ja_mageia

Pokok Doa (Sakit)
1. Dian Panglipuringtyas
2. Ibu Yulianty
3. Ibu Nanik 
4. Ibu Totty Atman
5. Ibu Listiani Rachman
6. Ibu Sintawati
7. Ibu Wahyu Wirdaningsih
8. Ibu Iyan Haryani 
   
    

 

    
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
Tawaran Sang Gembala Agung: Hidup Berkelimpahan Bersama Komunitas PDF Print E-mail
Written by Ricky Frans Lisal   
Saturday, 25 April 2015 13:57

Hidup berkelimpahan adalah dambaan semua orang. Setiap orang ingin mendapatkan hidup berkelimpahan, agar dapat memenuhi bukan hanya keperluannya saja namun semua keinginannya. Hampir selalu keinginan lebih banyak dibanding kebutuhan.

Keinginan untuk hidup berkelimpahan, membuat manusia jatuh pada penyempitan makna hidup yang hanya diukur dari kepemilikan materi, jabatan dan kekuasaan. Pada akhirnya manusia menjadi jahat dan serakah serta menindas sesama. Manusia menjadi kehilangan kasih kepada sesamanya. Dunia kita saat ini memperlihatkan sempitnya makna hidup berkelimpahan. Manusia terlena dan mengabaikan pesan Allah sebagai Gembala Agung yang merupakan    pernyataan iman orang percaya.

Melalui peristiwa Paskah, kita merasakan kehadiran Allah yang penuh kasih, rela berkorban, melindungi dan memulihkan hidup. Jika kita telah menerima kasih Allah yang sempurna ini, sesungguhnya kita telah mendapatkan hidup yang berkelimpahan. Kita telah mendapatkan apa yang kita butuhkan:       penerimaan, penebusan dan kepercayaan dari Allah. Kelimpahan hidup yang Yesus berikan adalah kasih tanpa syarat (unconditional love) dan kekal (unending love).

Hidup berkelimpahan mensyaratkan hidup berkelimpahan bersama komunitas, seperti yang ditawarkan oleh Sang Gembala Agung: “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala“ (Yohanes 10:16). Hidup yang berkelimpahan bukan hanya milik pribadi dari mereka yang percaya kepada Allah, tetapi milik komunitas dunia ini.

Paskah selalu mengingatkan bahwa kita telah menerima hidup berkelimpahan dari Allah. Demikian pula, Paskah mengingatkan kita untuk berbagi hidup berkelimpahan bersama orang lain, bersama komunitas di luar diri kita. Kita dipanggil menjadi gembala bagi orang lain. Dunia kita yang tidak ramah saat ini membutuhkan kasih yang menerima, menebus dan memulihkan. The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others (Mahatma Gandhi).

Sebagai murid Tuhan Yesus kita diminta memberikan kasih, penerimaan dan berkat kepada banyak orang, agar banyak orang merasakan kasih Allah yang tanpa syarat dan kekal. Maukah kita menerima tawaran Sang Gembala Agung untuk hidup berkelimpahan bersama komunitas?

Selamat hari Minggu, Tuhan senantiasa  memberkati kita.

 

Penulis: Ricky Frans Lisal

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 4/XXI/Minggu, 26 April 2015 

 

 
KEBANGKITAN ADALAH PENERIMAAN PDF Print E-mail
Written by Supardjo   
Monday, 20 April 2015 05:53

Minggu ini merupakan Minggu Paskah III. Karena itu tema ibadah Minggu masih berbicara seputar kebangkitan Yesus. “Kebangkitan adalah Penerimaan”.     Mengapa disebut “penerimaan”? Paskah dihayati sebagai sebuah titik kemenangan iman yang mengubahkan hidup kita sekalian.

Kebangkitan Yesus yang diyakini menjadi bukti bahwa dosa setiap orang telah diampuni sehingga relasi dengan Allah dipulihkan dan akhirnya membawa kita pada pengharapan di dalam Kristus, menjadi kabar baik bagi kita semua, semua bangsa - tanpa terkecuali. Kabar baik yang membuat kita diterima, bahkan amat indah, kita diterima dan diakui sebagai anak-anak-Nya.

Inilah yang dituliskan dalam I Yohanes 3:1 “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah”. Yohanes menunjukan betapa besar kasih Allah yang telah “mengadopsi” kita sebagai anak-anak Allah. Tindakan adopsi yang dilakukan Allah didasarkan pada kasih dan penghargaan-Nya kepada kita. Tindakan adopsi ini membawa kita ke dalam kualitas hidup yang baru.

Kualitas hidup yang baru sebagai anak-anak Allah tentunya mendorong kita bersedia terus-menerus belajar untuk berperangai seperti Yesus sebagai teladan dalam hidup kita. Tentu tidak ada yang instan dalam proses tersebut. Butuh perjuangan dan upaya dalam diri, diiringi dengan tuntunan Roh Kudus di dalamnya. Dengan demikian, akan ada damai mengiringi kita dan memungkinkan kita bersaksi dan memberitakan kabar baik. Bersaksi adalah status sebagai anak Allah, bukan memakai mulut, melainkan memakai seluruh hidup kita (The witness of God).

Selamat menghayati Minggu-minggu Paskah.

Damai sejahtera bagi kita sekalian.

Amin.

 

Penulis: Supardjo

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 3/XXI/Minggu, 19 April 2015 

 

Last Updated on Monday, 20 April 2015 05:57
 
Kuasa Kebangkitan Yesus Memampukan Umat untuk Berbagi PDF Print E-mail
Written by Jayadi Sucitra   
Sunday, 12 April 2015 14:32

Minggu yang lalu, kita baru saja merayakan “Paskah” yaitu merayakan peristiwa kebangkitan Yesus. Tema Paskah yang baru saja kita lalui adalah “Kuasa Kebangkitan-Nya Memulihkan”. Sedangkan tema ibadah pada minggu ini adalah “Kuasa Kebangkitan Yesus Memampukan Umat untuk Berbagi”. Sepertinya ada hubungan yang berkelanjutan antara tema Paskah dengan tema ibadah pada minggu ini.

Untuk dapat berbagi, tentunya kehidupan kita harus lebih dahulu dipulihkan, kita harus mengalami pemulihan baik dalam hubungan kita dengan Tuhan maupun dengan sesama. Saya yakin kita sebagai umat Tuhan telah mengalami pemulihan bukan saja pada saat perayaan Paskah yang lalu, tetapi sudah sejak lama, yaitu sejak mengenal Yesus secara pribadi. Kita juga tentunya sudah berbagi kepada sesama kita dalam kehidupan sehari-hari kita. Tetapi seperti yang dialami oleh jemaat di Efesus, terkadang kasih yang semula kita miliki menjadi luntur bahkan kita meninggalkan kasih tersebut. Oleh karena itu Tuhan mengingatkan jemaat di Efesus seperti yang tertulis dalam Wahyu 2:4, “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula”.

Berbagi merupakan ungkapan kasih karena kita telah merasakan kasih Tuhan terlebih dahulu dalam kehidupan kita. Kasih-Nya nyata ketika   Tuhan Yesus telah memberikan diri-Nya, mati disalibkan untuk menebus dosa-dosa kita. Melalui peristiwa Kebangkitan Yesus, kita diingatkan akan kuasa Tuhan yang telah mengalahkan maut. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus juga tidak berdiam diri tetapi Ia memperhatikan keadaan murid-murid-Nya yang masih mengalami ketakutan, kesedihan dan kekecewaan. Oleh karena itu, Yesus datang menampakkan diri kepada murid-murid-Nya untuk memberikan pengharapan (Yohanes 20:19-29). Melalui perjumpaan dengan Yesus, murid-murid merasakan sukacita karena Yesus benar-benar telah bangkit. Yesus juga memberikan kedamaian bagi murid-murid-Nya dengan berkata sebanyak tiga kali “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19,21&26). Melalui peristiwa ini, kita diingatkan untuk juga bersedia meneladani Yesus agar kita dapat memberikan “pengharapan”, “sukacita” dan “mendatangkan damai sejahtera” bagi sesama di sekitar kita.

Melalui bacaan dari Kisah Para Rasul 4:32-35, kita juga bisa belajar dari cara hidup jemaat mula-mula yang selalu berbagi, sehati dan sejiwa, serta meyakini bahwa apa yang dimilikinya adalah milik bersama. Dalam kehidupan saat ini, memang tidak mudah untuk dapat meneladani cara hidup jemaat mula-mula. Di dunia yang modern ini, memberikan sedikit waktu untuk memerhatikan sesama kita merupakan hal yang sulit, karena kita terlalu sibuk dengan kegiatan kita sendiri. Untuk berbagi apa yang kita miliki terkadang juga sulit, kita selalu merasa kurang karena kita berpacu dengan kemewahan. Tanpa pimpinan Roh Kudus, jemaat mula-mula juga tidak mungkin mampu melakukan semua hal ini. Dengan pimpinan Roh Kudus dan melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, jemaat mula-mula dapat merasakan kasih yang nyata yang mereka saksikan sendiri. Oleh karena itu mereka mempunyai semangat untuk membagikan kasih yang telah mereka peroleh sehingga mereka hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah (Kis. 3:33). Biarlah kita juga memohon pimpinan Roh Kudus agar kita dimampukan untuk dapat selalu berbagi dan sehati sejiwa dalam kehidupan berjemaat kita.

Mazmur 133 mengajarkan kita agar dapat memelihara persaudaraan yang rukun. Damai sejahtera yang telah Tuhan berikan, juga dapat terjadi jika kita memelihara persaudaraan dengan hidup rukun. Memelihara persaudaraan bukan saja dengan saudara-saudara seiman tetapi juga dengan saudara-saudara yang tidak seiman. Di tengah-tengah keberagaman kehidupan di negara ini, hendaknya kita juga dapat menjadi terang dengan saling memerhatikan, menjaga keharmonisan dan memelihara persaudaraan. Kegiatan-kegiatan gerejawi yang kita lakukan juga agar dapat menjadi berkat bagi saudara-saudara kita yang tidak seiman sehingga dapat mendatangkan damai sejahtera.

Berbagi bukan semata-mata hanya berupa harta milik, tetapi dapat dinyatakan juga dalam berbagai hal, seperti:

· Memberi waktu untuk mendampingi orang yang sedang kesepian atau kedukaan.

· Memberi hati dan memberi telinga untuk mendengarkan keluh kesah seseorang.

· Memberi semangat bagi orang yang sedang putus asa.

· Memberi pengampunan bagi orang yang telah menyakiti kita.

Kiranya melalui peristiwa kebangkitan Yesus, kita diingatkan kembali akan kasih Tuhan yang begitu besar yang telah kita terima, sehingga pada akhirnya kita dimampukan untuk berbagi kasih bagi sesama. Tuhan memberkati.  

 

 

Penulis: Jayadi Sucitra

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 2/XXI/Minggu, 12 April 2015 

 
KUASA KEBANGKITAN-NYA MEMULIHKAN PDF Print E-mail
Written by Andreas D. Abraham   
Monday, 06 April 2015 08:59

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kita telah melewati Minggu Pra-Paskah I hingga VI. Melalui Minggu-minggu Pra-Paskah kita telah diingatkan untuk mempersiapkan diri memperingati perjalanan pengorbanan Tuhan Yesus sampai di atas kayu salib, mati dan dikuburkan untuk menebus dosa-dosa kita umat manusia.

Namun tidak berhenti hingga di situ, berita Firman menuliskan bahwa pada hari yang ke-3 Tuhan Yesus telah bangkit mengalahkan kuasa maut. Inilah yang kita rayakan saat ini pada hari Paskah. Paskah yang setiap tahun kita peringati merupakan peringatan akan kebangkitan Tuhan Yesus yang sudah dibangkitkan oleh Allah dan telah memberikan karya keselamatan bagi kita umat manusia. Kebangkitan-Nya adalah sebuah kepastian, tidak perlu diragukan. Inilah yang dituliskan dalam Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus, yaitu I Korintus 15:4-6 “bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada 12 murid-Nya. Sesudah itu Tuhan Yesus menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus, kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.”

Tema Paskah tahun 2015 ini adalah “Kuasa Kebangkitan-Nya Memulihkan”. Pertanyaan ini menjadi pertanyaan reflektif bagi kita     sekalian. Apakah Saudara sungguh merasakan kuasa kebangkitan-Nya Memulihkan kita?

Seharusnya sebagai umat Kristen kita yakin dan percaya serta merasakan bahwa Tuhan yang bangkit telah memulihkan kita. Dalam Injil Yohanes 20:1-10, Simon Petrus dan para murid lainnya mendapati bahwa batu kubur Yesus sudah terbuka dan kosong, sehingga mereka melihat sendiri dan percaya bahwa Yesus sudah bangkit. Demikian juga Tuhan Yesus menampakkan diri di depan Maria Magdalena seperti ditulis pada Yohanes 20:16-18 bahwa akhirnya Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid lain: “Aku telah melihat TUHAN!” Kuasa Kebangkitan Kristus memulihkan para murid Yesus. Dari yang awalnya putus asa, didera kebimbangan dan kehilangan pengharapan, namun melalui kebangkitan Kristus mereka memiliki pengharapan di dalam dan bersama dengan  Yesus. Hati mereka diliputi dengan sukacita yang amat besar karena berjumpa dengan Yesus yang bangkit, dan itu mengubah kehidupan mereka.

Merenungkan kisah kebangkitan Kristus, maka kita diajak untuk berefleksi dan mengubah sikap hidup kita setiap hari. Kita manusia yang lemah dan berdosa, namun melalui penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui peristiwa Salib, kita beroleh kehidupan yang baru. Oleh karenanya kita harus hidup dengan sikap penuh rasa bersyukur dalam setiap karya dan pelayanan kita. Kita diingatkan untuk berbela rasa, memiliki sikap kasih serta menjadi terang seperti yang diajarkan Tuhan Yesus bagi sesama, tanpa membeda-bedakan. Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 10:34-36 juga menyatakan bagaimana Allah tidak membedakan orang. “Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah TUHAN dari semua orang.”

Kiranya semangat Paskah melalui keteladanan Kristus dalam pimpinan Roh Kudus menginspirasi kita untuk juga menyatakan kasih kepada sesama di sekeliling kita. 

 

SELAMAT PASKAH

TUHAN YESUS MEMBERKATI

 

Penulis: Andreas D. Abraham

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 1/XXI/Minggu, 5 April 2015 

 

 
MENGOSONGKAN DIRI, TAAT MEMIKUL SALIB PDF Print E-mail
Written by Rismauli V. P. Aruan   
Sunday, 29 March 2015 00:01

Tema ibadah kita Minggu ini adalah “Mengosongkan Diri, Taat Memikul Salib”. Kenosis adalah kata Yunani untuk “kekosongan”. Mengosongkan diri (kenoo) digunakan dalam arti mengosongkan, menghapuskan, membuat tidak berpengaruh (make of no effect), kehilangan pembenaran. Kata kosong merujuk kepada berbagai hal, seperti misalnya keadaan kosong pada suatu rumah berarti tidak memiliki benda, sedangkan kosong pada seorang manusia berarti suatu keadaan tanpa perasaan, bodoh, bahkan tanpa guna dan tidak bernilai.

Minggu Pra-Paskah VI kerapkali disebut sebagai Minggu     Palmarum serta Minggu Sengsara. Dalam kisah di Minggu Palmarum ini, kita menyaksikan dalam Berita Injil bahwa penduduk Yerusalem mengelu-elukan Yesus dengan nyanyian "Hosana". Umat yang semula menyanjung Yesus berubah menjadi kumpulan orang yang melampiaskan kemarahan dan kebencian, agar Yesus disalibkan.

Yesus dan murid murid-Nya masuk ke kota Yerusalem setelah melalui perjalanan di Yerikho, di mana Ia menyembuhkan seorang      pengemis yang buta bernama Bartimeus. Saat berada dekat Betfage dan Betania, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk mengambil seekor keledai. Injil Markus mempersaksikan kuasa Yesus yang mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi di depan, bahkan juga reaksi orang yang akan menanyakan alasan para murid untuk melepaskan keledai tersebut. Dalam Markus 8:31, Yesus berkata ”Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari". Kemampuan Yesus memprediksi masa depan berkaitan dengan prediksi-Nya tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya. Dengan demikian, keputusan Yesus pergi ke Yerusalem didasari pada kesadaran ilahi-Nya bahwa Dia melaksanakan kehendak dan rencana keselamatan Allah. Kesadaran ilahi Yesus merujuk pada kuasa Allah yang mahatahu (omniscience) tentang apa yang akan terjadi, sehingga peristiwa kematian yang dialami oleh Yesus merupakan wujud dari rencana keselamatan Allah. Allah telah mempersiapkan karya keselamatan dalam penebusan, sehingga         penderitaan dan kematian Yesus merupakan karya pendamaian yang akan memulihkan dan mengampuni umat yang percaya kepada-Nya.

Umat Israel di Yerusalem memandang diri Yesus bagaikan seorang pahlawan yang menang berperang. Mereka menyebut Yesus sebagai Mesias, dan mereka menyaksikan Yesus berkuasa melakukan berbagai mujizat dengan kuasa ilahi, sehingga banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, untuk diinjak keledai yang ditunggangi Yesus dan mengikuti Yesus sambil berseru “Hosana! Hosana!”, yang  berarti “Oh, selamatkanlah sekarang, sudilah menyelamatkan kami!” Penduduk Israel memohon agar Yesus Sang Mesias Allah berkenan menyelamatkan mereka dari penjajahan Bangsa Romawi. Apabila mereka telah terbebas dari penjajahan politis, maka mereka berharap berdirinya Kerajaan Mesias yang jaya seperti kerajaan Daud     menguasai seluruh kehidupan umat. Pengharapan politis ini membutakan mata hati dan iman mereka untuk melihat dan menyadari makna dan tujuan sesungguhnya arti kehadiran dan pekerjaan Yesus untuk menyatakan karya keselamatan Allah dengan memberikan hidup-Nya. Hal ini membuat penduduk Yerusalem sangat kecewa ketika Yesus tidak melakukan perbuatan mukjizat bahkan perlawanan sedikit pun saat diri-Nya ditangkap dan dianiaya. Teriakan “Hosana“ yang dikumandangkan kemudian berubah menjadi teriakan “salibkan Dia”.

Hal yang paradoks terlihat dalam keadaan di mana semua orang yang menyambut Yesus dengan kegembiran luar biasa bak raja yang datang, lalu menjadi kelompok  massa yang berteriak seperti kepada seorang penjahat yang menuntut kematian Yesus. Namun sungguh istimewa, Yesus menunjukkan kemuliaan-Nya dengan melepaskan hak-Nya mengosongkan diri, dan memilih secara aktif untuk tetap taat mutlak mengemban tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya. Yesus merendahkan diri-Nya, sekalipun Ia setara dengan Allah, memilih untuk menjadi hamba yang mengalami proses “perubahan”. Ini dituliskan dalam Surat Filipi 2, di mana dituliskan Yesus (1) Tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah, (2) mengosongkan Diri, (3) mengambil rupa seorang hamba, (4) menjadi sama dengan Manusia, (5) merendahkan diri, (6) taat sampai mati, (7) mati di atas kayu salib.

Rasul Paulus menunjukkan perbedaan sikap antara Kristus dan pemerintah Romawi. Pemerintah Romawi yang menjajah, senantiasa lebih cenderung untuk mencari kehormatan dan kemuliaan, dengan meningkatkan kedudukan dan status seseorang. Kecenderungan kita selaku umat, juga bisa lebih suka mencari kehormatan di balik pelayanan dan kesalehan. Kita terkadang juga tidak segan menggunakan nama Allah atau Kristus, walaupun sesungguhnya kita haus akan pujian dan kehormatan. Akan tetapi, Kristus bersikap sebaliknya. Ia turun dari kemuliaan-Nya dan statusnya sampai ke titik terendah, bahkan sampai pada status yang paling hina dengan mati di kayu salib. Berkurban dan memberikan nyawa-Nya bagi umat manusia. Kesediaan Kristus mengosongkan diri dan memberikan hidup-Nya, adalah supaya setip umat yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang berkelimpahan dengan anugerah. Prinsip teologis ini diteguhkan oleh Injil Yohanes: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan".

Tuhan Yesus sudah memberikan keteladanan positif yaitu ketaatan kepada Sang Bapa. Ketaatan ini mestinya diresponi oleh kita sebagai anak-anak-Nya. Ia menghendaki kita untuk juga memiliki ketaatan dalam perjalanan hidup kita. Ketaatan yang bukan ditentukan oleh keadaan, namun ketaatan karena pembaharuan kasih kita kepada-Nya, demi kemuliaan-Nya dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

Penulis: Rismauli V.  P. Aruan

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 52/XX/Minggu, 29 Maret 2015

 

Last Updated on Sunday, 29 March 2015 00:02
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini12
mod_vvisit_counterKemarin18
mod_vvisit_counterMinggu Ini12
mod_vvisit_counterBulan Ini486
mod_vvisit_counterKeseluruhan71131

Login Form