ja_mageia

Pokok Doa
 1. Bangsa & Negara
 2. Gereja-gereja di Indonesia
 3. GKI Perumahan Citra1
     - Kesatuan hati (MJ/BP/Aktifis)
     - Kerinduan umat utk melayani
 4. Bencana Alam di Indonesia

 

  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB, DAN MENGIKUT KRISTUS PDF Print E-mail
Written by Magdalena   
Sunday, 31 August 2014 04:44

Apa yang pertama kali anda pikirkan pada saat anda mendengarkan kata penyangkalan diri? Salib, Sakit, Kedagingan, Penolakan atau sesuatu yang tidak menyenangkan lainnya? Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia ‘penyangkalan diri’  terdiri dari 2 kata Penyangkalan dan diri.

‘Penyangkalan’dari kata sangkal; pe-nyang-kal-an yang artinya proses atau cara atau perbuatan menyangkal, pengingkaran atau penolakan. Sementara ‘diri’ sebagai kata benda adalah orang, seseorang atau kita sendiri. Sehingga arti penyangkalan diri adalah menolak keinginan sendiri atau berkorban.

Memikul salib, dapat diterjemahkan membawa atau mengangkat. Salib yang dimaksud adalah alat yang digunakan oleh orang Romawi untuk menjalani hukuman mati terhadap seseorang yang bersalah dan diharuskan membawa salib atau balok lintang ke tempat eksekusinya (seperti Tuhan Yesus).

Kisah tentang Polikarpus, Bapak Gereja dan Uskup di Smirna, mengajak kita          merenungkan bahwa menjadi pengikut Kristus tidaklah mudah. Ia dianggap penghianat dan penghasut, karena tidak mau menyembah kaisar sebagai Tuhan. Di tengah ancaman penyiksaan, Polikarpus diminta untuk menyembah kaisar. Polikarpus tetap menolak. Ia berkata: “Delapan puluh enam tahun aku mengabdi kepada-Nya, dan dalam sesuatu apapun Ia tak berbuat salah padaku, bagaimana mungkin aku mengumpat Rajaku yang menyelamatkan aku?” Alhasil, Polikarpus pun dihukum mati.

Yesus untuk pertama kalinya menyampaikan penderitaan yang harus ditanggung-Nya. Pernyataan itu mengundang protes dari Petrus. Karena Petrus, seperti juga orang Yahudi umumnya, masih menganggap mesias dalam artian politis. Yesus kemudian menegur Petrus. Setelah  itu Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan mengatakan: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan terus mengikuti Aku”  (Mat.16:24 BIMK)

Ada 3 tahap yang akan dilalui orang yang mengikuti Yesus;

Pertama, penyangkalan diri: berkorban, melupakan kepentingannya. Itu berarti, ia berfokus pada kepentingan Tuhan. Dalam bahasa teguran Yesus kepada Petrus yang tertulis pada Injil Matius 16:21-28 “memikirkan apa yang dipikirkan Allah”.

Kedua, mengikut salibnya yaitu kerelaan menanggung derita. Ingat bukan salib-Nya. Bukan derita Yesus yang kita pikul tapi derita kita, yang sudah pasti berbeda-beda.

Ketiga, setia terus mengikut Yesus.

Seringkali kita dihadapkan pada pilihan. Terlihat mudah jika keputusan diambil menurut cara pandang dunia, seperti kisah Polikarpus. Bisa saja ia melakukan perintah Kaisar, sehingga dia terbebas dari hukuman mati. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Polikarpus. Melalui kisah Polikarpus, kita melihat adanya penyangkalan diri yang diikuti oleh kerelaan melakukan pengorbanan diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Polikarpus melakukan apa yang disebut sebagai “Martir”.

Kemartiran tidak hanya berarti beban mati. Dalam kehidupan seringkali kita dihadapkan pada kenyataan untuk memilih. Di zaman sekarang seringkali kita dihadapkan pada pilihan yang sangat menggoda, tidak sedikit kita dihadapkan pada pilihan kesenangan duniawi yang menjanjikan atau kesetiaan pada Tuhan. Contoh yang ditemui misalnya korupsi demi untuk menambah kekayaan atau hidup dalam kekurangan atau bahkan dengan resiko kehilangan pekerjaan jika tidak dilakukan. Kemartiran adalah sikap kesetiaan dan keberanian menanggung resiko. Oleh karenanya, perjuangan menjadi martir saat ini tidak mudah. Godaan untuk tidak setia makin besar. Ditambah godaan untuk ‘menjual’ juga tidak kalah hebatnya.

Dalam Keluaran 3:1-15 juga dikisahkan bagaimana pergumulan Musa menolak panggilan Tuhan. Karena ia sadar betul betapa sukarnya mengikuti perintah-Nya membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Namun, Tuhan berjanji akan menyertai. Penyertaan Tuhan juga menjadi ajakan pemazmur bagi umat Israel di pembuangan (Mazmur 105:1-6, 23-26 dan 45).

Suatu Minggu pagi, salju menyelimuti Colchester di Inggris. Semula John Egglen berniat tinggal di rumah. Sebab berjalan kaki hampir 10 km ke gereja, dalam cuaca bersalju tidaklah mudah.

Namun tanggung jawab sebagai diaken membuatnya berubah pikiran. Ia berangkat ke gereja. Di gereja hanya 12 jemaat yang hadir dan satu jiwa baru, seorang remaja 13 tahun. Kala itu, Pendeta  tidak bisa datang karena rumahnya tertimbun salju. Sebagian jemaat menyarankan kebaktian ditiadakan. Namun, Egglen tetap mengadakan kebaktian. Karena pendeta tidak hadir, Egglen yang berkotbah. Kotbahnya begitu buruk, sebab ia memang tak bertalenta di situ, tanpa persiapan dan baru pertama kali berkotbah. Namun setelah mendengar kotbah Egglen, remaja tersebut menyerahkan diri kepada Tuhan. Tahukah anda, siapa remaja itu? Charles Haddon Spurgeon! Seorang pengkotbah legendaris di Inggris. Andai Egglen memutuskan tinggal di rumah dan meniadakan kebaktian, mungkin kekristenan takkan pernah memiliki seorang Spurgeon. Pada Minggu pagi yang dingin itu, Egglen mencatat sejarah, bahwa kesetiaan tidak akan pernah sia-sia.

Jalan terjal kerap dijumpai oleh pengikut Yesus yang setia. Hal ini telah dikatakan oleh Yesus sendiri. Ada proses yang harus dilalui seseorang yang mau mengikut mengikut Yesus. Namun hal yang sungguh indah, penyertaan Tuhan akan dirasakan umat Tuhan yang setia kepada-Nya dalam kehidupan. Seperti Polikarpus dan Egglen percaya bahwa kesetiaannya tidak akan sia-sia, bagaimana dengan kita?

Selamat memaknai panggilan kita menjadi pengikut Kristus.

Tuhan memberkati.

 

 

Penulis: Magdalena

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 22/Minggu, 31 Agustus 2014

 

 
DIPANGGIL UNTUK MEWUJUDNYATAKAN IBADAH YANG BERKENAN KEPADA ALLAH PDF Print E-mail
Written by Susijanti Surjana   
Saturday, 23 August 2014 12:23

Apalah Arti Ibadahmu

*Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada hati tulus dan syukur?

**Marilah ikut melayani orang berkeluh, agar iman tetap kuat serta teguh.
Itulah tugas pelayanan juga panggilan,

persembahan yang berkenan bagi Tuhan.

***Berbahagia orang yang hidup beribadah,

yang melayani orang susah dan lemah.
Dan penuh kasih menolong orang yang terbeban;

itulah tanggung jawab orang beriman.

Reff:

Ibadah sejati jadikanlah persembahan.

Ibadah sejati kasihlah sesamamu!
             Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,

jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.

 

Saat penulis melihat tema kotbah minggu ini yaitu "Dipanggil untuk Mewujudnyatakan Ibadah yang Berkenan kepada Allah", penulis langsung teringat dengan sebuah nyanyian dalam Pelengkap Kidung Jemaat no. 264 “Apalah Arti Ibadahmu”, karena syairnya menuliskan jelas sebuah perenungan akan makna ibadah bagi setiap umat Tuhan.

Kalau kita memerhatikan setiap kalimat yang ada dalam syair lagu ini, tidak tertera sesuatu yang mengharuskan seseorang mempunyai kemampuan atau talenta khusus untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengikut Kristus, selain kesediaan diri untuk melayani-Nya. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah apakah kita sudah merespons panggilan Tuhan dalam tanggung jawab yang Tuhan percayakan tersebut? Apakah kita telah menjadi pribadi yang begitu menghormati Tuhan, seperti tradisi orang Jepang menghadap kaisar/ tuannya, sujud dan sungkur, menaikkan rasa hormat yang luar biasa dari dalam hati mereka?

Sungguh menjadi keprihatinan, seringkali kita tidak memiliki sikap demikian dalam ibadah kita. Kita memiliki sikap yang santai, terkadang berdoa dalam posisi tertidur, sehingga kata amin sebagai penutup doa pun baru terucap saat terbangun. Tidak hanya itu, berapa banyak dari kita yang tidak sengaja tertidur, saat kotbah atau saat ketika menaikkan doa syafaat. Keadaan ini membuat kita mengerutu/kesal dan menyalahkan pendeta yang kurang bisa kotbah/ penatua karena terlalu lama berdoa, dlsbnya.


Oleh karena itu, pada saat ini alangkah baiknya kita mengintrospeksi diri.

 

  • ·         Bagaimana sesungguhnya keadaan hati dan tubuh kita ketika datang untuk beribadah, berjumpa dengan Tuhan dan saudara seiman kita? Apakah kita memang sedang lelah, kurang tidur, kurang sehat atau  tengah memiliki persoalan hidup, yang membuat kita sulit untuk berkonsentrasi?
  • ·         Seberapa besar hormat kita terhadap Allah, melalui sabda-Nya yang dibacakan, dinyanyikan dan juga disampaikan di dalam kotbah?

 

Allah melihat hati, bukan fisik kita. Hati yang tulus dan jujur, serta yang senantiasa bersyukur. Himbauan Yesus bagi kita murid-murid-Nya adalah menjadi pelayan, bukan pribadi yang haus untuk dilayani. Karena Yesus tahu, dengan melayani iman kita akan bertumbuh. Allah tahu, apabila kita belum/tidak merasakan dan mengalami sendiri kuasa Allah yang mampu mengatasi segala hal, baik untuk urusan pribadi kita terlebih saat kita melakukan untuk orang lain, akan sulit bagi kita untuk dapat mempertahankan iman kita, kita akan meragukan kuasa Allah di dalam Yesus. Seperti berbagai peristiwa yang terjadi di Irak terhadap umat kristiani belakangan ini, mereka disesah, dirampok dan diusir dan ada dari rumah mereka sendiri dan ada yang dibunuh (karena mempertahankan iman mereka) oleh kelompok-kelompok ISIS. Sungguh sangat mengerikan!

Di tengah kondisi demikian maka pertanyaan reflektif bagi kita adalah dapatkah kita terus mempertahankan iman kepada Yesus, apabila kita diperhadapkan pada situasi demikian? Tentu saja dengan teguh kita harus mengatakan YA! Kita diingatkan agar senantiasa melatih iman kita, sehingga bertumbuh menjadi kuat. Seperti tertulis : "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5).

Tidak hanya itu, pertanyaan reflektif berikutnya: adakah kita sosok pribadi yang peka akan keadaan orang lain, yang membutuhkan perhatian dan pertolongan? Atau sebaliknya kita menjadi pribadi yang cuek dan tidak peduli? Egois. Padahal tanpa kita sadari, kita telah melanggar tugas panggilan dan pelayanan, bahkan terlebih menyia-nyiakan kesempatan mengalami kuasa Allah bekerja  dalam diri kita. Menilik tema Minggu ini kita menyadari bahwa ibadah tentu tidak hanya dimaknai saat kita berada di gereja. Ibadah berlanjut dalam hidup sehari-hari lewat kata daa perbuatan yang dilakukan. Firman Tuhan dalam Yakobus 1:27 menegaskan “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam  kesusahan mereka”

Allah menghendaki agar setiap kita menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkan pertolongan (Galatia 6:2). Karenanya, kita patut bersyukur dan merespon panggilan Allah untuk dipakai sebagai alat di tangan-Nya. Ketika kita bersedia membuka hati, kita akan menyadari bahwa apa yang Tuhan izinkan terjadi dalam setiap aspek kehidupan dan keberadaan kita ini, semuanya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Yakinilah bahwa kesempatan dipakai oleh Tuhan untuk melayani sesama adalah sebuah anugerah.  Allah sangat mengasihi kita, makhluk ciptaan-Nya yang termulia. Dia rela menderita, untuk kita yang tegar tengkuk. Betapa sangat berharganya kita di mata Allah dan begitu kasihnya Allah pada kita. Ia senantiasa memberikan yang terbaik bagi kita. Rancangan-Nya senantiasa mendatangkan damai sejahtera (Yeremia 29:11).

Sebagai respons syukur atas anugerah Allah dalam hidup kita, maka kita dipanggil untuk  mewujudnyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah dalam hidup keseharian kita. Syukur itu nampak ketika bersedia mempersembahkan tubuh kita dipakai menjadi alat di tangan-Nya untuk pewartaan kasih-Nya. Inilah yang dituliskan dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Roma yaitu Roma 12:1 "Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati".

Hari ini gereja Tuhan yaitu Gereja Kristen Indonesia (GKI), yang tersebar mulai dari Batam-Bali dan menurut data terakhir berjumlah 223 Jemaat, memperingati 26 tahun penyatuan Sinode GKI. Hari ini pula diadakanlah pertukaran pengkhotbah yang diatur secara Sinodal oleh Sinode GKI. Dalam 26 tahun perjalanan GKI, Kita menyaksikan karya Allah di dalam Yesus Kristus yang terus menyertai perjalanan kehidupan gereja-Nya. Dalam rasa syukur yang amat dalam itulah, kita semua dipanggil untuk terus menjadi berkat, mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama, sehingga melaluinya hanya nama Tuhan yang dimuliakan.

 

Selamat Ulang Tahun GKI!

Selamat berkarya dalam setiap tugas panggilan yang Kristus percayakan!

Tuhan Yesus memberkati.

 

Penulis : Susijanti Surjana

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 21/Minggu, 24 Agustus 2014

 
Dipanggil untuk Memerdekakan PDF Print E-mail
Written by Husni Setyabudi   
Saturday, 16 August 2014 07:50

Hari ini Negara Indonesia memperingati Ulang Tahun kemerdekaan yang ke-69. Suasana kemerdekaan tertuang kembali dalam warna merah dan putih yang digunakan sebagai dekorasi di berbagai tempat. Acara-acara di televisi pun mengusung nuansa kemerdekaan. Demikian pula dalam kebaktian hari ini. Amat istimewa bahwa tanggal 17 Agustus tahun ini bertepatan pada hari Minggu, sehingga kita bisa turut memperingati bersama melalui ibadah yang kita laksanakan. Kita akan kembali mengingat dan mensyukuri kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, sebagai gereja kita pun diingatkan untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan dalam hidup kita sebagai bagian dari Negara Indonesia.

Berangkat dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, kita tahu bahwa keadaan sebagai bangsa terjajah sangatlah menyengsarakan. Para pejuang berupaya sekuat tenaga untuk meraih kemerdekaan. Bahkan sampai harus mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Kondisi  ini dapat dikatakan memiliki kesamaan ketika Yesus mengajar. Kala itu, Bangsa Yahudi tengah dijajah oleh bangsa Romawi. Bangsa Yahudi merindukan kehadiran Mesias yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan. Dalam situasi demikian Yesus hadir dan memberikan   pembebasan, namun pembebasan di sini adalah pembebasan dari dosa berupa pengampunan jiwa.

Sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, kita sudah memperoleh kemerdekaan tersebut. Pertanyaannya, apakah yang harus kita lakukan dalam alam kemerdekaan ini sebagai bagian dari orang yang telah diselamatkan? Masih ada orang di sekeliling kita yang masih belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, saatnya kita berbuat sesuatu agar orang lain juga “merdeka”.

Dalam bacaan Injil Matius 15:21-28, dikisahkan tentang kepedulian Yesus kepada perempuan Kanaan yang memohon agar anaknya disembuhkan dari kerasukan setan yang dideritanya. Perempuan Kanaan ini bukan orang Yahudi, namun berita Injil menuliskan Yesus mengasihi dan tetap menolongnya. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para murid. Mereka justru menyuruh Yesus untuk mengusir perempuan tersebut. Melalui kisah ini kita diingatkan bahwa panggilan kita sebagai bagian dari Negara Indonesia adalah menyatakan kasih dan kepedulian bagi semua orang. Tidak hanya kepada mereka yang “sama” dengan kita (baik suku, agama, budaya), namun juga kepada mereka yang “berbeda” dengan kita.

Pada bacaan pertama yaitu kitab Kejadian 45:1-15, status Yusuf di tanah Mesir lebih dari orang yang sudah merdeka sebagai budak. Dituliskan bahwa kini ia sudah menjadi orang yang berkuasa. Namun ketika saudara-saudaranya datang kepada Yusuf, ia tidak menggunakan kekuasaannya untuk membalas dendam. Sebaliknya, ia menolong saudara-saudaranya dengan penuh kasih dan hal itu nyata ketika Yusuf membebaskan mereka dari kelaparan yang melanda.

Kisah perjalanan Yusuf juga menjadi perenungan bagi kita. Apakah kemerdekaan kita sebagai pribadi membawa penindasan bagi orang lain? Tentu saja dengan tegas kita harus mengatakan TIDAK! Kemerdekaan yang sesungguhnya haruslah digunakan untuk melaksanakan kebenaran, menyatakan kasih dan kebaikan, serta ‘memerdekakan’ sesama. Itulah sejatinya panggilan kita semua.

 

Selamat Memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke-69!

Tuhan memberkati

 

 

Penulis : Husni Setyabudi

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 20/Minggu, 17 Agustus 2014 

 

 
IRI HATI MEMADAMKAN CINTA PDF Print E-mail
Written by Pnt. Lisawati Thahir   
Saturday, 09 August 2014 15:25

Hati manusia rentan terhadap penyakit hati yang disingkat dengan AIDS  (Arogan/sombong, Iri hati, Dendam dan Serakah). Ucapan yang kemudian muncul adalah “Senang jika melihat orang lain susah dan susah begitu melihat orang lain senang” atau peribahasa, “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.” Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada orang yang terinfeksi penyakit iri hati. Kita sedih melihat orang lain lebih kaya. Kita marah melihat teman naik pangkat. Kita pusing melihat tetangga membeli mobil baru.

Mungkin ada yang belum mengetahui sifat kepiting. Para nelayan yang biasa berburu kepiting, selalu memasukkan hasil tangkapannya ke dalam baskom. Baskom tersebut tidak diberi penutup. Di dalam baskom, puluhan kepiting itu akan bergerak-gerak terus untuk mencoba keluar dari baskom. Masing-masing menggunakan capitnya sekuat tenaga untuk mencari pegangan agar dapat naik ke atas baskom. Saling dorong dan saling tarik membuat kepiting itu justru tidak bisa naik ke atas. Di saat ada satu atau dua ekor kepiting yang hampir berhasil keluar, teman-temannya yang berada di bawah akan berusaha menarik kembali kepiting tersebut ke dasar baskom. Capit yang kuat selalu digunakan untuk menarik sesama kepiting yang hendak lolos dari baskom. Begitulah seterusnya. Akibatnya, meski baskom terbuka lebar, tak ada satupun kepiting yang berhasil keluar. Itulah yang membuat para nelayan tidak pernah mau repot memberikan tutup untuk mencegah tangkapannya lari, karena tahu persis bagaimana sifat kepiting.

Tanpa disadari, terkadang manusia bertingkah laku seperti kepiting di dalam baskom. Saat ada seorang saudara/teman yang berhasil mencapai sebuah prestasi, yang seharusnya kita ikut berbahagia dengan keberhasilan itu--- kita justru merasa iri hati, marah, benci, tidak senang atau malahan berusaha menarik dan menjatuhkan saudara/ teman tersebut kembali ke bawah.

Apa sih yang membuat iri hati? Iri hati selalu terjadi karena membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan tidak senang karena keadaan orang lain lebih baik daripada dirinya. Selain ketidakpuasan akan hidup, iri hati juga bisa muncul karena perlakuan tidak adil yang dialami. Contohnya saudara-saudara Yusuf seperti dalam Kejadian 37:1-4, 12-28; idealnya, sesama saudara dalam satu keluarga hidup rukun dalam cinta dan persatuan. Namun karena perlakuan Yakub, sang ayah yang menganakemaskan Yusuf -- telah menimbulkan iri hati saudara-saudara Yusuf sehingga memadamkan rasa cinta terhadap saudara mereka Yusuf. Mimpi Yusuf yang menggambarkan bahwa saudara-saudaranya (dan juga orang tuanya) suatu kali akan menyembah Yusuf, menambah rasa iri hati dan kebencian mereka terhadap Yusuf. Pikiran, perasaan, sikap perilaku, perkataan dan perbuatan serta tindakan kita bersumber dari hati. Hati adalah seperti wadah, bisa menampung dan menyimpan apa saja; sampah, racun, air murni, bisa juga firman Tuhan atau hal-hal lain, entah yang baik maupun yang buruk. Jika hati seseorang dicemari dengan sampah dan limbah beracun seperti iri hati, kemarahan dan kebencian, maka ia sedang membiarkan masuknya dosa sehingga berkuasa atas hidupnya. Amsal 14:30 menyebutkan, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Pada akhirnya saudara-saudara Yusuf yang telah dikuasai oleh perasaan-perasaan negatif, melakukan perbuatan yang jahat dengan mencelakakan saudara  mereka Yusuf.

Sebaliknya, jika hati seseorang dipenuhi oleh kasih kepada Tuhan dan mensyukuri atas apa yang sudah diterimanya dari Tuhan, maka perkataannya, perilakunya, gaya hidupnya dan perbuatannya, mencerminkan kasih dan kebaikan. Melalui Mazmur 105:1-6; 16-22, pemazmur mengajak umat untuk; bersyukur kepada Allah (ay.1), mengingat penyertaan dan pertolongan-Nya (ay.5) dan  mempercakapkan (ay.2) perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya atas umat Israel. Maka apabila kita mampu menjalankan ketiga hal tersebut, apapun kondisi yang kita hadapi, kita dapat menjaga agar hati kita tidak tercemar oleh rasa iri hati.

Paulus dalam Roma 10:5-15 mengingatkan kita sebagai orang percaya yang telah memperoleh anugerah keselamatan melalui Yesus Kristus, kita diutus untuk menjadi saksi Injil. Karena itu, kita perlu terus mengupayakan karakter Kristus dalam diri kita, dengan tidak menyimpan rasa iri di dalam hati, supaya status sebagai saksi Injil akan benar-benar menghadirkan “kabar baik.”           

Bacaan Injil Matius 14: 22-33, mengajar kita untuk bersandar pada Sumber Pertolongan, yakni Allah – di dalam menjalani proses perubahan menjadi saksi Kristus yang tangguh. Dengan pertolongan Tuhan, kita percaya akan mampu menjalani peran kita masing-masing sebagai pengikut Kristus, yang memiliki sikap hidup bebas dari benih- benih iri hati.

Dalamnya laut dapat di ukur, dalamnya hati hanya Tuhan yang tahu. Amsal 4:23 menyatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan.” Hal ini berarti kitalah yang harus menjaga hati kita sendiri, bukan orang lain, dan juga bukan Tuhan. Standar Tuhan selalu hati, Tuhan melihat hati kita. Tuhan mengetahui isi hati kita. Jangan menyalahkan orang lain, keadaan, situasi, masa lalu, bahkan menyalahkan Tuhan, hanya karena ketidakmampuan untuk menjaga hati sendiri. Tuhan bisa memakai apa saja untuk menguji hati seseorang, entah perkara besar, perkara kecil, maupun sepele. Jangan sampai hati kita terjangkit penyakit iri hati, yang dapat memadamkan cinta kita kepada Tuhan, cinta kita kepada sanak keluarga dan kepada sesama. Marilah kita membuka hati kita, izinkan Tuhan masuk dan bertakhta di dalamnya, biarkan Tuhan membentuk hati kita, dan memimpin langkah kita dengan kasih karunia-Nya, kuasa-Nya dan anugerah-Nya, supaya kita mampu melakukan kehendak-Nya untuk menyelesaikan tujuan-Nya bagi hidup kita. 

Tuhan menyertai dan menolong kita.

 

Penulis : Pnt. Lisawati Thahir

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 19/XX/Minggu, 10 Agustus 2014 

 

 
Bergumul Bersama Tuhan, Berdamai dengan diri sendiri PDF Print E-mail
Written by Alfrest Zacharias   
Wednesday, 06 August 2014 07:03

Perhelatan Piala Dunia 2014 yang diselenggarakan di Brasil sudah selesai dan kita pun telah mengetahui kesebelasan yang menjadi juara dalam pertandingan sepakbola ini. Dari perhelatan olahraga ini, ada hal menarik yang dikemukakan oleh ketua FIFA. Beliau mengatakan bahwa Brasil sebagai tuan rumah sukses menyelenggarakan Piala Dunia yang berlangsung kurang lebih 1 bulan ini. Akan tetapi, di sisi lain ada keterpurukan yang harus dialami oleh tim “Samba”, yakni ketika mereka menerima kekalahan memalukan dari Jerman dengan skor 7-1. Menurut para pengamat bola, sesungguhnya ada atau tidak adanya Neymar (sang bintang) Brasil tetaplah Brasil, dan Brasil akan sukses jika mereka mampu mengalahkan diri mereka sendiri.

Tema minggu ini mengajak kita untuk mengerti dan memahami bagaimana pergumulan Yakub dengan Tuhan yang membuahkan kemenangan yaitu perdamaian Yakub dengan dirinya sendiri, yang semestinya juga memampukan kita untuk berdamai dengan diri sendiri melalui kesediaan bergumul bersama Tuhan.

Tak dipungkiri, tidak mudah bagi kita untuk berdialog dengan diri sendiri, walaupun ada kalanya hal itu perlu dilakukan. Oleh karenanya, kejujuran menjadi kunci bagi kita untuk mengungkapkan diri apa   adanya termasuk mengakui kelemahan, kekurangan, bahkan hal-hal yang sangat manusiawi yang dapat memengaruhi perjalanan kehidupan kita. Namun sungguh menyedihkan, kebanyakan dari kita memilih “lari” dari kenyataan itu, tidak jujur dengan diri sendiri dan mengambil sikap untuk menyalahkan orang lain.

Perjalanan spiritual Yakub dapat menjadi inspirasi kita untuk bisa berdamai dengan diri sendiri dan menang melalui pergumulan bersama dengan Tuhan. Bacaan I (Kitab Kejadian) menuliskan bahwa ketika berada di Haran, Yakub adalah seorang yang sukses dari “pelariannya”. Hal ini ditandai dengan banyaknya harta yang dimiliki, sampai-sampai Laban memintanya untuk memisahkan diri dan pergi dari tempat itu. Namun keberhasilan itu tidak dirasakan sebagai sukacita karena pengalaman hidup yang dialami Yakub. Sebelum pergi ke tempat Laban, Yakub adalah seorang pelarian dari keluarga karena ia telah menipu ayahnya Ishak dan kakaknya Esau. Pengalaman ini tidak dapat lepas dari ingatan Yakub, sehingga ada perasaan takut, kuatir dan menyesal dalam dirinya. Demikian juga ketika bersama dengan Laban, Yakub malah diperlakukan sebaliknya, ia ditipu hingga harus menunggu bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapatkan   Rahel sebagai istrinya.

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bagi Yakub. Ketika Esau hendak menemuinya, ia begitu takut sampai-sampai harus memindahkan keluarganya bahkan menyiapkan “upeti” sebagai tanda tunduk dan menghormati Esau. Namun sungguh indah, ketika itulah Tuhan hadir melalui Malaikat-Nya dan terjadilah pergumulan fisik yang melelahkan, hingga Tuhan melihat kekuatan Yakub dapat menjadi modal    baginya untuk berubah dari ketakutan yang mendalam menjadi pemberani dan percaya diri yang kuat. Karena kasih Tuhan dinyatakan kepadanya dan ia bersedia diubahkan, Yakub pada akhirnya mampu mengalahkan diri sendiri dan menemukan jati dirinya yang baru, termasuk perdamaian dengan Esau. Pengalaman Yakub masa lalu telah mengubah dirinya menjadi pemenang karena pergumulannya dilalui bersama dengan Tuhan.

Bagaimana sikap para murid Yesus ketika mereka melihat begitu banyaknya orang yang datang sementara hari menjelang malam? Mereka meminta dan menyuruh Yesus agar orang banyak tersebut pulang karena tidak ada makanan yang cukup bagi mereka. Bagaimana mungkin memberi makan kepada mereka, sementara semua datang tidak diundang? Keberatan-keberatan tersebut adalah sesuatu yang wajar. Itu pula yang dirasakan oleh para murid, sehingga jawaban “yang ada pada kami hanya lima roti dan dua ikan” merupakan jawaban yang logis dan tepat daripada mengatakan “pulanglah mengapa kami harus peduli kepada mereka, sementara kami sendiri punya kesusahan”. Perlu diingat beberapa murid Yesus adalah murid Yohanes Pembaptis yang belum lama meninggal dengan kepala dipenggal oleh Herodes sehingga meninggalkan rasa haru dan kesedihan yang mendalam. Alih-alih mendapat jawaban yang sesuai dengan keinginan para murid, Yesus justru memperlihatkan suatu pelajaran melalui perbuatan yang nyata “tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan”. Apa yang dinyatakan dan ditampakkan Yesus dirasakan sangat berbeda dengan kebiasaan dan kondisi saat itu. Yesus begitu mengasihi dan peduli kepada kebutuhan orang banyak, kendati sesungguhnya diri mereka pun juga harus diperhatikan. Teks Injil menuliskan bahwa dalam karya yang dilakukan-Nya, Ia melibatkan para murid melalui perbuatan nyata bagi hidup sesama meskipun dalam keterbatasan. Hanya lima roti dan dua ikan namun cukup untuk lebih dari lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak, mana mungkin itu terjadi jika bukan karena kasih?

Bersedia dan rela untuk bergumul dengan Tuhan dalam segala segi kehidupan memungkinkan kita untuk menjadi pribadi yang diubahkan, menjadi manusia yang berguna bagi kehidupan orang lain walaupun terkadang pada saat itu kita tengah berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Allah telah melakukan perbuatan yang nyata kepada Yakub, demikian juga dengan apa yang diajarkan Yesus kepada para murid, sehingga membuka mata hati kita sebagai anak-anak-Nya untuk memercayai Dia dengan sepenuh hati. Keputusan ada di tangan kita masing-masing, apakah kita mau menyesali namun tidak melakukan tindakan nyata atau kita mau menyerahkan pergumulan hidup kita kepada Tuhan dan bersedia untuk diubahkan sehingga bisa berdamai dengan diri sendiri untuk mencapai kemenangan bersama Tuhan.

 

“Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah;

sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.

Tunjukanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak”

 

 

Penulis : Alfrest Zacharias

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

 

No: 18/XX/Minggu, 03 Agustus 2014

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini11
mod_vvisit_counterKemarin30
mod_vvisit_counterMinggu Ini64
mod_vvisit_counterBulan Ini64
mod_vvisit_counterKeseluruhan66100

Login Form