ja_mageia

Pokok Doa
 1. Bangsa & Negara
 2. Gereja-gereja di Indonesia
 3. GKI Perumahan Citra1
     - Kesatuan hati (MJ/BP/Aktifis)
     - Kerinduan umat utk melayani
4. Panitia Bulan Keluarga 2015 
5. Panitia Pencalonan Penatua
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
Hidup Bergairah dalam Sukacita dan Kegembiraan Tuhan PDF Print E-mail
Written by Pnt. Onnie J. Manuhutu   
Saturday, 29 August 2015 09:55

Bergairah dalam sukacita merupakan hal penting untuk membangun karakter yang kuat dan tangguh serta merupakan gaya pola hidup yang sehat karena “Hati yang gembira adalah obat manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Firman ini sering kita dengar dalam khotbah minggu di gereja. Umat yang mempunyai hati yang gembira, pasti akan bersukacita dan memiliki semangat hidup. Tidak hanya itu, dengan hidup bersukacita, pekerjaan, pelayanan dan kehidupan kita menjadi bermakna.

Hidup orang Kristiani adalah hidup yang dipenuhi dengan sukacita. Kita bersyukur dan bersukacita karena iman kita berakar kuat di dalam Allah, dan optimisme kita didasarkan pada keyakinan bahwa hidup kita ada di bawah kendali-Nya yang bijaksana. Karenanya menjadi sebuah keprihatinan apabila ada orang Kristen yang belum dapat memahami dan memaknai sukacita ini. Kita perlu merenungkan perjalanan iman kita bersama dengan Tuhan. Iman kita di dalam Kristus adalah iman yang terus mempersaksikan betapa mulianya kasih Kristus yang mengiringi perjalanan hidup kita. Iman inilah yang disebut iman sejati. Murid Yesus yaitu Paulus terlebih dahulu telah merasakan dan mengalaminya. Paulus adalah seorang Yahudi yang taat, ia sangat beriman bahkan menjadi pembela iman yang luar biasa. Namun kesaksian Firman menuliskan bahwa Paulus adalah seorang yang menganiaya jemaat Tuhan. Akan tetapi perjumpaannya dengan Kristus mengubah hidupnya. Sejak mengenal Kristus, ia baru mengetahui bahwa bukanlah aktivitasnya melainkan isi imannya yang membuat dia sadar bahwa dia telah mendapatkan sesuatu yang mulia.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu hidup seturut dengan apa yang Tuhan kehendaki. Kita diingatkan untuk mengendalikan diri, memiliki hati yang bersih dan menjalankan Firman Tuhan yang benar. Amsal 4:23 menasihatkan, “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”. Hati adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia terlebih bagi orang percaya, karena hidup berkenaan kepada Tuhan atau tidak, sangat bergantung pada apa yang ada pada di hati kita. Injil Markus 7:23 menuliskan dengan jelas bahwa segala pikiran dan perbuatan jahat bersumber dari hati. “Semua hal-hal yang jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” Orang Farisi memakai tradisi cuci tangan sebelum makan untuk menilai kekudusan orang lain. Kerohanian seseorang tidak ditentukan oleh hal-hal demikian, itu adalah masalah hati. Kenajisan dianggap dari luar, karena tidak cuci   tangan, padahal kenajisan itu berasal dari dalam hati, karena dari situlah banyak terjadi pencemaran.

Iblis pun tahu bahwa keadaan hati manusia sangat menentukan jalan hidupnya. Oleh karenanya iblis berusaha untuk menyerang dan memengaruhi hati manusia dengan hal-hal negatif dan menjadikan hati sebagai “sasaran empuk”. Ketakutan, kebencian, dan hal negatif sebagainya adalah hal-hal yang seringkali dimanfaatkan iblis hingga manusia menjadi lemah, putus-asa, kehilangan sukacita dan damai sejahtera. Tanamkan dalam hati kita masing-masing betapa pentingnya hati yang bersyukur kepada Allah untuk segala kebaikan Allah. Ajarkan juga di dalam keluarga menabur benih firman Tuhan karena kita adalah Garam dan Terang Dunia.

Tuhan Yesus senantiasa mengingatkan kita untuk menjadi pelaku firman-Nya. Ini adalah salah satu keteladanan hidup menjadi sukacita yang Tuhan kehendaki. Apabila kita hanya cakap mendengar firman-Nya tetapi kebenaran-Nya tidak membuat hidup    spiritualitas kita bertumbuh, maka kita menipu diri kita sendiri. Hal ini tentu menjadi perenungan dan refleksi kita bersama. Alangkah indahnya jika kita menjadi pelaku firman-Nya dan menjadi teladan bagi sesama, serta dapat dinikmati buah-Nya melalui perilaku hidup kita.

Akan tetapi persoalannya adalah apakah kita bersedia melakukannya atau justru sebaliknya? Ada perbedaan antara orang yang melakukan firman Allah dan yang tidak melakukan. Sebuah ilustrasi sederhana menolong kita semua. Di dalam pertandingan sepakbola, jumlah pemain yang terlibat 11 orang, sementara penontonnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan orang. Penonton sepakbola tidak tahu bagaimana membuat gol karena status sebagai penonton. Tidak demikian dengan mereka yang menjadi pemain. Pemain sepakbola bisa membuat gol, memenangkan pertandingan, dan menjadi juara. Demikian hidup kita, janganlah hanya tahu tentang kebenaran tetapi menjadi pelaku kebenaran atau hidup dalam kebenaran. Memang tidak mudah menjalankan firman Tuhan namun ini tidak berarti ita tidak bisa menjalankannya. Jangan seperti orang Farisi di mana mereka mengerti hukum-hukum Allah tetapi tidak pernah melakukannya, sehingga mereka terbatas pada pengetahuan saja.

Firman Tuhan di Mazmur 45 adalah penggambaran keadaan yang penuh dengan sukacita karena sang Raja Israel mengadakan pesta pernikahan. Sosok raja yang takut akan Tuhan, yang kemuliaannya dimunculkan dengan kebenaran, kemanusiaan dan keadilan, dan yang diurapi Tuhan. Ibarat seorang permaisuri raja yang meninggalkan masa lalu dan bertekad melayani raja, kita pun harus meninggalkan cara hidup lama dan dengan sukacita membangun tekad untuk mengutamakan Tuhan. Sesungguhnya Mazmur ini hendak menggambarkan gereja Tuhan yang adalah mempelai wanita Kristus. Kualitas mempelai pria yaitu Kristus sendiri yang diurapi oleh Allah untuk memimpin umat-Nya. Umat Tuhan seharusnya mampu melahirkan manusia-manusia yang diurapi oleh Tuhan untuk membangun kerajaan-Nya di seluruh aspek kehidupan, termasuk di mana kita berkarya.

Marilah kita bersyukur atas anugerah Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus dan menjadikan hidup kita ini bergairah dalam sukacita serta kegembiraan. Tuhan memberkati. Amin.

 

Penulis: Pnt. Onnie J. Manuhutu

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra1

No: 22/XXI/Minggu, 30 Agustus 2015 

 

 
PENATUA (2): MEMILIH ATAU DIPILIH? PDF Print E-mail
Written by Pnt. Josephus Hadi Sucianto   
Tuesday, 25 August 2015 03:15

Kita diperhadapkan dengan pelbagai pilihan dalam hidup ini,    konon, sepanjang hayat dikandung badan. Mulai dari pagi hari “buta” sampai dengan malam hari “gelap”. Saat bangun tidur di pagi hari kita sudah harus memilih: mau melanjutkan mimpi atau segera bangun? Kalau memilih segera bangun, tersedia pilihan kembali:  mau cuci muka lalu makan pagi atau gosok gigi atau bersaat teduh dahulu? Pilihan-pilihan itu terus datang silih berganti tanpa kita perlu peduli menghitungnya, berapa pilihan yang sudah berlalu dan berapa lagi yang akan datang. Memakai kemeja merah atau blus kuning? Mengenakan sepatu tertutup atau sandal terbuka? Mau makan siang di resto A,      pujasera B atau di kaki lima C? Tak terhindari, ada begitu banyak pilihan yang tersedia namun pada akhirnya kita tetap harus memilih satu atau beberapa di antaranya.

Dalam Injil Lukas 10:38-42, diceritakan Yesus dan murid-muridnya sedang dalam perjalanan dan tiba di sebuah kampung. Ia kemudian memilih mampir di rumah seorang perempuan bernama Marta yang memiliki saudara bernama Maria. Marta memilih “bersibuk ria” melayani Yesus, memberikan yang terbaik dari makanan, minuman, sajian, layaknya pelayanan “first class” sebagai bentuk perhatian dan kasihnya kepada Yesus. Sementara itu, Maria memilih duduk di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan apa yang disampaikan-Nya, sebagai bentuk perhatian dan kasihnya juga kepada Yesus. Manusiawi dan wajar saja bila kita melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Marta, siapa sih yang tidak mau memberikan pelayanan terbaik kepada tamu “besar” dan terhormat di rumah kita? Apakah kita akan membiarkan tamu kita berbicara terus dan kita mendengarkannya tanpa menyuguhkan segelas minuman segar beserta setoples camilan? “Bisa-bisa” kita ditegur oleh istri/suami atau mertua kita? Itulah yang dilakukan oleh Marta. Ia ingin menegur Maria sambil meminta “dukungan” Yesus. Tetapi apa yang dikatakan Yesus kepadanya? "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (ayat 41-42).

Menentukan mana yang harus dipilih, seperti halnya yang    dilakukan oleh Marta dan Maria, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apa yang “baik” menurut pemandangan manusia, belum tentu di mata Tuhan. Oleh karenanya kita membutuhkan hikmat dan kebijaksanaan dari-Nya, agar pilihan kita seturut dan menurut kehendak Allah.

Dalam beberapa minggu ke depan ini, mungkin saja, kesempatan memilih itu “mampir” kepada saudara. Memilih “menerima” atau memilih “tidak menerima” menjadi penatua, dengan kehendak bebas sepenuh-penuhnya. Melihat dan membaca syarat-syarat, tugas dan tanggung jawab, serta kupasan Pdt. Danny Purnama di dalam buku Pencalonan Penatua tahun pelayanan 2016-2019, jangan “buru-buru” memberikan jawaban, “rasanya, ….. saya belum layak dan sanggup!”

Kesempatan memilih ini perlu digumuli dan didoakan dengan baik. Sebab di dalam memilih, sesungguhnya ini berarti bahwa kita juga dipilih oleh-Nya. Firman Tuhan dalam Yohanes 15:16 menuliskan jelas: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Selamat dipilih dan memilih. Tuhan menolong dan memberkati.

 

 

Penulis: Pnt. Josephus Hadi Sucianto

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra1

No: 21/XXI/Minggu, 23 Agustus 2015 

 

 
PENATUA (1): PELAYANAN ATAU BEBAN? PDF Print E-mail
Written by Pnt. Josephus Hadi Sucianto   
Sunday, 16 August 2015 07:48

Setiap tahun para petani berharap sawah atau ladangnya menghasilkan tuaian yang baik. Namun kenyataannya, walaupun pengolahan tanah telah “modern”, bibitnya “unggul”, pupuknya “top” dan cara pengairannya “canggih”,  dengan perubahan cuaca yang “ekstrim”, terkadang atau seringkali hasilnya “minimalis” bahkan kurang sesuai dengan harapan. Apa yang digambarkan, tidak bermaksud menyandingkan kondisi tersebut dengan kegiatan bulan ini yang mulai memasuki kalender pemilihan penatua.

Menjadi penatua, acapkali dikonotasikan menjadi orang yang “penat” dan “tua”. Disebut “penat”, karena ia harus melakukan tugas pelayanan di mana pun dan kapan pun. Apalagi GKI menganut nilai kolektif-kolegial, di mana keputusan diambil secara bersama-sama sebagai sebuah tim. Dapat dibayangkan banyaknya pertemuan/rapat untuk membuat suatu keputusan yang strategis dan penting. Sedangkan disebut “tua”, selain faktor fisik dan usia juga faktor “stress” menghadapi “deadline” atau “tugas memimpin”. Di satu sisi penatua dituntut mempunyai karakter seorang pemimpin (tegas, mandiri, dapat bekerja sama dengan orang lain, berpikiran maju, juga kreatif), sementara di sisi lainnya mempunyai karakter seorang pelayan (rajin, jujur, ramah, rendah hati, tidak mudah mengeluh, dapat dipercaya, dan siap menjalankan misi sang tuan). Ia menjadi pemimpin yang melayani sekaligus menjadi pelayan yang memimpin. Menjadi penatua berarti menerima tugas menjadi pelayan, seperti yang disampaikan dalam Mat 20:28, ”… sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Menjadi penatua berarti juga ada “beban” yang harus dipikul. “Pikulan” berupa tugas, tanggungjawab, serta komitmen yang harus terus-menerus dipegang dan dijaga seumur hidup (pun bila ia sudah tidak lagi berjabatan penatua, contohnya: rahasia jabatan). Beban dapat berarti “negatif” yang akan menurunkan dan membuyarkan motivasi, semangat, daya juang, apalagi bila ditambahkan dengan pelbagai terpaan dan godaan “roh zaman”, laksana perubahan cuaca ekstrim yang akan menggagalkan panenan. Namun, beban dapat juga berarti “positif”, seperti seorang petinju yang terus belajar dan berlatih agar mendapat stamina yang prima. Untuk dapat bertahan selama lima belas ronde di atas ring, ia harus berlatih dengan disiplin, teratur dan mengikuti arahan dari sang pelatih. Ia belajar teknik bertinju mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. Analogi ini mengajak kita melihat keberadaan seorang Penatua. Penatua bukan petinju dan tidak diharapkan menjadi petinju, tetapi ia dapat belajar bak seorang petinju. Inilah yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 9:26-27, ”Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Seorang penatua melakukan pelayanan sesuai dengan teladan Kristus. Ia juga mendapat beban tugas dan tanggung jawab, yang menjadikannya makin bertumbuh dalam kedewasaan iman dan menjadi pemimpin yang melayani. Bila dilakukan dengan kekuatan dan kemampuan diri sendiri tentu hal ini sulit dan terasa berat. Namun bersama dan di dalam Kristus, diiringi dukungan anggota Majelis Jemaat lain, keluarga, umat pada komunitas gereja, maka beban akan terasa lebih ringan. "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati.

 

Penulis: Pnt. Josephus Hadi Sucianto

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan  Citra 1

No: 20/XXI/Minggu, 16 Agustus 2015 

 

 
JADILAH PENURUT-PENURUT ALLAH PDF Print E-mail
Written by Pdt. Gloria Tesalonika   
Saturday, 08 August 2015 23:42

De, belajar ya besok ulangan!

Aduh mi, nanti aja… Mami ngga liat aku lagi asyik main games?

Udah mau finish nih….

Tapi De…. Sudah waktunya belajar! Nanti ngga bisa kerjain soalnya…

Aduh mami… udah ah… pokoknya aku mau main dulu!!!

 

Apa yang dituliskan dalam percakapan sederhana di atas, menjadi sebuah realita umum yang dijumpai dalam kehidupan keluarga modern saat ini. Seorang anak tanpa merasa takut bisa “melawan” bahkan “memberontak” kepada orangtua, terutama ketika apa yang mereka inginkan/harapkan tidak terpenuhi. Hal ini memang agak kontras dengan kondisi zaman dulu, di mana anak selalu menurut bahkan merasa takut untuk melawan orangtua. Rasa segan yang disertai sikap ‘hormat’ masih menempati posisi utama dalam relasi di  tengah keluarga. Sikap demikian tentu diharapkan tetap terpelihara hingga saat ini. Seorang anak seyogyanya “menurut” kepada orangtua, tentu menurut yang dimaksud diarahkan pada pengajaran positif yang diberikan dan menjadi bekal ketika mereka dewasa. 

Tema Minggu ini menuliskan “Jadilah Penurut-penurut Allah”. Ada sebuah kata penting dalam tema ini yaitu “penurut”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “penurut” memiliki arti yang luas. Dituliskan “penurut” mengarah pada orang yang menurut, tidak melawan, dan orang yang patuh/taat. Sementara itu dalam istilah aslinya (Yunani), kata penurut berasal dari kata “mimetes”. Kata ini tidak hanya sekedar berarti penurut, namun juga memiliki arti peniru (imitator) atau pengikut (follower). Berangkat dari definisi ini, maka dapat dikatakan bahwa seorang penurut tentu harus meniru dan mengikuti teladan yang diberikan kepadanya.

Oleh karena itu menjadi penurut-penurut Allah sesungguhnya bermakna bahwa kita diingatkan akan keberadaan kita yang semestinya meniru dan mengikuti teladan Allah di dalam Yesus Kristus.  Teladan seperti apa?  Efesus 5:2 menuliskan secara jelas bahwa teladan itu terwujud dalam satu kata “KASIH”. Kasih Allah nyata ketika Ia rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Sebagai orang-orang yang telah mengalami anugerah kasih Allah maka kita diajak untuk menyambut syukur dalam kesediaan diri untuk menjadi penurut-penurut Allah. Pertanyaannya bagaimana sikap kita agar dapat menjadi penurut-penurut Allah? Rasul Paulus dalam Surat Efesus menuliskan bahwa untuk menjadi penurut-penurut Allah maka kita harus memposisikan diri sebagai anak-anak-Nya yang kekasih (Efesus 5:1). Seorang anak yang baik, tentu akan menuruti apa yang diteladankan dalam perkataan dan pengajaran orangtuanya. Ketika orangtua mengatakan “jangan bermain dengan pisau, itu berbahaya”, maka sebagai anak yang baik, kita melakukan apa yang dinasihatkan kepada kita. Demikian pula sebaliknya. Ketika kita diajarkan untuk mengasihi dan belajar mengampuni orang lain yang melukai hati kita, maka kita berupaya untuk mempraktikkannya. Kendati tidak mudah, kita yakin Roh Kudus menolong dan memampukan kita.

Itulah panggilan kita sebagai penurut-penurut Allah. Menjadi “penurut” berarti kita siap untuk meneladan Sang Guru, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam proses itu, diperlukan kerendahan hati, kerelaan, sikap konsisten, juga kesediaan untuk mengosongkan diri, meninggalkan dan menanggalkan manusia lama, berubah menjadi manusia baru, yang tidak hanya baru secara “lahiriah” namun juga “batiniah” yaitu dalam diri kita. Kita meyakini, jikalau ini semua kita hayati dan refleksikan dalam panggilan kita, Roh Kudus menolong kita untuk menjadi “penurut-penurut Allah” dalam hidup yang dipercayakan-Nya bagi kita.

Selamat “berproses” menjadi penurut-penurut Allah.

Tuhan memberkati.

 

Penulis: Pdt. Gloria Tesalonika

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No:  19/XXI/Minggu, 9 Agustus 2015 

 

 
Diutus dan Diperlengkapi PDF Print E-mail
Written by Alfrest Zacharias   
Saturday, 01 August 2015 15:05

Sejak kecil kita sering ditanya oleh orang tua, guru dan teman-teman, apa cita-citamu? Ada yang menjawab dengan tegas dan yakin, ada yang sedikit ragu-ragu, dan bahkan ada pula yang tidak tahu. Demikan pula ketika kita akan membetuk suatu komunitas, tentu kita akan ditanya apa tujuan Visi-Misi, termasuk ketika kita sudah berada dalam satu kesatuan pelayanan, yaitu Gereja.

Kita menyadari ada banyak bentuk, corak dan pola yang ditunjukan anggota jemaat dalam suatu pelayanan dan itu merupakan keunikan yang khas dan sangat mempengaruhi kehidupan umat di dalamnya. Suatu  keunikan akan memberikan pengaruh yang positif jika itu dapat dikelola dengan baik, dan akan menjadi kekacauan ketika itu tidak dikelola dengan bijaksana. Sementara kita semua harus ikut dan terlibat di dalamnya.

Bacaan kita dari Efesus 4:1-16 mengingatkan jemaat disana bagaimana seharusnya hidup yang selalu searah dan seiring dengan Firman Tuhan, hidup jemaat pada saat itu dirasakan oleh rasul Paulus sudah mengarah pada sikap hidup yang terpecah-pecah dan hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya saja. Dia menasehatkan supaya mereka yang telah dipanggil untuk hidup berpadanan dengan panggilan itu, dapat memelihara kesatuan Roh (ayat 1). Roh Allah sendirilah yang berperan   penting didalam mempersatukan dari pelbagai perbedaan dan latar belakang, sementara bagian jemaat adalah mewujudnyatakan kesatuan tersebut. Sehingga jika jemaat mempunyai dasar atau landasan yang jelas dan kuat yang dari Roh Allah, maka dapat diyakini bahwa segala perbedaan didalam jemaat menjadi suatu keunikan yang khas yang dapat saling mendukung dan menyatukan.

Kekuatan Allah yang ada di dalam umat yang bersatu akan memberikan suatu pelayanan yang saling membangun sehingga menumbuhkan     semangat kedewasaan iman yang akan terus diperlengkapi melalui berbagai kasih karuniaNya. Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah (ayat 13).

Bulan ini GKI Citra 1 memasuki “Bulan Musik” dan tentu ada cita-cita yang diharapkan dari umat dengan berbagai karunia yang berbeda yang Tuhan berikan. Kesatuan umat yang memuji Allah akan menjadi paduan yang “harmoni”  ketika umat menyadari dan  melakukannya sesuai dan sepadan dengan panggilan pelayanannya masing-masing.

Rasul Paulus mempunyai “cita-cita” yang sangat sederhana namun berdampak besar bagi kehidupan pelayanan umat yang terpanggil, yaitu agar umat tetap teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih dan bertumbuh di dalam segala hal kearah Dia, Kristus yang adalah Kepala (ayat15).

Pada akhirnya, kita memahami bahwa kita semua diutus Allah untuk melakukan pekerjaan pelayanan bagi pembangunan Tubuh Kristus, yang telah memperlengkapi dan memampukan kita melalui kepelbagaian kasih karunia yang sepadan dengan panggilan pelayanan.

Sehingga tidak ada lagi keragu-raguan dalam menjawab panggilan pengutusan dalam pelayanan baik di persekutuan umat atau pada lingkungan yang lebih luas yaitu ketika kita ada di tengah kehidupan bermasyarakat, karena Dia yang adalah Tuhan melalui Roh Kudus akan memperlengkapi kita untuk melakukan karya keselamatan Allah bagi dunia ini.

Selamat menikmati karya Tuhan melalui keberagaman dan keunikan yang Dia anugerahkan kepada kita semua, Tuhan memberkati.

 

Penulis: Alfrest Zacharias

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 18/XXI/Minggu, 2 Agustus 2015 

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini9
mod_vvisit_counterKemarin21
mod_vvisit_counterMinggu Ini9
mod_vvisit_counterBulan Ini534
mod_vvisit_counterKeseluruhan73217

Login Form