ja_mageia

Pokok Doa (Sakit)
1. Dian Panglipuringtyas

   
    

 

    
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
Keputusanku Mengikut Yesus Rajaku PDF Print E-mail
Written by Budi Ichwan Soetarto   
Sunday, 23 November 2014 10:54

Mahatma Gandhi, seorang tokoh besar India, ajarannya didasari oleh perilaku hidup yang cinta damai dan anti kekerasan. Namun ironis ia tewas dibunuh oleh lawan politiknya. Walaupun ia dikenal sebagai pemeluk agama Hindu, tetapi Gandhi sangat mengagumi Yesus.

Setelah kematiannya, di rumahnya ditemukan buku-buku antara lain: buku kecil Injil Yohanes, khotbah di atas bukit, dan di depan dinding kamarnya terpampang gambar Tuhan Yesus dengan tulisan “Dia damai sejahtera kita.”

Suatu hari sahabatnya bernama Stanley Jones bertanya kepada Gandhi “Anda pengagum Yesus, mengapa tidak menjadi Kristen?” jawab Gandhi “benar saya pengagum berat Yesus, tetapi saya tidak suka pada murid-murid-Nya, munafik, tidak punya integritas..!”

Seperti dikatakan Pdt. Andar Ismail: “berpenampilan suci tapi bersikap dengki”. Inilah pelajaran mahal bagi kita pengikut Kristus. Jangan lagi terulang menjadi batu sandungan, yang gampang berucap “cinta Yesus” tetapi lakunya berbeda. Kita dituntut harus serupa dengan Yesus, baik dalam berpikir maupun berperasaan. Karena melalui laku kitalah, orang lain melihat Yesus.

Yehezkiel sebagai nabi Allah mengabdikan hidupnya untuk melayani umat Israel. Ia mengajak umat untuk bertobat, mau mengakui kesalahan dan kembali menyembah Allah. Sebagai Raja dan Gembala sejati, Allah mau mencari umat yang terhilang, menyelamatkan mereka yang tersesat dan menggembalakan umat menuju hidup sejahtera.

Allah juga memilih, mengangkat serta memercayakan Daud sebagai raja sekaligus gembala bagi bangsa Israel. Daud melaksanakan tugasnya dengan baik (Yeh 34:11-24). Dalam kesaksiannya Daud berkata “Allahlah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, karena itu kita patut bersyukur dan memuji Allah (Maz 100)

Sebagai pengikut Yesus, sudah semestinya kita bersikap bagaikan gembala yang memiliki hati yang mau menghadirkan hidup untuk orang lain. Dalam hal ini, Yesus pun bukan hanya mau mengandalkan kita sebagai murid-murid-Nya, tetapi Tuhan juga menghendaki kita sungguh-sungguh mengandalkan Yesus dalam menjalani kehidupan ini, mengingat Yesus sebagai gembala sejati, yang telah memberikan nyawa-Nya untuk kita domba-domba-Nya (Ef 1:15-23). Teladan Yesus mendorong kita untuk berempati dan berkorban bagi sesama kita.

Saat ini kita tengah menantikan kedatangan-Nya kembali sebagai bukti dan penggenapan bahwa Ia sungguh-sungguh sebagai Raja dan      Gembala sejati (Mat 25:31-46). Lebih lanjut bagaimana kita sebagai murid-murid Yesus siap menjadi domba-domba-Nya yang setia dan rela menderita bersama Yesus serta bersikap sebagai gembala yang baik terhadap mereka yang lapar, haus, sakit, bahkan telanjang. Tidak perlu khawatir karena Roh Kudus siap menolong kita, sehingga kita mampu melaksanakannya dan juga untuk hidup berintegritas (terpadunya antara pikiran, ucapan dan perilaku)

Melalui bacaan leksionari minggu ini, kita diingatkan bahwa sesungguhnya Firman Tuhan itu bagaikan cermin yang memberi petunjuk akan apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan tidak benar, sehingga olehnya kita disadarkan, diingatkan untuk tidak melanggar   firman-Nya. Jangan seperti si iblis dalam cerita legenda Tiongkok: “ketika melihat cermin, nampak wajahnya yang jelek, menyeramkan, ia malah kabur lari tunggang langgang sambil cerminnya dibanting.”

Sesungguhnya yang Tuhan mau ketika ada yang tidak beres dalam diri kita maka wajib kita mengubahnya menjadi baik, karena itu manusia yang penuh kelemahan ini memerlukan dan membutuhkan pimpinan serta belas kasih dari Tuhan. Jika selama ini kasih Tuhan telah kita terima dan rasakan dengan berbagai pertolongan-Nya yang tak pernah kita duga sebelumnya, itulah yang kita yakini bahwa Tuhan menolong tepat pada waktunya.

Menjadi murid Yesus berarti kita siap diproses untuk tumbuh menjadi dewasa dalam iman, yang kemudian akan tampil beda, baik dalam keadaan susah maupun senang, serta senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Fanny Crosby pernah berkata “mata yang paling tajam melihat kebaikan Tuhan adalah hati yang bersyukur”. Oleh karenanya mari jadikan Yesus sebagai kompas hidup kita. Karena di sanalah kita menemukan ketenangan hidup dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Amin.

 

Penulis: Budi Ichwan Soetarto

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 34/XX/Minggu, 23 November 2014 

 

 
BILA TUHAN MENGUTUS PDF Print E-mail
Written by Ricky Frans Lisal   
Saturday, 15 November 2014 11:49

Pada zaman modern ini, banyak orang kesulitan menjalankan firman dan kehendak Tuhan. Banyak orang merasa bahwa mereka tidak dapat melaksanakan firman Tuhan dalam hidup dan memilih untuk bertindak bukan seturut firman. Kita menolak firman Tuhan dengan alasan praktis, seperti takut waktu berkurang, takut hubungan dengan sesama terganggu, tidak menguntungkan dan banyak kesulitan lainnya. Ego memancing kita untuk mengarah hanya pada diri sendiri dan tidak dapat melihat orang lain. Keraguan seringkali nyata dalam hidup manusia. Meragukan kebaikan yang akan terjadi saat mengerjakan firman-Nya, dan kerap bertanya, apakah kita mampu melakukan itu?

Perikop sebelumnya dan minggu ini, Ehud menolong dan memulihkan kehidupan bangsa Israel yang berlaku menyimpang itu. Tuhan menyertai Ehud untuk mengalahkan Eglon, penguasa Moab. Namun setelah Ehud mati, mereka kembali melakukan hal jahat di mata Tuhan. Karenanya, Tuhan kembali mengingatkan mereka melalui hukuman dengan menyerahkan Israel ke tangan Yabin. Israel berseru meminta pertolongan Tuhan untuk membebaskan mereka. Tuhan pun mendengar dan mengutus nabiahnya, Debora yang menuruti perintah Tuhan. Hal ini menunjukan bahwa Tuhan selalu menyertai setiap orang yang bersedia hidup di jalan-Nya.

Dalam injil Matius 25:14-30, mengambarkan perumpamaan tentang talenta. Sang Tuan menyimbolkan Allah, mengutus dan memberi kepercayaan pada umatnya. Sang Tuan berkehendak bahwa para hamba ini mengerjakan tugas itu. Hamba yang baik berkomitmen, mengerjakan tugas dengan kerja keras dan pantang menyerah. Hamba yang jahat kehilangan semangat, talenta yang sedikit membuatnyanya lemah, menyerah karena merasa tidak diperlengkapi dan tidak berpengharapan.

Bacaan Tesalonika 5:1-11 mengatakan kedatangan Tuhan dan konsekuensinya, akan datang secara tiba-tiba. Untuk menyongsong hari itu, seseorang harus berjaga-jaga, dan secara sadar mempersiapkan diri  dengan hidup dalam terang, bukan dalam kegelapan. Kita diajak untuk tetap beriman, menyatakan kasih, berpengharapan teguh, membuang keraguan akan penyertaan Tuhan, dan hidup dalam keselamatan yang telah diberikan, dengan menjaga kekudusan dalam firman-Nya.

Apakah kita sudah menjalankan tugas iman dan perutusan dari Tuhan dalam hidup kita? Dalam pengutusan, satu keyakinan kita bahwa beriman berarti menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam kuasa Tuhan, membiarkan Tuhan sendiri yang berkarya di dalam hidup kita, dan selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Ia akan memperlengkapi utusan-Nya dengan segala hal yang diperlukan.

Marilah kita saling mengingatkan, menguatkan dan mengenakan teladan Kristus dalam kehidupan kita. Selamat hari minggu, Tuhan senantiasa memberkati kita.

 

Penulis : Ricky Frans Lisal

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 33/XX/Minggu, 16 November 2014

Last Updated on Saturday, 15 November 2014 11:51
 
MENGAPA MELAYANI? PDF Print E-mail
Written by Pnt. Linda Silvana Pinontoan   
Saturday, 08 November 2014 09:55

Pertanyaan di atas seringkali menjadi sebuah pertanyaan retoris. Pertanyaan yang rasanya tidak perlu kita jawab. Pertanyaan yang seringkali kita anggap semua orang tahu jawabannya. Jika demikian, marilah kita melihat pertanyaan ini sebagai sebuah pertanyaan reflektif. Pertanyaan yang kita ajukan kepada diri kita sendiri.

Melayani, memiliki arti membantu, melakukan sesuatu untuk orang lain. Melayani --- pelayanan, adalah sebuah kata yang selalu ada dalam hidup kita sehari-hari, bahkan sangat tidak asing dalam lingkungan gereja.

Sebagian dari kita adalah aktivis gereja, baik itu sebagai Majelis Jemaat, komisi, peserta paduan suara, penyambut umat, atau peran-peran    gerejawi lainnya, bahkan umat yang duduk mengikuti kebaktian, kita semua ada dalam situasi melayani. Kita sedang melayani Tuhan melalui pelayanan kita terhadap sesama. Keluar dari lingkungan gereja tidak membuat kita secara otomatis berhenti melayani. Sadar atau pun tidak, kita terus dalam keadaan melayani. Di rumah dan keluarga, setiap kita akan saling melayani, orang tua melayani anak dan sebaliknya, sesama anggota keluarga akan selalu saling melayani. Saat kita ada dalam    lingkungan pekerjaan, kita pun terus melayani, entah itu atasan kita, rekan kerja kita, client kita, siapa pun yang berinteraksi dengan kita ada dalam pelayanan kita.

Dengan demikian, melayani bukanlah sebuah pilihan. Dalam menjalani hidup ini, kita akan selalu melayani pihak lain -- membantu orang lain, melakukan sesuatu untuk orang lain. Lalu, di mana istimewanya sikap melayani itu? Jika kita semua memang sudah seharusnya melayani? Perbedaan sebuah sikap melayani adalah pada motivasi atau dasar dari dilakukannya sebuah tindakan melayani. Pelayanan dalam keseharian kita, baik dalam kehidupan rohani, maupun sekuler, akan menjadi lebih bermakna dan berkualitas jika memiliki dasar yang benar.

Bacaan leksionari kita minggu ini sekilas memang tidak menyinggung tentang melayani, namun jika kita renungkan dengan seksama, maka bisa ditarik sebuah benang merah dari apa yang ditawarkan Yosua   kepada umat Israel (Yosua 24), apakah akan memilih setia kepada Allah atau berpaling kepada allah-allah lain; pengajaran Mazmur 78, agar tetap berharap pada Allah karena telah mengalami bukti pemeliharaan Allah di masa lalu, kemudian surat pastoral Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 4 yang dikirim kepada mereka yang berdukacita karena ditinggalkan orang terkasih, agar tetap berpengharapan dalam Tuhan; hingga dalam Matius 25 tentang perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh  dalam masa penantian. Sedikitnya ada tiga hal yang bisa kita renungkan melalui rangkaian leksionari ini. Pertama, kita melayani karena Allah terlebih dahulu mengulurkan tangan-Nya melayani kita. Pelayanan kita adalah membalas kebaikan Allah. Kedua, karena kasih  karunia-Nya, Allah mengikat perjanjian dengan kita untuk menjadikan kita rekan kerja-Nya, dan kita bertanggung jawab merespons ajakan Allah ini dengan melayani. Ketiga, melayani merupakan wujud kasih kita karena telah dibarui oleh keselamatan dari Allah. Melalui   renungan minggu ini, mari kita menilai pelayanan kita masing-masing, di mana pun tindak melayani itu dilakukan. Dengan motivasi melayani yang terarah kepada Allah, maka melayani tidak sekedar rutinitas yang memang sudah seharusnya kita lakukan, sekedar sebuah kewajiban. Melayani menjadi suatu pengalaman spiritualitas yang bermakna.

Mengapa melayani?

Biarlah setiap kita menjawabnya secara pribadi, dan jawaban itu mewujud dalam hidup melayani kita yang penuh makna.

 

Selamat melayani. Roh Kudus memampukan kita.

 

Penulis: Pnt. Linda Silvana Pinontoan

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 32/XX/Minggu, 9 November 2014 

 
TEKNOLOGI, ALAT UNTUK PELAYANAN PDF Print E-mail
Written by Supardjo   
Saturday, 01 November 2014 08:25

Hidup dalam masyarakat era canggih saat ini sering terdengar anekdot: ”lupa bawa dompet tidak masalah, lupa bawa gadget balik lagi ke rumah”. Memang kedengarannya lebay, namun inilah kenyataan sekitar kita. Bagi anak-anak, dunia digital saat ini sudah seperti “bahasa ibu yang kedua”. Tanpa diajari, mereka sudah pintar menggunakan perangkat digital yang dimilikinya. Berbeda halnya dengan orang dewasa yang harus berupaya “melek teknologi digital” agar tidak kerepotan dengan gaptek-nya.

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna “imago Dei”, yang berarti diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Ini berarti bahwa manusia diberi kelebihan berupa anugerah akal dan pikiran, berbeda dengan makhluk ciptaan yang lainnya. Dengan     kelebihan tersebut, manusia dapat menciptakan karya yang berguna bagi kelangsungan hidupnya. Teknologi (techne: cara, logos: pikiran) adalah salah satu hasil karya dari proses berpikir manusia. Perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi, saat ini semakin canggih bahkan menimbulkan decak kagum bagi kita. Kemajuan teknologi ini adalah karunia Tuhan yang seharusnya dimanfaatkan dengan bijaksana sesuai hakikatnya, sehingga tidak terjadi penyalahgunaan atau terjadi dampak negatif yang tidak layak.

Firman Tuhan dalam Mazmur 107:1-3 menyatakan: ”Bersyukurlah kepada Tuhan karena Ia baik. Bahwasanya untuk selamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Yang dikumpulkan-Nya dari neg’ri dari timur, barat, utara, selatan”. Apa yang dituliskan dalam mazmur syukur ini kiranya menjadi pengingat diri (self reminder) kita sebagai orang-orang yang telah ditebus Tuhan Yesus Kristus dalam memperlakukan teknologi. Sikap dan etika kita ketika mempergunakan teknologi informasi semestinya dicerminkan dalam manfaat:

 

  1. Teknologi dipakai untuk melayani Tuhan, untuk tujuan kemuliaan-Nya. Bukan untuk melayani teknologi itu sendiri hingga kecanduan dan lupa diri. 
  2. Teknologi dipakai sebagai alat pembelajaran (mengembangkan akal dan talenta dari Tuhan) dan untuk menumbuhkan kerohanian kita. Teknologi menyajikan banyak informasi yang mendidik dan sebaliknya informasi yang tidak atau kurang mendidik (informasi “sampah”).
  3. Teknologi adalah berkat anugerah Tuhan, dipakai agar menjadi berkah bagi kita sendiri dan menjadi berkah bagi banyak orang; bukan sebaliknya menjadi batu sandungan.

 

 

Kiranya bimbingan Roh Kudus memampukan kita untuk menggunakan teknologi dengan bijaksana. Amin.

 

Penulis : Supardjo

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra1

 

No:31/XX/Minggu, 2 Nopember 2014

 
TEKNOLOGI, SARANA UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA PDF Print E-mail
Written by Pdt. Gloria Tesalonika   
Saturday, 25 October 2014 04:26

Suatu kali saya membaca sebuah berita di detikNET yang isinya sungguh amat mengejutkan. Saya kutipkan isi berita tersebut:

Sungguh tak dapat diterima oleh akal sehat kelakuan remaja ini. Hanya gara-gara pemutar musik iPod-nya disita oleh orangtua, ia nekat menganiaya ayah dan ibunya hingga meregang nyawa.

Remaja bernama Vincent Parker itu baru berusia 16 tahun dan bermukim di rumah orang tuanya di Norfolk, Amerika Serikat. Sepertinya, ia sangat hobi memainkan iPod (pemutar media digital) sehingga merasa marah karena orangtuanya tiba-tiba menyita benda itu dari tangannya.

"Aku hanya ingat menjadi begitu marah. Semua ini karena ayah. Dia suka mengambil benda-benda milikku seperti iPod," kata Vincent di pengadilan, seperti dikutip detikNET dari NYDailyNews, Senin (6/6/2014).

Vincent adalah anak tunggal dan sebenarnya berstatus murid teladan di Norview High School. Pada hari pembunuhan itu, dia bertindak di luar akal sehat. Ibu kandungnya dia tusuk dan pukul berkali-kali dengan tongkat bisbol. Beberapa saat kemudian, ayahnya pulang ke rumah. Vincent pun langsung menyerangnya dan menusuk berkali-kali. Dalam keadaan sekarat, sang ayah berhasil menelepon aparat.

Polisi datang dan sang ayah masih bisa menceritakan apa yang terjadi. Dia meninggal bersama istrinya di rumah sakit, di tangan anak kandungnya sendiri. Atas perbuatannya itu, Vincent terancam    hukuman berat.

Berita ini tentu amat memprihatinkan. Seorang anak nekad membunuh ayah dan ibunya hanya karena kecintaannya yang berlebih terhadap alat teknologi yang dimiliki. Inilah wajah ganda teknologi. Selain memberi dampak yang positif, teknologi dapat memberi dampak yang negatif yaitu rusaknya relasi dan kasih kita dengan orang-orang terdekat, termasuk dalam hal ini keluarga. Teknologi dapat membuat seseorang bisa melakukan beragam cara bahkan yang melampaui akal sehatnya, yang tentu saja tidak diindahkan Allah, seperti tindakan ekstrim seorang Vincent Parker.

Tak dipungkiri, perkembangan dunia modern saat ini dapat mengikis kasih kita kepada Allah dan sesama. Kita mengabaikan hal-hal yang sepatutnya dan sepantasnya kita lakukan sebagai umat Tuhan, karena terpukau dengan apa yang ditawarkan oleh dunia, dan hanya mencari kepuasan untuk diri sendiri. Sungguh menyedihkan, tindakan yang kita lakukan kerapkali tidak mencerminkan kasih yang diteladankan Allah kepada kita. Sebuah statement dengan tajam pernah mengatakan bahwa agama hanya menjadi slogan kosong dan menjadi pelengkap, sementara materi yang dimiliki, dan jabatan yang melekat padanya, menjadi yang terutama. Pergumulan ini tentu tak dapat dibiarkan berlarut. Kita perlu menyikapi secara bijak tentunya dalam terang Firman Tuhan, perkembangan dunia modern termasuk di dalamnya perkembangan teknologi.

Ketika diciptakan, teknologi bersifat netral. Manusialah yang kerapkali menempatkan melebihi apa yang seharusnya. Oleh karena itu penting bagi kita untuk bersikap arif dan kritis terhadap pemanfaatan teknologi yang ada. Kalau dalam kisah Parker kita menyaksikan bagaimana penggunaan teknologi yang tidak pada tempatnya dapat merusak relasi kasih dalam keluarga bahkan juga dengan Allah, maka melalui tema Minggu ini kita justru diingatkan hal sebaliknya. Teknologi semestinya menjadi sarana yang positif bagi kita untuk mengasihi Allah yang diwujudkan dalam kasih kita kepada sesama termasuk orang yang terdekat dengan kita yaitu keluarga. Bagaimana hal ini dapat dikonkretkan? Sederhana, ketika kita bersedia berbagi kasih dan kepedulian antar anggota keluarga. Kita memanfaatkan teknologi secara positif sebagai sarana berkomunikasi untuk memperat tali persaudaraan di antara anggota keluarga. Melalui teknologi aktivitas berkomunikasi memudahkan kita untuk saling berelasi antar anggota keluarga, kendati terpisah jarak yang jauh sekalipun. Tidak hanya itu, bersedia berbagi kasih juga tampak manakala kita bersedia menyediakan waktu terbaik di tengah kesibukan kita untuk saling menguatkan dan menopang antar anggota keluarga. Melalui hal-hal kecil namun dilakukan dengan cinta yang besar inilah, maka diharapkan keluarga kita dapat terus menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekelilingnya. Dasarnya hanya satu yaitu kasih yang dipraktikkan secara nyata.

Injil Matius 22:37-39 yang menjadi bacaan leksionari Minggu ini menuliskan bahwa panggilan kita di tengah dunia adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Apa makna perkataan Yesus tersebut? Yesus hendak mengatakan bahwa kasih kepada Allah yang kemudian mewujud dalam kasih terhadap sesama merupakan inti utama dalam iman Kristiani. Ketika kita kehilangan kasih yang tampak dalam tindakan nyata itu, maka semua yang dimiliki dan semua yang dilakukan tidaklah berarti. Ini pula yang dinyanyikan setiap minggu oleh kita, dalam lagu tema Bulan Keluarga 2014 “Kasih”.

Kasih tak sekedar kata-kata semata, Ia nyata dalam perbuatan sehari-hari

Kasih lebih dari segala hidup dan harta Ia menolong mereka yang lemah dan tak berdaya

 

Walau s’luruh dunia, engkau miliki tanpa kasih tiadalah berarti

Walau s’luruh hidupmu engkau dapati Tanpa kasih tiadalah berarti

Sikap Yesus yang meletakkan kasih sebagai sifat satu-satunya yang sah bagi pelaksanaan Taurat, merupakan koreksi total dari pelaksanaan Taurat yang dilakukan umat Allah pada umumnya –bahkan oleh kaum Farisi sekalipun- yang diwarnai dengan pamrih dan sikap transaksional yang jauh dari sikap tulus. Yesus menghendaki agar kasih yang murni, kasih yang tidak menuntut balas dan mengharapkan sesuatu yang terus perlu dikembangkan dalam hidup kita. Tentu tidak mudah, namun perlu terus diupayakan. Kita meyakini penyertaan Tuhan senantiasa menolong dan memampukan kita untuk melakukannya.

Akhirnya, selamat merenungkan dan menyatakan kasih Kristus di tengah dunia dimana Saudara berada.

Tuhan Memberkati.

 

Penulis: Pdt. Gloria Tesalonika

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 30/Minggu, 26 Oktober 2014 

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 2 guests online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini5
mod_vvisit_counterKemarin9
mod_vvisit_counterMinggu Ini89
mod_vvisit_counterBulan Ini525
mod_vvisit_counterKeseluruhan68189

Login Form