ja_mageia

Pokok Doa
 1. Bangsa & Negara
 2. Pemilu 2014
 3. Gereja-gereja di Indonesia
 4. GKI Perumahan Citra1
     - Kesatuan hati (MJ/BP/Aktifis)
     - Kerinduan umat utk melayani
 5. Bencana Alam di Indonesia
 6. Panitia Paskah 2014 

 

  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
AKULAH SANG PEMENANG PDF Print E-mail
Written by Pnt. Linda Silvana Pinontoan   
Saturday, 12 April 2014 10:46

Menang! Jadi Pemenang!!

Siapa yang tidak menginginkan kedua hal di atas.  Memenangkan sesuatu dan menjadi pemenang tanpa kita sadari merupakan pergulatan hidup manusia dari waktu ke waktu. Sejak dilahirkan, seorang bayi manusia telah belajar untuk memenangkan perhatian orang tuanya atau orang-orang di sekitarnya lewat tangisannya, supaya mereka memenuhi kebutuhannya.

Memasuki masa sekolah, pada umumnya para siswa berusaha mencapai nilai-nilai terbaik dalam bidang akademik agar unggul dari siswa lainnya dan kemudian menduduki peringkat atas di kelas maupun sekolah, yang tentu saja dengan dukungan dan tekanan baik dari orang tua maupun para guru (dan entah pada akhirnya keunggulan itu untuk kepentingan siapa --- siswakah? Orang tuanya? atau guru dan sekolah?). Selanjutnya dalam dunia pekerjaan dan usaha, semakin jelaslah prinsip harus menang tersebut berkumandang. Orang berlomba-lomba meraih prestasi kerja untuk posisi yang lebih tinggi dan bergengsi, berlomba-lomba meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dalam usaha yang dijalankan. Bahkan saat ini bangsa Indonesia sedang disuguhi aroma menang kalah partai-partai politik yang tengah memperebutkan suara rakyat dalam pemilihan legislatif pada tanggal 9 April lalu, dan kemudian pemilihan presiden pada tanggal 9 Juli 2014 yang akan datang.

Salahkah keinginan untuk menang tersebut? Salahkah kita berupaya untuk memenangkan sesuatu? Tentu saja tidak! Persoalannya menjadi salah ketika konsep pemikiran kita dan upaya-upaya kita untuk meraih kemenangan tersebut hanya semata berpusat pada diri sendiri. Sebagai makhluk hidup, manusia diperlengkapi juga dengan naluri mempertahankan dirinya, dari sini kemudian berkembang, seiring dengan perkembangan budaya dan konsep dirinya, manusia merasa perlu untuk tidak sekedar 'aman' tapi juga mengalahkan pihak lain. Pada titik inilah pemahaman akan menang dan jadi pemenang bertentangan dengan sudut pandang Allah. Sebagai anak-anak Tuhan selayaknyalah kita berjuang untuk menang dalam hidup ini dengan cara yang berkenan kepada-Nya.

Melalui bacaan-bacaan Alkitab pada minggu ini kita merenungkan  kemenangan seperti apa yang dikehendaki Allah dan yang seharusnya kita raih dalam hidup ini. Hamba Tuhan dalam Yesaya 50:4-9 mengalami pelecehan yang luar biasa, namun ia menahan diri untuk tidak membalas dengan melakukan hal serupa, ia justru berusaha  mengalahkan kemarahan dan keinginan dirinya untuk berontak. Ia percaya Allah akan memberikannya kemampuan itu, dan ia menang atas pergulatan batinnya yang tersiksa. Dalam Mazmur 31:10-17 kita belajar dari pemazmur yang sedang berada dalam kesesakan karena perbuatan jahat orang lain, alih-alih minta kekuatan untuk mengalahkan musuh-musuhnya, sebaliknya ia mohon kekuatan untuk menguasai kekecewaan dan kemarahannya. Filipi 2:5-11 menyatakan bahwa agar mampu menguasai diri dan hati yang sedang bergumul kita seharusnya meneladani Tuhan Yesus. Kemudian dalam Matius 21:1-11 arti kemenangan bagi Yesus jelas bukan untuk mengalahkan pihak lain, namun menguasai diri agar taat dan setia pada kehendak Allah hingga pada akhirnya Ia menang atas dosa.

Dalam Minggu Pra-Paskah VI ini, kita menyadari betapa jauh makna kemenangan itu menurut dunia dan menurut Allah. Dalam pergumulan di sepanjang jalan kehidupan kita saat ini, kita tetap perlu terus berjuang untuk menang dalam banyak hal, namun marilah kita meraih kemenangan itu dengan sudut pandang yang dibarui oleh Roh Kudus, bukan kemenangan demi egoisme kita sehingga orang lain harus kalah, sebaliknya menang atas diri kita sendiri sehingga kita mampu meraih kemenangan yang sesungguhnya, yang berkenan pada Tuhan. Mungkin sulit, tetapi kita meyakini bahwa Tuhan akan menolong dan memampukan kita.

Tuhan memberkati!

 

Penulis : Pnt. Linda Silvana Pinontoan

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 2/XX/Minggu, 13 April 2014 

 
AKULAH KEBANGKITAN DAN HIDUP PDF Print E-mail
Written by Susijanti Surjana   
Sunday, 06 April 2014 11:28

“Akulah kebangkitan dan hidup”, adalah pernyataan Yesus tentang: Siapa Dia! Pernyataan ini tidak seperti yang banyak tertulis di Baliho-baliho jalan di seluruh Indonesia saat ini, dalam rangka kampanye menjelang Pemilu Legislatif tanggal 9 April 2014 mendatang. Mereka semua sedang berlomba-lomba memperkenalkan diri serta menyatakan betapa baik dirinya dengan wajah penuh senyuman untuk mencari simpati, agar terpilih menjadi pemimpin di daerah maupun di pusat. Tidak hanya itu, janji-janji manis pada masyarakat yang ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan partai yang mengusung dirinya dan kepentingannya pribadi, itulah yang kita lihat dan temukan saat ini menyambut pesta demokrasi Indonesia.

Hal ini berbeda dengan pernyataan Yesus. Dia tidak mencari popularitas diri-Nya, melainkan agar kita tahu siapa Dia, dan mengerti maksud kedatangan-Nya ke dunia ini, yaitu semata-mata untuk  kebaikan kita. Ketika Yesus mengatakan: ”Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya pada-Ku, ia akan hidup walau ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selamanya.” (Yoh 11:25-26), ada hal serius yang hendak dinyatakan-Nya. Tetapi sungguh menyedihkan, seringkali kita tidak mengerti dan mengabaikan bahkan melupakan pernyataan itu. Ketika keadaan diri kita sedang bingung, terpuruk dan berbeban berat; kita hanya menjadi kecewa, marah, menyesali diri, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, dan seringkali menyalahkan Tuhan. Kita menjadi pribadi yang teguh beriman dan berupaya untuk mengatasinya.

Yesus telah menyatakan: ”Akulah  kebangkitan dan hidup ..... dan  setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selamanya.” Tinggal sekarang kita mau percaya atau tidak. Yang hidup tidak akan mati selamanya! Inilah intinya, mati bukan berarti hanya secara jasmani, tetapi juga rohani. Kita diminta untuk percaya, bahwa Dia sanggup membangkitkan kita dari kelemahan, kesedihan, kesulitan, keterpurukan, keputusasaan dan dari apa saja yang kita hadapi dalam hidup ini, asal kita mampu menjawab seperti jawaban Marta atas pertanyaan Yesus: ”Percayakah engkau dalam hal ini?”(Yohanes 11:26b) dan kita dengan penuh keyakinan dapat menjawab: ”Ya, Tuhan, aku percaya”. Aku percaya, bahwa Yesus mampu melakukan apa saja dan mampu untuk menolongku.

Pertanyaannya, mengapa terkadang sulit bagi kita untuk dapat  menjawabnya dengan penuh iman seperti itu? Kita harus memeriksa diri kita. Mungkin pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat menjadi acuan untuk mengenali diri kita masing-masing.

- Sudahkah kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus?

- Seberapa banyak waktu yang kita  gunakan untuk berdoa dan membaca Firman?

- Seberapa jauh kita mengenal Yesus dan mengerti kehendak-Nya dalam hidup kita?

- Seberapa sering kita mengalami firman yang disampaikan-Nya dalam keseharian kita?

- Seberapa besar keinginan serta kerinduan kita untuk melibatkan Yesus dalam hidup kita hari lepas hari?

- Seberapa besar firman Tuhan mempengaruhi perasaan, pola pikir, keputusan yang kita ambil dalam setiap segi kehidupan kita?

 

Masing-masing dari kita tentu dapat membuat pertanyaan-pertanyaan reflektif lainnya, sehingga kita makin mengenal diri kita dan seberapa berartinya Yesus dalam hidup kita pribadi lepas pribadi. Yesus tahu, bahwa Allah berkenan dengan apa saja yang Yesus lakukan; tetapi Dia selalu menyatakan, memohon, minta izin, berbicara kepada Allah Bapa; untuk menyatakan bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Dan kita pun dapat   berbicara, menyatakan keinginan, memohon pertolongan, dan minta apa saja pada Bapa di dalam Yesus; asal kita juga tinggal di dalam Dia, dan firman-Nya ada pada kita.

Akhirnya biarlah kemenangan Kristus atas maut, menjadikan kita pribadi-pribadi yang tangguh, yang selalu ingin menyatakan kemuliaan Allah dalam hidup keseharian kita. Lagu dari Kidung Jemaat 436: ”Lawanlah Godaan” akan mengingatkan kita untuk senantiasa berharap pada Yesus:

 

Lawanlah Godaan

 

Lawanlah godaan, s’lalu bertekun;

tiap kemenangan kau tambah teguh;

nafsu kejahatan harus kau tentang,

harap akan Yesus: pasti kau menang.

 

Reff: Mintalah pada Tuhan, agar kau dikuatkan;

Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang.

 

 

Tuhan Yesus memberkati!

 

Penulis : Susijanti Surjana

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 01/XX/Minggu, 6 April 2014 

 
Akulah Terang Dunia PDF Print E-mail
Written by Husni Setyabudi   
Sunday, 30 March 2014 00:00

Dalam beberapa minggu terakhir ini kita sebagai warga Asia menyimak setiap hari pemberitaan mengenai hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370. Kita berempati pada keluarga para penumpang. Ini adalah mimpi buruk bagi banyak orang, setiap hari yang diharapkan dan dituntut oleh banyak pihak adalah penjelasan dari yang berwenang mengenai bagaimana pesawat itu bisa menghilang. Kepastian menjadi titik terang yang dapat mengakhiri drama penantian selama ini.

Bagaimana dengan orang yang buta sejak dilahirkan (Yohanes 9:1-23; 37-41)? dia tidak dapat mendefinisikan terang itu seperti apa karena tidak pernah melihatnya. Mungkin bagi dia yang namanya terang itu adalah rasa hangatnya matahari atau panasnya api, itupun kata orang lain. Orang buta selalu sadar akan kebutaannya sehingga ia selalu memerlukan orang lain untuk menuntunnya. Berbeda dengan kebutaan secara rohani, kebutaan rohani tidak pernah membawa kesadaran akan kebutaannya bahkan orang yang buta rohaninya sering merasa dirinya paling benar dan suci. Kita sebagai anak-anak Tuhan yang sudah dicelikkan mata rohaninya, sekarang kita dapat melihat terang berupa firman Tuhan, kita tidak buta rohani lagi. Hendaklah kita dapat menghargai ini, kita sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang berharga dan mana yang tidak berharga, mana yang berarti dan mana yang tidak berarti (Efesus 5:8-14). Sesudah dapat melihat, orang buta itu pasti tidak ingin jatuh terperosok parit atau berjalan membentur pohon namun ia dengan gembira akan berjalan dengan sukacita menunjukkan bahwa ia sekarang seperti orang biasa yang dapat melihat. Demikian pula dengan kita, hendaklah kita selalu bersuka cita berjalan dalam petunjuk firman Tuhan dan janganlah kita membenturkan diri pada larangan-Nya. Bahkan kita dapat menjadi suluh bagi  mereka yang sedang berjalan dalam kegelapan.

Ketika baru dapat melihat, orang buta itu hanya melihat satu hal yang sangat sederhana dan ajaib; tadinya buta dan sekarang dapat melihat. Dia tidak melihat hal lain yang dipersoalkan orang-orang sekelilingnya dan orang-orang Farisi (siapakah yang berbuat dosa sehingga matanya menjadi buta, siapakah yang menyembuhkan, dari mana datang-Nya, hari apakah ia disembuhkan). Baru setelah itu dia sadar siapa yang telah sesungguhnya melakukan kesembuhan padanya dan dia menjadi percaya. Sungguh besar anugerah yang diterima orang buta itu yaitu penyembuhan jasmani dan pencerahan rohani. Apabila kita berjalan dalam terang Tuhan hal-hal sederhana dapat menjadi sesuatu yang ajaib, yang dapat memukau jiwa kita yang membawa kita menjadi lebih percaya pada Terang itu. Tuhan memberkati.

 

Penulis : Husni setyabudi

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 52/XIX/Minggu, 30 Maret 2014 

 

 
HAMPARAN LADANG MENGUNING MENANTI ANDA PDF Print E-mail
Written by Widyadi Purwosuwito   
Saturday, 22 March 2014 14:12

Kebaktian Minggu Pra Paskah III hari ini bertepatan pula dengan seremoni Peneguhan Penatua pada kebaktian pk 09.00 dan Pelantikan Badan Pelayanan & Tim pada kebaktian pk 18.00. Ada sejumlah umat Tuhan di GKI Perumahan Citra 1 yang mengikrarkan tekadnya untuk berkarya melayani Tuhan sebagai penatua (anggota Majelis Jemaat) maupun sebagai personalia Komisi dan Tim.

Mungkin banyak di antara kita yang lupa atau mungkin belum tahu dengan momentum peneguhan penatua. Mengapa acara peneguhan penatua selalu jatuh pada minggu ke-3 atau ke-4 pada bulan Maret? Selain saatnya tepat dengan akan diawalinya tahun pelayanan yang baru pada tanggal 1 April 2014, juga ada sisi historis yang melatarbelakanginya.

Sejak ditandatanganinya ikrar Penyatuan GKI pada tanggal 26 Agustus 1988, maka tanggal tersebut yang ditetapkan sebagai hari ulang tahun GKI. Sebelumnya setiap sinode (wilayah) memperingati hari ulang  tahunnya masing-masing. Termasuk GKI SW Jabar memakai tanggal 24 Maret 1940 sebagai tonggak sejarah berdirinya Sinode GKI Jabar yang pada saat itu masih memakai nama THKTKH KHDB (Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Khoe Hwee Djawa Barat) berdasarkan penetapan oleh Zending Consulaat sebagai gereja yang berdiri sendiri, berbadan hukum melalui lembaran Negara (staatblad).

Oleh karena itu, bila hari ini dilaksanakan acara peneguhan dan pelantikan akan merupakan mata rantai yang terus berkesinambungan selama 74 tahun GKI SW Jabar memberdayakan umat melalui anak-anak Tuhan yang bersedia memberi dirinya untuk melayani di ladang-Nya. Apabila dikaitkan dengan lingkup yang lebih kecil yaitu Jemaat GKI Perumahan Citra 1, maka Jemaat ke-71 dari GKI SW Jabar ini tanggal 18 April 2014 nanti akan genap berusia 20 tahun. Di tahun 1994 dengan komposisi 17 orang penatua tanpa pendeta bahkan tanpa pendeta konsulen sekalipun, api semangat melayani itu terus berkobar tiada gentar. Hari ini dengan komposisi 32 orang penatua + 3 pendeta dan ratusan aktivis yang bersedia memberi diri tentunya api semangat melayani itu akan tetap pantang meredup.

Ada bagian dari pembacaan Injil hari yang tidak kita baca dalam perikop percakapan dengan perempuan Samaria (Yoh 4:1-42), sebuah dialog yang intens dan sarat makna. Pada ayat 35 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” Sejajar dengan itu Matius 9:37-38 menuliskan, Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Sebuah lagu di KJ 428 yang syair dan lagunya ditulis oleh H.A.Pandopo th 1984 kiranya menginspirasi dan memberi semangat baru bagi rekan-rekan yang akan diteguhkan  sebagai penatua maupun personalia badan pelayanan dan tim yang akan diresmikan.

 

1) Lihatlah sekelilingmu, pandanglah ke ladang-ladang

    yang menguning dan sudah matang, sudah matang untuk dituai!

    Refrein          :Lihatlah sekelilingmu, pandanglah ke ladang-ladang

                         yang menguning dan sudah matang, sudah matang untuk dituai!  

2) Apa arti ladang-ladang, apa yang perlu dituai?

    Ladang itu seluruh dunia, manusialah tuaiannya.

3) Milik siapa ladang itu? Untuk siapa tuaiannya?

    Milik Allah dan untuk Allah – isi dunia kerajaan-Nya.

4) Bukankah seisi dunia dicemarkan oleh dosa?

    Tapi Allah telah mengutus Juruselamat untuk semua.

5) Memang banyaklah tuaian; pekerja hanya sedikit.

    Minta Dia yang punya ladang mengirimkan penuai lagi.

6) Apa kita pun terpilih mengerjakan tugas itu?

    Kita juga dipilih Tuhan dan diutus ke dalam dunia.

 

Bila hari ini ada 13 orang calon penatua yang akan diteguhkan sebagai bagian dari Majelis Jemaat  dan sekian ratus aktivis yang akan diresmikan dalam struktur Badan Pelayanan dan Tim yaitu:  Komisi Anak, Komisi Remaja, Komisi Pemuda, Komisi Dewasa, Komisi Usinda, Komisi Musik, Komisi Perlawatan, Tim Guru Sekolah Minggu, Tim Pemusik Gerejawi, Tim Pelawat, Tim Perpustakaan, Tim Paideia, Tim Website, Tim Multimedia, Tim Kedukaan, Tim Kesehatan, Tim Pelaksana Pembentukan Pos Jemaat (TP3J). Maka ini adalah bukti penyertaan Tuhan yang sudah menyediakan orang-orang pilihan-Nya.

Perjumpaan perempuan Samaria dengan Tuhan Yesus telah mengubah paradigmanya, mengubah perilakunya, mengubah seluruh hidupnya. Kemudian membuahkan sebuah kredo: Yesus adalah Juruselamat dunia.

Hari ini bagi rekan-rekan penatua yang akan diteguhkan maupun personalia badan dan tim yang akan diresmikan juga akan mengalami perjumpaan dengan Sang Air Hidup yang terus akan memberi semangat yang baru untuk dipilih Tuhan dan diutus ke dalam dunia, member semangat yang baru di hamparan ladang menguning yang menanti Anda.

 

Penulis : Widyadi Purwosuwito

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 51/XIX/Minggu, 23 Maret 2014 

 

 
HANYA PERCAYA PDF Print E-mail
Written by Alfrest Zacharias   
Saturday, 15 March 2014 13:53

Tentu tidak dengan serta merta kita mau percaya dan membeli suatu barang atau produk yang ditawarkan oleh Sales Promotion Girl (SPG). Paling tidak kita harus mengerti dan mengetahui kualitas barang tersebut, dan apakah akan memberi manfaat bagi kita setelah dibeli.

Tema Minggu Pra-Paskah II di atas sangat singkat, sangat sederhana bahkan kelihatannya sangat mudah. Namun pertanyaannya apakah demikian, ketika kita menghayati dan memahaminya dalam kehidupan sebagai orang percaya?

Bacaan pertama Leksionari minggu ini diawali seorang tokoh Alkitab bernama Abram yang telah direncanakan Allah untuk “pergi dan meninggalkan” tempat asal dan ikatan keluarganya. Kejadian 12:1 mencatat sebagai permulaan kalimat yang dengan jelas dan tegas bahwa Allahlah yang memulai rencana dan tindakan yang menjadi sejarah bagi umat manusia itu. 

Percaya yang dipahami oleh Abram untuk pergi bukanlah suatu sikap dan tindakan yang sederhana ataupun mudah, tetapi sangat mempengaruhi seluruh segi kehidupannya. Ia pergi ke negeri baru yang “tersembunyi”, karena ia memang tidak pernah tahu seperti apa gambaran negeri yang akan dituju seperti yang difirmankan Allah  kepadanya.

Percaya yang dipahami Abram didasarkan atas kesetiaan dan ketaatannya sebagai suatu anugerah dari Allah sehingga ia merespons panggilan Tuhan untuk pergi ke tempat tersebut. Hal ini dapat kita  pahami seperti yang tertulis di dalam Ibrani 11:8.

Pemazmur dalam bacaan hari ini memberikan jawaban bahwa saat kita percaya, Allah yang tetap menjaga dan melindungi kita. Ketika kita merasa sudah tidak ada yang sanggup bertindak untuk menolong kita terhindar dari persoalan dan pergumulan, maka Allah kita sanggup melakukannya. Berefleksi dari pengakuan pemazmur “Pertolonganku ialah dari Tuhan”. Tuhan senantiasa senantiasa menjaga dan melindungi kita agar kita semua hidup di dalam-Nya.

Demikian pula ketika Rasul Paulus dalam Roma 4:1-5, 13-17 mengingatkan kita bahwa percaya yang dilakukan oleh Abraham (sebelumnya bernama Abram), bukan karena ia nantinya akan mendapat “upah” atau berkat dari Allah, tetapi lebih karena ia memaknai percaya itu sebagai suatu tindakan imannya kepada Allah. Abraham sadar akan pemeliharaan Allah, sehingga Paulus mengatakan tidak ada alasan bagi Abraham untuk berbangga dan bermegah karena dibenarkan oleh Allah, melainkan hanya karena kasih dan anugerah Allah saja.

Hanya percaya! Itu juga yang hendak disampaikan Yesus kepada kita semua melalui bacaan Injil Yohanes 3:1-17, yang mengisahkan tentang sosok Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Nikodemus tahu bagaimana cara menemui Yesus, sebagai seorang pemimpin ia punya sikap yang “tahu diri” dengan memulai percakapan “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah…” Apa yang                disampaikan memperlihatkan sikap seorang pemimpin yang sudah banyak memahami hukum Taurat, namun sesungguhnya Nikodemus belum memahami siapa Yesus. Hal ini bisa kita lihat pada “tanya jawab” selanjutnya.

Diawali dengan kata-kata “jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah”, hal ini tidak mudah dimengerti oleh seorang yang sudah memahami hukum Taurat di dalam kehidupannya. Nikodemus memahami secara harfiah bahwa seseorang harus “lahir lagi”, barulah ia dapat melihat Kerajaan Allah. Akan tetapi yang dimaksud oleh Yesus adalah “lahir kembali”, sehingga bisa melihat Kerajaan Allah (hidup).

Cara pandang dan pemahaman inilah yang hendak diubah oleh Yesus, baik kepada para murid dan kita semua. Apa yang dipahami oleh Nikodemus juga sering terjadi pada kita. Sudah semestinya kita dapat lebih mengerti dan mengetahui bahwa dengan hidup bertobat dan berbalik kepada-Nya maka kita bisa melihat Kerajaan Allah (memperoleh kehidupan kekal). Ia telah rela datang ke dunia ini untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi penebusan dosa kita. Semua dilakukan karena Ia begitu mengasihi kita dan dunia. Bukankah itu suatu anugerah yang sangat besar yang Allah berikan kepada kita orang berdosa ini? Jadi apa yang mau kita tunggu lagi, terimalah dan percayalah kepada-Nya serta hiduplah sesuai Firman-Nya dengan kesadaran dan tanpa paksaan, maka itulah kunci keselamatan kita.  

Selamat memasuki Minggu Pra-Paskah II. Kiranya Tuhan memberkati kita.

 

Penulis : Alfrest Zacharias

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 50/XIX/Minggu, 16 Maret 2014 

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini6
mod_vvisit_counterKemarin25
mod_vvisit_counterMinggu Ini95
mod_vvisit_counterBulan Ini287
mod_vvisit_counterKeseluruhan63492

Login Form