung suka-duka, tawa-tangis dari padanya manusia membutuhkan pemulihan dan peneguhan dari apa yang diimani. Satu pertanyaan yang patut kita jawab adalah bagaimana selama ini kita membaca Alkitab yang didalamnya mengandung kebenaran Illahi? Teks Alkitab yang kita baca tidak hanya untuk menambah informasi bagi pengetahuan iman kita namun terlebih dari itu untuk formasi (pengembangan) spiritualitas kita. Spiritualitas yang dimaksud di sini bukan berarti kerohanian – dalam arti dipertentangkan dengan yang jasmani – melainkan spiritualitas adalah apa yang kita percaya dan yakini dijadikan sebagai jalan hidup (bahasa Jawa: laku). Formasi spiritualitas yang kesempurnaannya ada pada proses yang berlangsung itu sendiri.

 

Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta Lutheran Jerman yang menjadi martir di masa kekejaman Hitler, mengatakan, ”Firman Allah dalam Alkitab tidak boleh berhenti terdengar di telinga Anda dan bekerja di dalam Anda sepanjang hari, seperti halnya kata-kata dari seorang yang Anda cintai. Dan sama seperti Anda tidak menganalisis kata-kata dari seorang yang Anda cintai, tetapi menerimanya sebagaimana dikatakan pada anda,   terimalah Firman Allah dalam Alkitab dan renungkan di dalam hati, seperti yang dilakukan Maria. Itu saja … . Jangan tanyakan, “Bagaimana Saya harus menyampaikannya kepada orang lain?” tetapi, ”Apa yang dikatakannya kepada Saya?” Kemudian, renungkan kata-kata itu jauh di dalam hati Anda sampai meresapi dan menguasai anda.”

 

 

 

Penulis: Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF.

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 7/XXI/Minggu, 17 Mei 2015 

 

Last Updated on Sunday, 17 May 2015 00:33
 
Mengapa Harus Kasih? PDF Print E-mail
Written by Pdt. Ellisabeth Hasikin   
Saturday, 09 May 2015 14:46

Kata Kasih menjadi kata utama dalam kitab suci. Ditemukan sebanyak 492 kata kasih di Alkitab. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kata kasih diwujudkan dalam karya yang berbeda. Umat Israel menempatkan Hukum Kasih sebagai pusat dari semua peraturan keagamaan mereka. Kasih ditempatkan bukan saja dalam relasi umat dengan TUHAN Allah, namun ia juga ada dalam relasi manusia dengan sesama. Di Perjanjian Baru kasih mewujud dalam seluruh tindakan Allah yang nyata melalui kehidupan bahkan kematian Yesus. Kehadiran Yesus menjadi wujud konkret dari kasih. Apapun tindakan dan pengajaran Yesus diimani merupakan wujud yang nyata dari kasih.

Mengapa kitab suci menempatkan kata kasih sebagai ‘jiwa’ dalam seluruh karya Allah? Para orang beriman bersaksi bahwa hanya kasih yang memungkinkan manusia untuk memperoleh kesempatan kembali berelasi dengan Allah. Sejak manusia jatuh dalam dosa maka mustahil relasi dengan Allah yang sudah rusak itu dipulihkan. Manusia tidak berdaya karena kuasa dosa. Karena itu satu-satunya yang dapat menjadi jembatan penghubung manusia dengan Allah hanyalah kasih. Itu sebabnya Allah yang adalah kasih mengutus anak-Nya Yesus kristus agar apa yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. Bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1:33).

Tidak terbantahkan lagi dalam iman kristiani bahwa seluruh karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus adalah wujud nyata yang Ilahi menjadi insani. Apa yang tidak masuk akal manusia menjadi kenyataan. Apa yang dianggap kemustahilan menjadi keniscayaan. Injil Yohanes 15:13 menuturkan bahwa kasih yang terbesar adalah kasih yang rela berkorban. Kasih dan pengorbanan adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan.

Nah, bagaimana kasih itu ada dalam praktik hidup umat Tuhan?

Harus jujur kita akui bahwa pemberlakuan kasih tidak mudah. Bukankah ada banyak kegiatan yang kita nilai jauh lebih penuh kasih secara umum. Kita menjadi sulit membedakannya. Jika demikian apakah ukurannya? Tindakan yang didasari kasih selalu akan menempatkan kerelaan berkorban. Artinya tidak menempatkan kepentingan diri sendiri sebagai yang utama, upaya untuk menepis egoisme dan egosentrisme kita dan satu lagi selalu ada tempat (dalam bahasa GKI: memberi ruang) bagi orang lain.

Pemberlakuan kasih memang sulit namun bukan berarti tidak bisa. Kasih yang terpraktikkan itu pertama-tama nampak dalam relasi dengan orang-orang yang terdekat (keluarga, kerabat, sahabat). Bukankah kita tidak bisa berpura-pura (“JAIM”) dengan suami, istri, orangtua, anak? Kasih yang pura-pura adalah kepalsuan. Hidup dalam keluarga, kerabat dan sahabat adalah kenyataan. Kita tidak mungkin terus berpura-pura. Hidup dalam kepura-puraan menyesakkan.  Itu sebabnya dalam relasi dengan orang-orang terdekat kita seringkali       mengalami konflik bahkan konflik yang berat. Di sinilah kasih diperlukan. Tanpa kasih maka konflik itu bisa memutuskan tali persaudaraan dan persahabatan. Dengan kasih, selalu ada pengampunan, pengertian, kesabaran untuk menerima kelebihan dan kekurangan, penguasaan diri untuk memandang bahwa orang lain benar dan kesediaan untuk menerima jika kita bersalah.

Kasih juga harus terpraktikkan dalam komunitas murid Tuhan di gereja. Yesus Sang kepala Gereja tidak lagi menyebut kita hamba melainkan sahabat. Itu artinya dalam kehidupan persahabatan dengan Yesus dan saudara seiman kita tidak ada dalam relasi kepura-puraan. Kita semua pernah mengalami konflik bahkan sakit hati dalam pelayanan. Mungkin juga ada yang undur iman dan ‘ngambek’ dari pelayanan. Tanpa kasih tidak mungkin tali persahabatan itu dirajut kembali. Tanpa kasih kita tidak layak disebut sebagai sahabat Yesus. Kasih adalah ciri persahabatan yang Yesus jalin dengan kita dan Ia ingin kita menjalin hubungan dengan sesama juga dalam kasih.

Kasih memang bukan kata yang asing di telinga kita, namun kasih bukan kata yang usang dalam hidup iman kita. Saya tidak dapat membayangkan jika Allah tidak mengajarkan hidup dalam kasih sebagaimana yang ada dalam seluruh hidup bahkan kematian Yesus. Kehidupan akan menjadi kering, hati manusia tidak lagi diterangi oleh Roh Kudus, manusia tidak lagi punya pengharapan untuk dipulihkan.

Kita hampir memasuki hari-hari Pra Pentakosta. Kita akan mengingat peristiwa kasih Allah yang mencurahkan Roh Kudus bagi murid-murid Yesus. Mereka dipulihkan dari dukacita, ketakutan dan keputusasaan. Sebagai umat Tuhan di sini kita pun memerlukan pemulihan atas ‘luka-luka’ kehidupan yang banyak kali melukai hati, jiwa dan pikiran kita. Itu sebabnya tema Pentakosta adalah: ”Roh Kudus Berkarya, Manusia Dipulihkan”.  Kita semua membutuhkan pemulihan dari Allah. Pemulihan Allah adalah wujud nyata dari kasih Allah kepada kita sekalian sebagai sahabat-sahabat Yesus.

 

 

Penulis: Pdt. Ellisabeth Hasikin

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 6/XXI/Minggu, 10 Mei 2015 

 

 
Melekat pada Kristus PDF Print E-mail
Written by Pdt. Danny Purnama   
Sunday, 03 May 2015 00:46

Paskah sudah kita rayakan beberapa minggu yang lalu.  Sebuah peristiwa besar kita kenang sebagai momen teramat penting dan menentukan dalam hidup umat Tuhan.  Pada peristiwa Paskah itulah terjadi kebangkitan Kristus,  kebangkitan yang membawa pemulihan bagi hidup umat manusia, pemulihan dari sakit akibat lumuran dosa menjadi manusia baru yang tidak lagi dikuasai dosa.  Selama tujuh minggu kemudian kita merayakan Minggu-minggu Paskah sampai tiba pada peristiwa Pentakosta.  Selama minggu-minggu Paskah itu, Tuhan Yesus yang bangkit menjumpai para murid dengan tujuan untuk menguatkan, mengingatkan, meneguhkan serta menyiapkan mereka untuk sebuah tugas pengutusan ke tengah dunia.  Ada tugas mulia menanti para murid.  Ada kepercayaan besar diberikan kepada mereka untuk meneruskan hidup di tengah dunia dan melanjutkan karya Kristus sehingga Injil atau Kabar Baik tentang keselamatan dan kasih Allah itu bisa juga dialami sesama. Untuk dapat memenuhi undangan Tuhan menjadi alat mewartakan Kabar Baik itu, para murid, termasuk kita di masa kini diingatkan untuk terus berjalan bersama dengan Tuhan dan tidak meninggalkan persekutuan dengan-Nya. 

Teks Injil pada minggu ini bicara soal Yesus sebagai Pokok Anggur yang benar.   Sebuah pokok anggur akan disebut baik dan bertumbuh dengan benar bila ada ranting-ranting yang tumbuh padanya dan menghasilkan buah.  Tentu sebagai Sang Pengusaha, Pemilik Kebun Anggur, Allah menginginkan pokok anggur kepunyaan-Nya berbuah.

Apa yang harus dilakukan supaya kita sebagai ranting-ranting bisa berbuah?  Yohanes 15:4 menyatakan: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”  Supaya kita bisa berbuah, syarat utama adalah tetap tinggal melekat di dalam Yesus, Sang Sumber Hidup.  Tinggal melekat di dalam Yesus berarti menerima apa yang Tuhan berikan dan menuruti apa yang Tuhan kehendaki. Sama seperti ranting menerima makanan yang mengalir dari sang pokok anggur.  Kita terus-menerus menjalin hubungan yang akrab dengan-Nya melalui komunikasi pribadi lewat doa, baca Alkitab, saat teduh, ibadah.  Dengan demikian kita akan terus melekat kepada Yesus, Pokok Anggur itu dan tinggal di dalam-Nya.

Beriringan dengan itu, Yoh. 15:5b-6 menegaskan: “…sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”   Jelas betul sebagai ranting, kita tidak dapat hidup lepas atau tidak melekat pada pokok anggur.  Tidak melekat, berarti hidup terlepas, liar dan tak mendapat asupan makanan untuk menunjang kehidupan. Lama-kelamaan kita akan mengalami kekeringan dan mati tak berguna.  Karenanya Yesus mengingatkan kita untuk dalam segala keadaan, terus melekat dan hidup di dalam Dia.

Yesus memanggil kita bukan untuk hidup untuk diri sendiri atau hidup sendirian.  Ia mau hidup kita ada dalam persekutuan dengan-Nya dan menjadi berkat.  Ayat 5a menegaskan nasihat Yesus: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak...”  Ada janji indah yang Tuhan berikan bagi setiap orang yang mau melekat pada-Nya, yaitu selain hidup, kita juga akan berbuah banyak sehingga bisa mendatangkan kebaikan bagi orang lain.  Dan bukan hanya itu saja, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (ay. 7b).  Apakah dengan demikian kita bisa minta apa saja sesuka hati kita dan pasti akan Tuhan penuhi?  Ingat, permintaan untuk minta apapun juga yang kita kehendaki dan akan dipenuhi itu terjadi ketika kita hidup melekat pada Tuhan.  Karenanya pastilah permintaan yang kita kehendaki pun bukanlah permintaan sekehendak dan semau kita, tapi tetap selaras dengan kehendak Tuhan.  Bila seperti itu, pastilah apa yang kita minta memang akan dipenuhi Tuhan.

Allah menghendaki hidup kita yang sudah dibarui dan dipulihkan menjadi hidup yang berbuah.  Ingatlah ranting yang tidak menghasilkan buah, akan ditebang dan dibuang orang.  Tugas kita adalah berbuah dengan lebat dan karenanya kita diminta untuk tidak tinggal lepas di luar Yesus Sang Pokok Anggur yang Benar, melainkan hidup terus melekat kepada-Nya.  Dengan terus menghasilkan buah, hidup kita menjadi hidup yang juga memuliakan nama-Nya dan menjadi kesaksian bagi dunia bahwa kita adalah murid-murid Tuhan.

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yoh. 15:8)

 

Penulis: Pdt. Danny Purnama

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 5/XXI/Minggu, 3 Mei 2015

 

 
Tawaran Sang Gembala Agung: Hidup Berkelimpahan Bersama Komunitas PDF Print E-mail
Written by Ricky Frans Lisal   
Saturday, 25 April 2015 13:57

Hidup berkelimpahan adalah dambaan semua orang. Setiap orang ingin mendapatkan hidup berkelimpahan, agar dapat memenuhi bukan hanya keperluannya saja namun semua keinginannya. Hampir selalu keinginan lebih banyak dibanding kebutuhan.

Keinginan untuk hidup berkelimpahan, membuat manusia jatuh pada penyempitan makna hidup yang hanya diukur dari kepemilikan materi, jabatan dan kekuasaan. Pada akhirnya manusia menjadi jahat dan serakah serta menindas sesama. Manusia menjadi kehilangan kasih kepada sesamanya. Dunia kita saat ini memperlihatkan sempitnya makna hidup berkelimpahan. Manusia terlena dan mengabaikan pesan Allah sebagai Gembala Agung yang merupakan    pernyataan iman orang percaya.

Melalui peristiwa Paskah, kita merasakan kehadiran Allah yang penuh kasih, rela berkorban, melindungi dan memulihkan hidup. Jika kita telah menerima kasih Allah yang sempurna ini, sesungguhnya kita telah mendapatkan hidup yang berkelimpahan. Kita telah mendapatkan apa yang kita butuhkan:       penerimaan, penebusan dan kepercayaan dari Allah. Kelimpahan hidup yang Yesus berikan adalah kasih tanpa syarat (unconditional love) dan kekal (unending love).

Hidup berkelimpahan mensyaratkan hidup berkelimpahan bersama komunitas, seperti yang ditawarkan oleh Sang Gembala Agung: “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala“ (Yohanes 10:16). Hidup yang berkelimpahan bukan hanya milik pribadi dari mereka yang percaya kepada Allah, tetapi milik komunitas dunia ini.

Paskah selalu mengingatkan bahwa kita telah menerima hidup berkelimpahan dari Allah. Demikian pula, Paskah mengingatkan kita untuk berbagi hidup berkelimpahan bersama orang lain, bersama komunitas di luar diri kita. Kita dipanggil menjadi gembala bagi orang lain. Dunia kita yang tidak ramah saat ini membutuhkan kasih yang menerima, menebus dan memulihkan. The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others (Mahatma Gandhi).

Sebagai murid Tuhan Yesus kita diminta memberikan kasih, penerimaan dan berkat kepada banyak orang, agar banyak orang merasakan kasih Allah yang tanpa syarat dan kekal. Maukah kita menerima tawaran Sang Gembala Agung untuk hidup berkelimpahan bersama komunitas?

Selamat hari Minggu, Tuhan senantiasa  memberkati kita.

 

Penulis: Ricky Frans Lisal

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 4/XXI/Minggu, 26 April 2015 

 

 
KEBANGKITAN ADALAH PENERIMAAN PDF Print E-mail
Written by Supardjo   
Monday, 20 April 2015 05:53

Minggu ini merupakan Minggu Paskah III. Karena itu tema ibadah Minggu masih berbicara seputar kebangkitan Yesus. “Kebangkitan adalah Penerimaan”.     Mengapa disebut “penerimaan”? Paskah dihayati sebagai sebuah titik kemenangan iman yang mengubahkan hidup kita sekalian.

Kebangkitan Yesus yang diyakini menjadi bukti bahwa dosa setiap orang telah diampuni sehingga relasi dengan Allah dipulihkan dan akhirnya membawa kita pada pengharapan di dalam Kristus, menjadi kabar baik bagi kita semua, semua bangsa - tanpa terkecuali. Kabar baik yang membuat kita diterima, bahkan amat indah, kita diterima dan diakui sebagai anak-anak-Nya.

Inilah yang dituliskan dalam I Yohanes 3:1 “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah”. Yohanes menunjukan betapa besar kasih Allah yang telah “mengadopsi” kita sebagai anak-anak Allah. Tindakan adopsi yang dilakukan Allah didasarkan pada kasih dan penghargaan-Nya kepada kita. Tindakan adopsi ini membawa kita ke dalam kualitas hidup yang baru.

Kualitas hidup yang baru sebagai anak-anak Allah tentunya mendorong kita bersedia terus-menerus belajar untuk berperangai seperti Yesus sebagai teladan dalam hidup kita. Tentu tidak ada yang instan dalam proses tersebut. Butuh perjuangan dan upaya dalam diri, diiringi dengan tuntunan Roh Kudus di dalamnya. Dengan demikian, akan ada damai mengiringi kita dan memungkinkan kita bersaksi dan memberitakan kabar baik. Bersaksi adalah status sebagai anak Allah, bukan memakai mulut, melainkan memakai seluruh hidup kita (The witness of God).

Selamat menghayati Minggu-minggu Paskah.

Damai sejahtera bagi kita sekalian.

Amin.

 

Penulis: Supardjo

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 3/XXI/Minggu, 19 April 2015 

 

Last Updated on Monday, 20 April 2015 05:57
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini10
mod_vvisit_counterKemarin15
mod_vvisit_counterMinggu Ini63
mod_vvisit_counterBulan Ini357
mod_vvisit_counterKeseluruhan71527

Login Form