ja_mageia

Pokok Doa (Sakit)
1. Dian Panglipuringtyas
2. Ibu Stella Rose
3. Ibu Maria Priscillia   
   
    

 

    
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
MENANG TANPA BERPERANG PDF Print E-mail
Written by Pnt. Lieke Handoko Winata   
Saturday, 13 September 2014 07:08

Siapa yang mau kalah? Tidak ada. Menjadi pemenang adalah dambaan semua orang. Menang dalam pertandingan, dalam perkelahian, menang dalam pemilihan. Untuk dapat menang tentunya harus ada usaha, harus berjuang, Maka tema di atas menjadi tidak cocok. Apakah mungkin menang tanpa berperang? Tanpa berusaha?

Bacaan pertama hari ini dari Keluaran 14:19-31 menceritakan tentang bangsa Israel dalam perjalanan keluar dari tanah Mesir. Hidup di Mesir selama 430 tahun sebagai budak, menjadikan mental budak, yaitu: rapuh, takut, pasrah. Mereka begitu takut menghadapi tantangan dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Sulitnya perjalanan di padang gurun, kejaran tentara Mesir, membuat mereka ingin kembali ke Mesir. Mereka merasa menjadi budak lebih baik. Mereka juga sulit keluar dari “zona nyaman” di Mesir.

Allah berpegang pada janji-Nya (keluaran 2:24), maka Dia bertindak untuk melepaskan bangsa Israel dari penderitaan. Dengan kuasa-Nya Tuhan membawa keluar bangsa Israel dari Mesir, menyertai bangsa-Nya melewati padang gurun, menyerberangi laut Teberau, membinasakan tentara Mesir, menyertai dalam pengembaraan 40 tahun di gurun serta memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian. Melihat semua yang dilakukan Tuhan, maka bangsa Israel mengalami apa yang dikatakan menang tanpa berperang. Yang dituntut dari bangsa Israel hanyalah kesetiaan dan ketaatan. Setia kepada Tuhan dan taat kepada perintah Tuhan. Bersedia untuk dibentuk oleh Tuhan. Melalui perjalanan yang panjang dan sulit, Tuhan membentuk mental bangsa Israel.

Bagaimana merefleksikannya dalam hidup kita? Kita semua adalah umat Allah, yang telah dipilih dan dipanggil dalam karya keselamatan-Nya. Kita adalah umat yang juga sudah dimenangkan-Nya dari kuasa dosa. Artinya kita hidup sebagai orang-orang yang sudah dimenangkan dan menjalani hidup sebagai pemenang, yaitu hidup dengan sukacita, bersyukur, semangat dan tidak menyia-nyiakan kemenangan yang Tuhan sudah berikan. Perjalanan hidup belum fisnish, kita masih harus terus melanjutkan kehidupan yang Tuhan berikan, apapun yang kita akan hadapi, khususnya pergumulan atau tantangan yang sulit. Jangan sekalipun berpaling dari Tuhan, sebaliknya tetap dengan setia di jalan Tuhan, taat kepada perintah-Nya. Yakinlah bersama Tuhan kita menang. Tuhan memberkati

Firman Tuhan dalam Yesaya 41:10 meneguhkan kita:

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

 

 

Penulis : Pnt. Lieke Handoko Winata

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 24/XX/Minggu, 14 September 2014

 

 

 
BERTUMBUH DALAM PERSEKUTUAN PDF Print E-mail
Written by Pnt. Tulus Santoso   
Saturday, 06 September 2014 06:43

Bertumbuh atau pertumbuhan sering dikaitkan dengan kuantitas, kita cenderung mengukur keberhasilan persekutuan umat hanya dari sudut kuantitas, seperti bertumbuh dalam jumlah kehadiran, jumlah partisipan, jumlah umat dll. Padahal dalam konteks persekutuan umat ukuran keberhasilan bukanlah hanya terletak pada kuantitas melainkan juga kualitas. Kualitas dalam hal ini terkait dengan sejauh mana persekutuan umat telah dapat menjalankan fungsinya sebagai tempat bertumbuh bagi orang yang ada di dalamnya sehingga mereka menjadi semakin dewasa dalam iman dan semakin peduli terhadap sesamanya.

Paskah bagi orang Yahudi adalah perayaan untuk mengingat pertolongan Tuhan yang telah membebaskan leluhur mereka dari perbudakan di tanah Mesir. Paskah telah dijadikan sebagai bulan pertama yang menandai sebuah permulaan yang baru dari bangsa Israel. Dengan dibebaskannya mereka dari perbudakan di Mesir maka mereka dapat mengaktualisasikan status mereka sebagai umat tebusan-Nya. Sebagai bangsa yang terlahir baru, maka Tuhan terlebih dahulu membangun “sense of unity” atau ikatan persaudaraan yang kental di antara orang Israel (Kel 12:1-14). Mereka harus menyediakan domba atau kambing yang terbaik (ay. 3-6) dan selanjutnya harus dimakan habis oleh seluruh anggota keluarga atau bersama keluarga lain yang menggabungkan diri dengan mereka. Jika ada yang tersisa barulah mereka bakar sampai habis (ay. 10). Dengan demikian fungsi utama kambing dan domba di sini bukanlah sebagai kurban bakaran semata, melainkan sebagai katalisator atau perekat hubungan mereka satu dengan yang lain mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka. Tanpa ‘sense of unity” ini maka bangsa Israel akan tercerai-berai dan habis binasa selama menempuh perjalanan di padang gurun yang lama dan sangat melelahkan itu. Selanjutnya Mazmur 149:1-9 juga menekankan bahwa di tengah ancaman dan penindasan oleh musuh-musuh bangsa Israel maka mereka senantiasa mengandalkan Tuhan (ay. 1-4) dan juga pentingnya persatuan seluruh umat untuk mengalahkan musuh-musuh mereka (ay. 5-9).

Pentingnya “sense of unity” ini juga ditegaskan oleh Paulus dalam Roma 13:8-14, yaitu bahwa kasih orang-orang percaya harus dinyatakan secara tulus. Kasih kepada sesama merupakan hal mutlak dan urgen, mereka harus melakukannya karena batas waktu yang mereka miliki tidak banyak lagi (ay. 11). Kita akan mampu menanggalkan kehidupan yang lama hanya apabila kita terus menerus bersekutu dangan Kristus. Jadi persekutuan dengan tubuh Kristus merupakan identitas baru yang menciptakan “sense of unity” di antara kita orang percaya dan kasih kepada sesama yang menjadi landasan utama kita dalam mengatasi segala persoalan yang timbul mengiringi perjalanan persekutuan selanjutnya. Persoalan-persoalan internal seperti egoisme, conflict of interest, abuse of power, misunderstanding dll, sering menjadi batu sandungan yang menggerogoti kelangsungan persekutuan kita, yang akan selalu muncul dan tidak dapat kita hindari. Namun jika dihadapi dengan baik, dengan mengedepankan semangat kasih dalam ikatan persaudaraan maka semua persoalan yang timbul ini justru akan mendewasakan iman dan spiritualitas umat.

Prioritas mempertahankan keutuhan anggota persekutuan dalam suatu komunitas secara tegas dinyatakan dalam Mat 18:14, “Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang”. Tentunya untuk mendapatkan kembali anggota komunitas yang hilang atau tersesat bukanlah hal yang mudah. Karena itu dijelaskan lebih lanjut pada Mat 18:15-20, tentang langkah-langkah praktis yang harus ditempuh dan bagaimana harus bersikap jika anggota yang tersesat tersebut tidak mau kembali. Perlu diperhatikan di sini bahwa sangsi yang diterapkan di sini dengan mengucilkan orang yang tersesat tersebut secara sosial, bukan mengeluarkannya dari komunitas. Keutuhan komunitas tetap menjadi prioritas, sehingga segenap anggota komunitas dilibatkan pada waktu menilai dan memutuskan perkara tersebut. Setiap orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan harus mengingat ungkapan “apa yang kamu ikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepat di sorga” (ay. 18). Selanjutnya   tindakan pengucilan bukanlah langkah terakhir, pengucilan harus disertai dengan doa yang terus menerus dari seluruh anggota komunitas. Ay. 19-20 mengingatkan kepada kita akan kekuatan dari doa seluruh jemaat dan kemurahan Bapa di sorga yang akan membuat orang menyadari kesalahannya dan bertobat, oleh karena itu seluruh anggota komunitas harus selalu memberi  kesempatan terjadinya suatu pertobatan.

Segenap umat yang terkasih di dalam Kristus, marilah kita bersama membangun dan menumbuhkan ‘sense of unity” di antara kita. Marilah kita hadapi segala persoalan dan tantangan dengan semangat saling mengasihi di antara kita. Niscaya melalui setiap persoalan yang kita lewati maka kita beroleh kesempatan bertumbuh bersama secara iman dan spiritualitas. Dengan kualitas persekutuan umat seperti itulah maka gereja akan semakin efektif berperan menjadi mitra Allah untuk menghadirkan damai sejahtera di dunia. Semoga Tuhan menolong kita semua.

 

Penulis : Pnt. Tulus Santoso

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 23/XX/Minggu, 7 September 2014

 

 
MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB, DAN MENGIKUT KRISTUS PDF Print E-mail
Written by Magdalena   
Sunday, 31 August 2014 04:44

Apa yang pertama kali anda pikirkan pada saat anda mendengarkan kata penyangkalan diri? Salib, Sakit, Kedagingan, Penolakan atau sesuatu yang tidak menyenangkan lainnya? Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia ‘penyangkalan diri’  terdiri dari 2 kata Penyangkalan dan diri.

‘Penyangkalan’dari kata sangkal; pe-nyang-kal-an yang artinya proses atau cara atau perbuatan menyangkal, pengingkaran atau penolakan. Sementara ‘diri’ sebagai kata benda adalah orang, seseorang atau kita sendiri. Sehingga arti penyangkalan diri adalah menolak keinginan sendiri atau berkorban.

Memikul salib, dapat diterjemahkan membawa atau mengangkat. Salib yang dimaksud adalah alat yang digunakan oleh orang Romawi untuk menjalani hukuman mati terhadap seseorang yang bersalah dan diharuskan membawa salib atau balok lintang ke tempat eksekusinya (seperti Tuhan Yesus).

Kisah tentang Polikarpus, Bapak Gereja dan Uskup di Smirna, mengajak kita          merenungkan bahwa menjadi pengikut Kristus tidaklah mudah. Ia dianggap penghianat dan penghasut, karena tidak mau menyembah kaisar sebagai Tuhan. Di tengah ancaman penyiksaan, Polikarpus diminta untuk menyembah kaisar. Polikarpus tetap menolak. Ia berkata: “Delapan puluh enam tahun aku mengabdi kepada-Nya, dan dalam sesuatu apapun Ia tak berbuat salah padaku, bagaimana mungkin aku mengumpat Rajaku yang menyelamatkan aku?” Alhasil, Polikarpus pun dihukum mati.

Yesus untuk pertama kalinya menyampaikan penderitaan yang harus ditanggung-Nya. Pernyataan itu mengundang protes dari Petrus. Karena Petrus, seperti juga orang Yahudi umumnya, masih menganggap mesias dalam artian politis. Yesus kemudian menegur Petrus. Setelah  itu Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan mengatakan: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan terus mengikuti Aku”  (Mat.16:24 BIMK)

Ada 3 tahap yang akan dilalui orang yang mengikuti Yesus;

Pertama, penyangkalan diri: berkorban, melupakan kepentingannya. Itu berarti, ia berfokus pada kepentingan Tuhan. Dalam bahasa teguran Yesus kepada Petrus yang tertulis pada Injil Matius 16:21-28 “memikirkan apa yang dipikirkan Allah”.

Kedua, mengikut salibnya yaitu kerelaan menanggung derita. Ingat bukan salib-Nya. Bukan derita Yesus yang kita pikul tapi derita kita, yang sudah pasti berbeda-beda.

Ketiga, setia terus mengikut Yesus.

Seringkali kita dihadapkan pada pilihan. Terlihat mudah jika keputusan diambil menurut cara pandang dunia, seperti kisah Polikarpus. Bisa saja ia melakukan perintah Kaisar, sehingga dia terbebas dari hukuman mati. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Polikarpus. Melalui kisah Polikarpus, kita melihat adanya penyangkalan diri yang diikuti oleh kerelaan melakukan pengorbanan diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Polikarpus melakukan apa yang disebut sebagai “Martir”.

Kemartiran tidak hanya berarti beban mati. Dalam kehidupan seringkali kita dihadapkan pada kenyataan untuk memilih. Di zaman sekarang seringkali kita dihadapkan pada pilihan yang sangat menggoda, tidak sedikit kita dihadapkan pada pilihan kesenangan duniawi yang menjanjikan atau kesetiaan pada Tuhan. Contoh yang ditemui misalnya korupsi demi untuk menambah kekayaan atau hidup dalam kekurangan atau bahkan dengan resiko kehilangan pekerjaan jika tidak dilakukan. Kemartiran adalah sikap kesetiaan dan keberanian menanggung resiko. Oleh karenanya, perjuangan menjadi martir saat ini tidak mudah. Godaan untuk tidak setia makin besar. Ditambah godaan untuk ‘menjual’ juga tidak kalah hebatnya.

Dalam Keluaran 3:1-15 juga dikisahkan bagaimana pergumulan Musa menolak panggilan Tuhan. Karena ia sadar betul betapa sukarnya mengikuti perintah-Nya membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Namun, Tuhan berjanji akan menyertai. Penyertaan Tuhan juga menjadi ajakan pemazmur bagi umat Israel di pembuangan (Mazmur 105:1-6, 23-26 dan 45).

Suatu Minggu pagi, salju menyelimuti Colchester di Inggris. Semula John Egglen berniat tinggal di rumah. Sebab berjalan kaki hampir 10 km ke gereja, dalam cuaca bersalju tidaklah mudah.

Namun tanggung jawab sebagai diaken membuatnya berubah pikiran. Ia berangkat ke gereja. Di gereja hanya 12 jemaat yang hadir dan satu jiwa baru, seorang remaja 13 tahun. Kala itu, Pendeta  tidak bisa datang karena rumahnya tertimbun salju. Sebagian jemaat menyarankan kebaktian ditiadakan. Namun, Egglen tetap mengadakan kebaktian. Karena pendeta tidak hadir, Egglen yang berkotbah. Kotbahnya begitu buruk, sebab ia memang tak bertalenta di situ, tanpa persiapan dan baru pertama kali berkotbah. Namun setelah mendengar kotbah Egglen, remaja tersebut menyerahkan diri kepada Tuhan. Tahukah anda, siapa remaja itu? Charles Haddon Spurgeon! Seorang pengkotbah legendaris di Inggris. Andai Egglen memutuskan tinggal di rumah dan meniadakan kebaktian, mungkin kekristenan takkan pernah memiliki seorang Spurgeon. Pada Minggu pagi yang dingin itu, Egglen mencatat sejarah, bahwa kesetiaan tidak akan pernah sia-sia.

Jalan terjal kerap dijumpai oleh pengikut Yesus yang setia. Hal ini telah dikatakan oleh Yesus sendiri. Ada proses yang harus dilalui seseorang yang mau mengikut mengikut Yesus. Namun hal yang sungguh indah, penyertaan Tuhan akan dirasakan umat Tuhan yang setia kepada-Nya dalam kehidupan. Seperti Polikarpus dan Egglen percaya bahwa kesetiaannya tidak akan sia-sia, bagaimana dengan kita?

Selamat memaknai panggilan kita menjadi pengikut Kristus.

Tuhan memberkati.

 

 

Penulis: Magdalena

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 22/Minggu, 31 Agustus 2014

 

 
DIPANGGIL UNTUK MEWUJUDNYATAKAN IBADAH YANG BERKENAN KEPADA ALLAH PDF Print E-mail
Written by Susijanti Surjana   
Saturday, 23 August 2014 12:23

Apalah Arti Ibadahmu

*Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada hati tulus dan syukur?

**Marilah ikut melayani orang berkeluh, agar iman tetap kuat serta teguh.
Itulah tugas pelayanan juga panggilan,

persembahan yang berkenan bagi Tuhan.

***Berbahagia orang yang hidup beribadah,

yang melayani orang susah dan lemah.
Dan penuh kasih menolong orang yang terbeban;

itulah tanggung jawab orang beriman.

Reff:

Ibadah sejati jadikanlah persembahan.

Ibadah sejati kasihlah sesamamu!
             Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,

jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.

 

Saat penulis melihat tema kotbah minggu ini yaitu "Dipanggil untuk Mewujudnyatakan Ibadah yang Berkenan kepada Allah", penulis langsung teringat dengan sebuah nyanyian dalam Pelengkap Kidung Jemaat no. 264 “Apalah Arti Ibadahmu”, karena syairnya menuliskan jelas sebuah perenungan akan makna ibadah bagi setiap umat Tuhan.

Kalau kita memerhatikan setiap kalimat yang ada dalam syair lagu ini, tidak tertera sesuatu yang mengharuskan seseorang mempunyai kemampuan atau talenta khusus untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengikut Kristus, selain kesediaan diri untuk melayani-Nya. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah apakah kita sudah merespons panggilan Tuhan dalam tanggung jawab yang Tuhan percayakan tersebut? Apakah kita telah menjadi pribadi yang begitu menghormati Tuhan, seperti tradisi orang Jepang menghadap kaisar/ tuannya, sujud dan sungkur, menaikkan rasa hormat yang luar biasa dari dalam hati mereka?

Sungguh menjadi keprihatinan, seringkali kita tidak memiliki sikap demikian dalam ibadah kita. Kita memiliki sikap yang santai, terkadang berdoa dalam posisi tertidur, sehingga kata amin sebagai penutup doa pun baru terucap saat terbangun. Tidak hanya itu, berapa banyak dari kita yang tidak sengaja tertidur, saat kotbah atau saat ketika menaikkan doa syafaat. Keadaan ini membuat kita mengerutu/kesal dan menyalahkan pendeta yang kurang bisa kotbah/ penatua karena terlalu lama berdoa, dlsbnya.


Oleh karena itu, pada saat ini alangkah baiknya kita mengintrospeksi diri.

 

  • ·         Bagaimana sesungguhnya keadaan hati dan tubuh kita ketika datang untuk beribadah, berjumpa dengan Tuhan dan saudara seiman kita? Apakah kita memang sedang lelah, kurang tidur, kurang sehat atau  tengah memiliki persoalan hidup, yang membuat kita sulit untuk berkonsentrasi?
  • ·         Seberapa besar hormat kita terhadap Allah, melalui sabda-Nya yang dibacakan, dinyanyikan dan juga disampaikan di dalam kotbah?

 

Allah melihat hati, bukan fisik kita. Hati yang tulus dan jujur, serta yang senantiasa bersyukur. Himbauan Yesus bagi kita murid-murid-Nya adalah menjadi pelayan, bukan pribadi yang haus untuk dilayani. Karena Yesus tahu, dengan melayani iman kita akan bertumbuh. Allah tahu, apabila kita belum/tidak merasakan dan mengalami sendiri kuasa Allah yang mampu mengatasi segala hal, baik untuk urusan pribadi kita terlebih saat kita melakukan untuk orang lain, akan sulit bagi kita untuk dapat mempertahankan iman kita, kita akan meragukan kuasa Allah di dalam Yesus. Seperti berbagai peristiwa yang terjadi di Irak terhadap umat kristiani belakangan ini, mereka disesah, dirampok dan diusir dan ada dari rumah mereka sendiri dan ada yang dibunuh (karena mempertahankan iman mereka) oleh kelompok-kelompok ISIS. Sungguh sangat mengerikan!

Di tengah kondisi demikian maka pertanyaan reflektif bagi kita adalah dapatkah kita terus mempertahankan iman kepada Yesus, apabila kita diperhadapkan pada situasi demikian? Tentu saja dengan teguh kita harus mengatakan YA! Kita diingatkan agar senantiasa melatih iman kita, sehingga bertumbuh menjadi kuat. Seperti tertulis : "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5).

Tidak hanya itu, pertanyaan reflektif berikutnya: adakah kita sosok pribadi yang peka akan keadaan orang lain, yang membutuhkan perhatian dan pertolongan? Atau sebaliknya kita menjadi pribadi yang cuek dan tidak peduli? Egois. Padahal tanpa kita sadari, kita telah melanggar tugas panggilan dan pelayanan, bahkan terlebih menyia-nyiakan kesempatan mengalami kuasa Allah bekerja  dalam diri kita. Menilik tema Minggu ini kita menyadari bahwa ibadah tentu tidak hanya dimaknai saat kita berada di gereja. Ibadah berlanjut dalam hidup sehari-hari lewat kata daa perbuatan yang dilakukan. Firman Tuhan dalam Yakobus 1:27 menegaskan “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam  kesusahan mereka”

Allah menghendaki agar setiap kita menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkan pertolongan (Galatia 6:2). Karenanya, kita patut bersyukur dan merespon panggilan Allah untuk dipakai sebagai alat di tangan-Nya. Ketika kita bersedia membuka hati, kita akan menyadari bahwa apa yang Tuhan izinkan terjadi dalam setiap aspek kehidupan dan keberadaan kita ini, semuanya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Yakinilah bahwa kesempatan dipakai oleh Tuhan untuk melayani sesama adalah sebuah anugerah.  Allah sangat mengasihi kita, makhluk ciptaan-Nya yang termulia. Dia rela menderita, untuk kita yang tegar tengkuk. Betapa sangat berharganya kita di mata Allah dan begitu kasihnya Allah pada kita. Ia senantiasa memberikan yang terbaik bagi kita. Rancangan-Nya senantiasa mendatangkan damai sejahtera (Yeremia 29:11).

Sebagai respons syukur atas anugerah Allah dalam hidup kita, maka kita dipanggil untuk  mewujudnyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah dalam hidup keseharian kita. Syukur itu nampak ketika bersedia mempersembahkan tubuh kita dipakai menjadi alat di tangan-Nya untuk pewartaan kasih-Nya. Inilah yang dituliskan dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Roma yaitu Roma 12:1 "Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati".

Hari ini gereja Tuhan yaitu Gereja Kristen Indonesia (GKI), yang tersebar mulai dari Batam-Bali dan menurut data terakhir berjumlah 223 Jemaat, memperingati 26 tahun penyatuan Sinode GKI. Hari ini pula diadakanlah pertukaran pengkhotbah yang diatur secara Sinodal oleh Sinode GKI. Dalam 26 tahun perjalanan GKI, Kita menyaksikan karya Allah di dalam Yesus Kristus yang terus menyertai perjalanan kehidupan gereja-Nya. Dalam rasa syukur yang amat dalam itulah, kita semua dipanggil untuk terus menjadi berkat, mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama, sehingga melaluinya hanya nama Tuhan yang dimuliakan.

 

Selamat Ulang Tahun GKI!

Selamat berkarya dalam setiap tugas panggilan yang Kristus percayakan!

Tuhan Yesus memberkati.

 

Penulis : Susijanti Surjana

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 21/Minggu, 24 Agustus 2014

 
Dipanggil untuk Memerdekakan PDF Print E-mail
Written by Husni Setyabudi   
Saturday, 16 August 2014 07:50

Hari ini Negara Indonesia memperingati Ulang Tahun kemerdekaan yang ke-69. Suasana kemerdekaan tertuang kembali dalam warna merah dan putih yang digunakan sebagai dekorasi di berbagai tempat. Acara-acara di televisi pun mengusung nuansa kemerdekaan. Demikian pula dalam kebaktian hari ini. Amat istimewa bahwa tanggal 17 Agustus tahun ini bertepatan pada hari Minggu, sehingga kita bisa turut memperingati bersama melalui ibadah yang kita laksanakan. Kita akan kembali mengingat dan mensyukuri kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, sebagai gereja kita pun diingatkan untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan dalam hidup kita sebagai bagian dari Negara Indonesia.

Berangkat dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, kita tahu bahwa keadaan sebagai bangsa terjajah sangatlah menyengsarakan. Para pejuang berupaya sekuat tenaga untuk meraih kemerdekaan. Bahkan sampai harus mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Kondisi  ini dapat dikatakan memiliki kesamaan ketika Yesus mengajar. Kala itu, Bangsa Yahudi tengah dijajah oleh bangsa Romawi. Bangsa Yahudi merindukan kehadiran Mesias yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan. Dalam situasi demikian Yesus hadir dan memberikan   pembebasan, namun pembebasan di sini adalah pembebasan dari dosa berupa pengampunan jiwa.

Sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, kita sudah memperoleh kemerdekaan tersebut. Pertanyaannya, apakah yang harus kita lakukan dalam alam kemerdekaan ini sebagai bagian dari orang yang telah diselamatkan? Masih ada orang di sekeliling kita yang masih belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, saatnya kita berbuat sesuatu agar orang lain juga “merdeka”.

Dalam bacaan Injil Matius 15:21-28, dikisahkan tentang kepedulian Yesus kepada perempuan Kanaan yang memohon agar anaknya disembuhkan dari kerasukan setan yang dideritanya. Perempuan Kanaan ini bukan orang Yahudi, namun berita Injil menuliskan Yesus mengasihi dan tetap menolongnya. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para murid. Mereka justru menyuruh Yesus untuk mengusir perempuan tersebut. Melalui kisah ini kita diingatkan bahwa panggilan kita sebagai bagian dari Negara Indonesia adalah menyatakan kasih dan kepedulian bagi semua orang. Tidak hanya kepada mereka yang “sama” dengan kita (baik suku, agama, budaya), namun juga kepada mereka yang “berbeda” dengan kita.

Pada bacaan pertama yaitu kitab Kejadian 45:1-15, status Yusuf di tanah Mesir lebih dari orang yang sudah merdeka sebagai budak. Dituliskan bahwa kini ia sudah menjadi orang yang berkuasa. Namun ketika saudara-saudaranya datang kepada Yusuf, ia tidak menggunakan kekuasaannya untuk membalas dendam. Sebaliknya, ia menolong saudara-saudaranya dengan penuh kasih dan hal itu nyata ketika Yusuf membebaskan mereka dari kelaparan yang melanda.

Kisah perjalanan Yusuf juga menjadi perenungan bagi kita. Apakah kemerdekaan kita sebagai pribadi membawa penindasan bagi orang lain? Tentu saja dengan tegas kita harus mengatakan TIDAK! Kemerdekaan yang sesungguhnya haruslah digunakan untuk melaksanakan kebenaran, menyatakan kasih dan kebaikan, serta ‘memerdekakan’ sesama. Itulah sejatinya panggilan kita semua.

 

Selamat Memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke-69!

Tuhan memberkati

 

 

Penulis : Husni Setyabudi

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 20/Minggu, 17 Agustus 2014 

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 7 guests online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini14
mod_vvisit_counterKemarin31
mod_vvisit_counterMinggu Ini100
mod_vvisit_counterBulan Ini482
mod_vvisit_counterKeseluruhan66518

Login Form