ja_mageia

Pokok Doa (Sakit)
1. Dian Panglipuringtyas

   
    

 

    
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
TEKNOLOGI, SARANA UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA PDF Print E-mail
Written by Pdt. Gloria Tesalonika   
Saturday, 25 October 2014 04:26

Suatu kali saya membaca sebuah berita di detikNET yang isinya sungguh amat mengejutkan. Saya kutipkan isi berita tersebut:

Sungguh tak dapat diterima oleh akal sehat kelakuan remaja ini. Hanya gara-gara pemutar musik iPod-nya disita oleh orangtua, ia nekat menganiaya ayah dan ibunya hingga meregang nyawa.

Remaja bernama Vincent Parker itu baru berusia 16 tahun dan bermukim di rumah orang tuanya di Norfolk, Amerika Serikat. Sepertinya, ia sangat hobi memainkan iPod (pemutar media digital) sehingga merasa marah karena orangtuanya tiba-tiba menyita benda itu dari tangannya.

"Aku hanya ingat menjadi begitu marah. Semua ini karena ayah. Dia suka mengambil benda-benda milikku seperti iPod," kata Vincent di pengadilan, seperti dikutip detikNET dari NYDailyNews, Senin (6/6/2014).

Vincent adalah anak tunggal dan sebenarnya berstatus murid teladan di Norview High School. Pada hari pembunuhan itu, dia bertindak di luar akal sehat. Ibu kandungnya dia tusuk dan pukul berkali-kali dengan tongkat bisbol. Beberapa saat kemudian, ayahnya pulang ke rumah. Vincent pun langsung menyerangnya dan menusuk berkali-kali. Dalam keadaan sekarat, sang ayah berhasil menelepon aparat.

Polisi datang dan sang ayah masih bisa menceritakan apa yang terjadi. Dia meninggal bersama istrinya di rumah sakit, di tangan anak kandungnya sendiri. Atas perbuatannya itu, Vincent terancam    hukuman berat.

Berita ini tentu amat memprihatinkan. Seorang anak nekad membunuh ayah dan ibunya hanya karena kecintaannya yang berlebih terhadap alat teknologi yang dimiliki. Inilah wajah ganda teknologi. Selain memberi dampak yang positif, teknologi dapat memberi dampak yang negatif yaitu rusaknya relasi dan kasih kita dengan orang-orang terdekat, termasuk dalam hal ini keluarga. Teknologi dapat membuat seseorang bisa melakukan beragam cara bahkan yang melampaui akal sehatnya, yang tentu saja tidak diindahkan Allah, seperti tindakan ekstrim seorang Vincent Parker.

Tak dipungkiri, perkembangan dunia modern saat ini dapat mengikis kasih kita kepada Allah dan sesama. Kita mengabaikan hal-hal yang sepatutnya dan sepantasnya kita lakukan sebagai umat Tuhan, karena terpukau dengan apa yang ditawarkan oleh dunia, dan hanya mencari kepuasan untuk diri sendiri. Sungguh menyedihkan, tindakan yang kita lakukan kerapkali tidak mencerminkan kasih yang diteladankan Allah kepada kita. Sebuah statement dengan tajam pernah mengatakan bahwa agama hanya menjadi slogan kosong dan menjadi pelengkap, sementara materi yang dimiliki, dan jabatan yang melekat padanya, menjadi yang terutama. Pergumulan ini tentu tak dapat dibiarkan berlarut. Kita perlu menyikapi secara bijak tentunya dalam terang Firman Tuhan, perkembangan dunia modern termasuk di dalamnya perkembangan teknologi.

Ketika diciptakan, teknologi bersifat netral. Manusialah yang kerapkali menempatkan melebihi apa yang seharusnya. Oleh karena itu penting bagi kita untuk bersikap arif dan kritis terhadap pemanfaatan teknologi yang ada. Kalau dalam kisah Parker kita menyaksikan bagaimana penggunaan teknologi yang tidak pada tempatnya dapat merusak relasi kasih dalam keluarga bahkan juga dengan Allah, maka melalui tema Minggu ini kita justru diingatkan hal sebaliknya. Teknologi semestinya menjadi sarana yang positif bagi kita untuk mengasihi Allah yang diwujudkan dalam kasih kita kepada sesama termasuk orang yang terdekat dengan kita yaitu keluarga. Bagaimana hal ini dapat dikonkretkan? Sederhana, ketika kita bersedia berbagi kasih dan kepedulian antar anggota keluarga. Kita memanfaatkan teknologi secara positif sebagai sarana berkomunikasi untuk memperat tali persaudaraan di antara anggota keluarga. Melalui teknologi aktivitas berkomunikasi memudahkan kita untuk saling berelasi antar anggota keluarga, kendati terpisah jarak yang jauh sekalipun. Tidak hanya itu, bersedia berbagi kasih juga tampak manakala kita bersedia menyediakan waktu terbaik di tengah kesibukan kita untuk saling menguatkan dan menopang antar anggota keluarga. Melalui hal-hal kecil namun dilakukan dengan cinta yang besar inilah, maka diharapkan keluarga kita dapat terus menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekelilingnya. Dasarnya hanya satu yaitu kasih yang dipraktikkan secara nyata.

Injil Matius 22:37-39 yang menjadi bacaan leksionari Minggu ini menuliskan bahwa panggilan kita di tengah dunia adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Apa makna perkataan Yesus tersebut? Yesus hendak mengatakan bahwa kasih kepada Allah yang kemudian mewujud dalam kasih terhadap sesama merupakan inti utama dalam iman Kristiani. Ketika kita kehilangan kasih yang tampak dalam tindakan nyata itu, maka semua yang dimiliki dan semua yang dilakukan tidaklah berarti. Ini pula yang dinyanyikan setiap minggu oleh kita, dalam lagu tema Bulan Keluarga 2014 “Kasih”.

Kasih tak sekedar kata-kata semata, Ia nyata dalam perbuatan sehari-hari

Kasih lebih dari segala hidup dan harta Ia menolong mereka yang lemah dan tak berdaya

 

Walau s’luruh dunia, engkau miliki tanpa kasih tiadalah berarti

Walau s’luruh hidupmu engkau dapati Tanpa kasih tiadalah berarti

Sikap Yesus yang meletakkan kasih sebagai sifat satu-satunya yang sah bagi pelaksanaan Taurat, merupakan koreksi total dari pelaksanaan Taurat yang dilakukan umat Allah pada umumnya –bahkan oleh kaum Farisi sekalipun- yang diwarnai dengan pamrih dan sikap transaksional yang jauh dari sikap tulus. Yesus menghendaki agar kasih yang murni, kasih yang tidak menuntut balas dan mengharapkan sesuatu yang terus perlu dikembangkan dalam hidup kita. Tentu tidak mudah, namun perlu terus diupayakan. Kita meyakini penyertaan Tuhan senantiasa menolong dan memampukan kita untuk melakukannya.

Akhirnya, selamat merenungkan dan menyatakan kasih Kristus di tengah dunia dimana Saudara berada.

Tuhan Memberkati.

 

Penulis: Pdt. Gloria Tesalonika

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 30/Minggu, 26 Oktober 2014 

 

 
Menjadi Keluarga Kristiani yang Tidak Ketinggalan Zaman, namun Tidak Tergilas oleh Zaman PDF Print E-mail
Written by Pnt.Antonius Ketut Dwirianto   
Saturday, 18 October 2014 10:53

Suatu  akhir  pekan  kami  sekeluarga  berkumpul  di  rumah,  awalnya kami bersama-sama nonton tayangan TV, namun tanpa kami sadari masing-masing dari kami tenggelam dalam kesibukan kami sendiri- sendiri.  Saya  sebagai  suami  sibuk  dengan  menjawab  WhatsApp urusan pekerjaan, istri sibuk dengan Blackberry (BB-nya) yang bunyi terus yang mungkin sedang bahas sesuatu melalui group BBM- nya, si kakak sibuk update instagram, sementara si adik sibuk dengan game ‘temple run’ di IPadnya. Sampai pada akhirnya si adik mungkin bosan dengan gamenya ‘nyeletuk’ bahwa sekarang mereka jarang ngobrol kalau sedang berkumpul atau kalau kebetulan pergi naik mobil jarang bicara karena sudah ada BB, IPhone dan IPad. Komentar si anak tersebut mungkin hanya komentar yang sambil lalu sesuai dengan usianya, dia tidak berpikir terlalu jauh, namun sebagai orang tua kami seperti disadarkan bahwa kehidupan kami  perlahan tapi pasti sudah ‘dikuasai dan dikendalikan’ oleh benda yang seharusnya kita yang menjadi pengendalinya bukan justru sebaliknya kita yang dikuasai dan dikendalikan oleh benda tersebut.

Kondisi tersebut merupakan pengalaman nyata dan mungkin banyak dialami oleh umat Tuhan, dimana dengan alasan perlunya sosialisasi, kemudahan, kemajuan zaman atau segudang alasan lain menjadikan kita merasa tidak nyaman atau merasa kurang apabila kita tidak memiliki alat komunikasi yang sekarang ini semakin canggih.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa kemajuan teknologi telah membawa berbagai perubahan terhadap peran masing-masing anggota keluarga. Dampak positif dengan perkembangan teknologi sangatlah besar, dimana sangat memudahkan komunikasi antar anggota keluarga, dapat memudahkan komunikasi jarak jauh dan banyak lagi kemudahan yang merupakan dampak dari kemajuan teknologi.

Namun yang perlu diingat dan tidak dapat dihindari lagi adalah bahwa orang tua (suami dan istri) telah secara perlahan mengurangi peranannya dalam keluarga. Berbagai tugas rumah tangga kini bisa menggunakan alat-alat baru  berteknologi  canggih  sehingga  ia  tidak  perlu  melaksanakannya  lagi dengan bersusah payah, bahkan dalam mengawasi anak-anak bisa menggunakan CCTV. Berkomunikasi  dengan anak-anak yang terpisah oleh jarak tetap dapat dilakukan secara bertatap muka melalui fasilitas Skype. Namun semua alat-alat canggih produk dari kemajuan teknologi dan perkembangan  zaman  tersebut  nyatanya  tidak  bisa  menggantikan  tatapan  mata penuh kasih antar anggota keluarga, pelukan dan belaian kasih orang tua kepada anak, kesempatan menyediakan makanan sehat buat anak-anak serta perhatian tulus dan saling mendengar antar anggota keluarga, karena semua itu tidak bisa diberikan oleh kemajuan teknologi oleh karena perkembangan zaman yang demikian pesat.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, diberikan napas kehidupan, serta dianugerahkan akal budi, pikiran dan perasaan. Lewat akal budi inilah manusia mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga terciptalah teknologi. Teknologi berkembang cepat, sesuai dengan perkembangan zaman dan peradaban, juga pengetahuan yang semakin luas oleh kebutuhan manusia.

Sebagai makhluk yang mulia, manusia ditugaskan untuk menaklukkan alam semesta (bumi). Dalam Kitab Kejadian 1:28 Tuhan memberikan kuasa kepada manusia untuk melaksanakan rencana-Nya. Di dalam Tuhan tidak ada yang tidak terlaksana, namun kemampuan untuk melaksanakan rencana itu pada hakikatnya memiliki batasan-batasan yang dikehendaki Allah. Hal ini dapat diartikan bahwa dengan akal budi anugerah Allah, umat Allah diijinkan mengembangkan dan memanfaatkan teknologi bagi kemakmuran dan meningkatkan kualitas hidup manusia yang lebih baik atau dalam arti tidak ketinggalan peradaban zaman. Namun jangan sampai justru perkembangan teknologi itu yang menguasai kita atau hidup umat Allah tergilas oleh perkem- bangan zaman, sehingga bertentangan dengan kehendak Tuhan Allah kita. Amin.

 

Penulis: Pnt. Antonius Ketut Dwirianto

Sumber : Renungan GKI Perumahan Citra 1

No: 29/XX/Minggu, 19 Oktober 2014

 
Teknologi Ilah Modern PDF Print E-mail
Written by Jayadi Sucitra   
Saturday, 11 October 2014 13:27

Minggu ini kita mulai memasuki “Bulan Keluarga”. Pada tahun ini, Panitia Bulan Keluarga memilih tema besar yaitu “Menjadi Keluarga Kristiani yang Tidak Ketinggalan Zaman, namun Tidak Tergilas oleh Zaman”. Selama 4 minggu berturut-turut tema ibadah akan membahas seputar “teknologi”. Minggu ini merupakan minggu pertama Bulan Keluarga, dan tema ibadah yang akan direnungkan bersama adalah “Teknologi, Ilah Modern”.

Pada awal manusia diciptakan, manusia hanya mengenal satu “ilah” yaitu Allah, Sang Pencipta. Namun seiring berjalannya waktu, manusia mulai merasakan ketidakpuasan dalam kehidupannya. Karenanya, manusia mulai mencari ilah lain yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan hidupnya.  Istilah ilah lain pada zaman dahulu, khususnya pada perjanjian lama identik dengan menyembah patung berhala, percaya pada jimat dan takhayul. Pada era modern saat ini, istilah ilah lain dapat mempunyai arti yang luas, seperti: hasrat (keinginan untuk hidup serba enak/serba nikmat), harta (kekayaan), harkat (kedudukan) dan yang terakhir adalah “high technology” (teknologi canggih/modern).

Dengan berkembangnya teknologi yang sangat pesat pada saat ini, tentunya memberikan dampak positif dan negatif pada kehidupan manusia. Suatu hal yang wajar bahwa segala sesuatu yang baru, yang indah, yang instan, dan yang nyata, dapat membuat manusia tertarik untuk menggunakannya. Tetapi kita harus menyadari bahwa hal tersebut dapat menjerumuskan kita ke hal-hal yang negatif.

Melalui bacaan dari Keluaran 32:1-14, kita dapat melihat ketidakpuasan dan ketidaksetiaan umat Israel ketika ditinggal oleh Musa yang naik ke atas Gunung Sinai selama 40 hari  untuk menerima hukum-hukum dan petunjuk dari TUHAN. Ditinggal oleh Musa selama berhari-hari, menjadikan umat Israel dilanda kegelisahan. Kegelisahan tersebut bukan semata-mata karena mereka mencemaskan Musa, melainkan karena mereka tengah memikirkan diri mereka sendiri, karena umat Israel memerlukan seorang pemimpin. Mereka ingin memiliki ‘allah’ yang dapat dilihat langsung dan menghadirkan ‘allah’ sesegera mungkin. Oleh karena itu, mereka berkata kepada Harun “...buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami... “ (Kel. 32:1). Ternyata Harun terbujuk oleh permintaan umat Israel dan mendirikan patung anak lembu emas. Sepertinya Harun tidak sadar bahwa hal tersebut akan menyakiti Allah dan membuat murka bagi Allah. Disini dapat terlihat bahwa Harun lebih ingin menyenangkan umat Israel daripada menyenangkan TUHAN. Harun juga lebih takut kepada umat Israel daripada takut kepada TUHAN.

Ketidakpuasan manusia akan hidup yang telah diberikan Tuhan dapat berakibat manusia mencari ilah lain yang secara duniawi dapat memuaskan hidupnya. Terkadang kita juga tidak menyadari, bahwa  teknologi dapat menjadi ilah yang terselubung. Beberapa hal yang sering tidak kita sadari bahwa kita telah menjadikan teknologi sebagai ilah modern:

· Kita bisa menyediakan waktu berlama-lama menggunakan fasilitas internet ataupun telepon pintar (handphone) hanya untuk keperluan pribadi atau menyenangkan hati kita semata, padahal kita sulit untuk menyediakan waktu bagi Tuhan.

· Kita merasa hebat dan merasa pintar karena dapat menciptakan teknologi yang luar biasa, sehingga melupakan Tuhan yang telah memberikan hikmat dan kecerdasan.

· Kita merasa tidak memerlukan Tuhan lagi, karena kita merasa dapat  mengatasi berbagai hambatan kehidupan melalui teknologi yang kita ciptakan. Kita lupa bahwa teknologi hanyalah sarana kehidupan yang disediakan Tuhan untuk membantu kehidupan manusia.

Filipi 4:1 berisi nasihat Paulus kepada umat di Filipi, “….berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan ….” Biarlah nasihat Paulus ini juga dapat mengingatkan kita untuk tetap berpegang teguh dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita. Kita harus mempunyai karakter yang teguh yang dibentuk melalui Firman Tuhan agar kita tidak melupakan Tuhan karena kehebatan teknologi yang telah kita ciptakan dan tidak menjadikan teknologi sebagai ilah modern dalam kehidupan kita. 

Selamat mengikuti acara Bulan Keluarga. Tuhan Memberkati.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut  dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

(Filipi 4:8)

 

Penulis: Jayadi Sucitra

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 28/XX/Minggu, 12 Oktober 2014 

 

 
SABDA ALLAH LEBIH MANIS DARIPADA MADU PDF Print E-mail
Written by Andreas D. Abraham   
Saturday, 04 October 2014 11:21

Minggu ini kita kembali merayakan Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus pada hari ini sungguh amat istimewa karena bertepatan dengan Hari Perjamuan Kudus Sedunia dan Hari Pekabaran Injil di Indonesia. Perjamuan Kudus diadakan sebagai peringatan akan karya Allah yang menyelamatkan di dalam dan melalui Kristus. Seperti apa yang dituliskan dalam formulir Perjamuan Kudus, melalui Perjamuan Kudus, kita mengenang kematian Kristus. Mengenang-Nya berarti mengalami kehadiran-Nya guna memperbarui kehidupan kita untuk mau berkurban, menjadi berkat bagi sesama dan menjadi anggota tubuh Kristus baik sebagai mata dan telinga yang peduli terhadap kebutuhan dan masalah sesama, sebagai mulut yang menyuarakan kebenaran dan keadilan serta menjadi tangan yang memperjuangkan damai sejahtera di muka bumi.

Tema Ibadah Minggu ini adalah “Sabda Allah Lebih Manis daripada Madu”. Tema ini berangkat dari refleksi pemazmur dalam Mazmur 19:10-11: “Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya, hukum-hukum    TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah daripada emas, bahkan daripada banyak emas tua, dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah“. Melalui ayat ini kita diteguhkan bahwa hal yang lebih berharga daripada emas bahkan daripada banyak emas murni dan lebih manis daripada madu bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah adalah Firman Tuhan.

Emas tua atau emas murni adalah emas yang terbaik dan bernilai tinggi yang selalu dicari banyak orang dengan bekerja keras. Sedangkan madu adalah sesuatu yang dirasakan manis dan bergizi tinggi, rasanya yang manis sangat disukai orang banyak. Madu terbaik adalah madu yang menetes dari sarang lebah, murni alami tanpa campuran. Untuk mendapatkan madu yang terbaik diperlukan kerja keras dan usaha yang besar. Melalui penggambaran ini maka pertanyaan reflektif bagi kita sebagai umat Tuhan apakah kita sudah mencari kebenaran Firman Tuhan seperti memburu emas karena merasa  Firman Tuhan jauh lebih berharga daripada emas bahkan emas murni? Apakah kita sudah merasakan Firman Tuhan lebih manis dari tetesan madu terbaik serta sudah berusaha mempelajari Firman Tuhan?    

             Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita agar dapat merasakan Firman Tuhan lebih berharga daripada emas bahkan emas murni serta lebih manis daripada madu bahkan madu tetesan dari sarang lebah seperti tertulis dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Filipi 3:6-11: “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dia-lah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya supaya aku beroleh kebangkitan dari antara orang mati”.

Jadi Sabda Allah atau Firman Tuhan yang tertulis dinyatakan dalam Alkitab adalah hal yang mendasar dalam kehidupan kita sebagai orang yang percaya. Oleh karena itu sudah semestinya kita senantiasa memelajari dan mendengarkan Firman Tuhan setiap waktu karena Roh Kudus bekerja melalui perantaraan Firman, sehingga iman kita dapat terus bertumbuh dan kita dapat melakukannya dalam kehidupan setiap hari.

 

Selamat merayakan Perjamuan Kudus.

Tuhan memberkati.

 

Penulis: Andreas D. Abraham

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1 

No : 27/XX/Minggu, 5 Oktober 2014

 

 
PEMELIHARAAN ALLAH YANG AJAIB PDF Print E-mail
Written by Hoan Dedei   
Saturday, 27 September 2014 05:49

Begitu banyak cerita/kesaksian tentang pemeliharaan Allah yang luar biasa. Di sekolah Minggu kita bisa dengar lagu pujian tentang burung pipit yang kecil yang dipelihara dan bunga bakung yang diberi keindahan oleh-Nya. Khotbah Tuhan Yesus dalam Matius 6:26 & 28, juga berisikan bagaimana karya pemeliharaan Allah untuk manusia. Tetapi, apakah semua ini membuat kita sebagai manusia bisa dengan mudah mempunyai iman yang kuat untuk memercayai pemeliharaan Allah yang ajaib?

Cerita mengenai pimpinan Allah (melalui Musa) dalam perjalanan panjang orang Israel keluar dari Mesir, menghadapkan orang Israel pada pengalaman tentang dahsyatnya pemeliharaan Allah, yang -sayangnya- tidak membuat mereka makin percaya dan beriman kepada Allah! Alkitab mencatat begitu banyak keluhan, gerutuan, sungut-sungut, dan lebih hebat lagi, orang Israel yang sudah mengalami begitu rupa keajaiban pemeliharaan Allah, malah membuat allah baru dalam bentuk anak lembu emas! (bnd. Keluaran 32)

Janji pemeliharaan Allah, kadang membuat kita berada dalam situasi meminta dan menuntut Tuhan untuk membuktikan diri-Nya dengan cara yang kita inginkan. Padahal, pengertian pemeliharaan Allah atas manusia, tidak bisa dipandang seperti memelihara hewan peliharaan, atau meminta Tuhan harus menyediakan segala macam keinginan kita, seperti tempat tinggal, makanan, kesehatan, pendidikan atau bahkan kelimpahan harta. Ada pengertian lebih mendalam dari sekedar kata “pemeliharaan”, bahwa ada campur tangan Allah di sepanjang hidup kita, Allah tidak hanya menyediakan apa yang kita butuhkan, melainkan Allah adalah Tuhan yang menyelenggarakan hidup kita, Tuhan yang merencanakan hidup kita. Hidup kita adalah hidup yang diselenggarakan oleh Allah.

Pemeliharaan Allah mencakup segala sesuatu, segala peristiwa baik maupun sebaliknya, peristiwa yang tidak kita harapkan. Inilah yang dialami umat Tuhan dalam Kitab Keluaran 17:1-7, bacaan I Minggu ini. Mereka harus mengalami sebuah situasi yang tidak atau kurang menyenangkan ketika mereka diperhadapkan pada ketiadaan air untuk menghilangkan dahaga mereka atas    perjalanan yang ditempuh. “Mengapa pula, engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”, demikian dituliskan Keluaran 17:3. Sikap ini kemudian dikecam oleh Musa. Dalam pandangan Musa, mereka sangat tidak pantas bersikap demikian. Sebab, berdasarkan pengalaman mereka selama ini, sesungguhnya orang Israel tahu benar bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang Mahakuasa yang mampu melakukan hal-hal yang ajaib. Namun amat indah, respons Tuhan tidaklah marah/murka karena merasa diragukan. Tuhan justru memenuhi permintaan orang Israel dengan memberi mereka air, “sehingga bangsa itu dapat minum” (17:6). Dengan cara ini, Tuhan tidak saja menunjukkan bahwa Ia hidup dan hadir di tengah Bangsa Israel, mamun juga hendak menegaskan bahwa Ia merestui serta mendukung Musa sebagai pemimpin mereka. 

Perjalanan yang ditempuh Bangsa Israel mengingatkan kita bahwa cakupan pemeliharaan Allah di dalam kehidupan kita adalah segala peristiwa baik yang menyenangkan maupun tidak, bukan hanya dalam kecukupan materi melainkan juga dalam kekurangan materi, bukan hanya dalam kondisi sehat melainkan juga dalam kondisi sakit. Semuanya memiliki tujuan di dalam tatanan Tuhan. Tujuan pemeliharaan Allah bukan hanya untuk mendatangkan kebaikan kepada kita secara pribadi tetapi juga menunjukkan kehadiran Allah yang turut bekerja di dalam segala sesuatu. Dengan demikian, pemeliharaan Allah dapat menjadi sarana yang sangat efektif baik untuk menguatkan iman kita sendiri maupun untuk bersaksi kepada orang lain tentang kebaikan Tuhan.

Pemeliharaan Allah tidak bergantung pada apa yang terjadi di sekitar kita. Pemeliharaan Allah terus berlanjut. Pada masa yang serba berkecukupan, tentu bukan hal yang sulit untuk memercayai pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita, sebaliknya pada masa yang sulit acapkali kekuatiran mulai mengganggu. Disinilah kita menyaksikan bahwa cara pemeliharaan Allah kadang terasa sulit untuk diterima. Ada kalanya terlihat mustahil dan tidak mungkin. Apa yang diharapkan berbeda dengan apa yang terjadi, sehingga akhirnya kita bersandar pada pengertian sendiri dan merasa mampu melangkah tanpa Allah. Padahal meletakkan keyakinan/beriman kepada Tuhan berarti percaya dan mengakui bahwa Allah adalah sumber pemeliharaan hidup yang sejati. Kita memiliki tanggung jawab untuk tetap berada dalam hubungan pribadi dengan Allah dan hidup dalam pemeliharaan-Nya.

Ada pekerjaan Allah dan ada pula bagian tanggung jawab kita yang tetap harus dikerjakan, yaitu hidup di dalam Firman dan persekutuan dengan Allah, serta memberi ruang Allah bekerja di dalam pemeliharaan-Nya yang ajaib. Kita meyakini bahwa semuanya itu adalah bagi hormat serta kemuliaan nama Allah.

Selamat bersyukur, Tuhan memberkati!

 

Penulis: Hoan Dedei

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 26/Minggu, 28 September 2014

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini23
mod_vvisit_counterKemarin9
mod_vvisit_counterMinggu Ini74
mod_vvisit_counterBulan Ini763
mod_vvisit_counterKeseluruhan67660

Login Form