ja_mageia

Pokok Doa
 1. Bangsa & Negara
 2. Pemilu 2014
 3. Gereja-gereja di Indonesia
 4. GKI Perumahan Citra1
     - Kesatuan hati (MJ/BP/Aktifis)
     - Kerinduan umat utk melayani
 5. Bencana Alam di Indonesia

 

  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
MASIHKAH HATI KITA TERKOYAK? PDF Print E-mail
Written by Widyadi Purwosuwito   
Saturday, 19 July 2014 09:43

TUHAN-lah yang empunya bumi serta segala isinya,

dan dunia serta yang diam di dalamnya (Mzm 24:1).

Potret ketidak-adilan dan ketidak-setaraan terbuka lebar di belahan bumi mana pun, bahkan acapkali terpampang di sekitar kehidupan kita sehari-hari. Dominasi global,  penyalahgunaan kekuasaan, keserakahan dan individualisme telah menyebabkan kerusakan ekonomi, sosial, budaya dan politik global. Kerusakan bumi dan manusia semakin nyata terlihat mendunia, termasuk di Indonesia.

Fenomena Global

Temuan berikut adalah sebuah fakta tentang kerakusan manusia untuk melahap kekayaan bumi ciptaan Allah dan segenap isinya. Dan ini semakin memperlebar jurang kesenjangan antar manusia dan antar institusi negara. Pada tahun 2003, ada 7,7 juta orang memiliki kekayaan 1 juta dolar AS atau lebih. Jumlah kekayaan mereka ini mencapai 28,9 triliun dolar AS, atau hampir tiga kali lipat produksi nasional AS pada tahun yang sama. Pada saat yang sama, 840 juta orang di seantero dunia kekurangan pangan dan 1,5 milyar orang yang kebanyakan adalah perempuan, anak-anak dan penduduk asli hidup dengan kurang dari 1 dolar AS per hari.               Konsumsi barang dan jasa 20% orang-orang terkaya dunia setara dengan 86% konsumsi global. Penghasilan tahunan dari orang-orang terkaya yang berjumlah 1% sama dengan penghasilan orang-orang termiskin yang berjumlah 57%, dan paling sedikit 24.000 orang meninggal setiap hari karena kemiskinan dan kurang gizi.

Masalah-masalah lingkungan hidup pemanasan global, penipisan sumber daya alam, dan hilangnya keanekaragaman hayati semakin parah saja. Sebagai contoh, kita akan kehilangan 30-70 persen dari keanekaragaman hayati dunia dalam kurun waktu 20-30 tahun ke depan. Akibat pemanasan global yang terus meningkat mengakibatkan punahnya spesies-spesies dari bumi. Menurut penelitian, dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, 25% spesies hewan dan tanaman punah akibat pemanasan global. Sementara itu perang juga terus berkecamuk di banyak bagian dunia, militerisme dan kekerasan telah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. 1)

Fenomena Lokal

Indonesia adalah negara yang kaya potensi sumber daya alam, dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia (245 juta jiwa) dan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua (5,9% per tahun) dalam kelompok Negara-negara G-20. Namun Indonesia juga merupakan negara paling korup (peringkat 64 dari 177 negara), dengan kesenjangan kesejahteraan yang sangat (dan semakin) lebar. Jumlah penduduk miskin 11,37% dari populasi, atau 28,07 juta jiwa (Maret 2013). Tingkat pengangguran 6,25% atau 7,39 juta jiwa dari angkatan kerja (Agustus 2013). Distribusi kekayaan yang timpang: 17 orang Indonesia terkaya menguasai 5% PDB Indonesia (setara US$ 41,1 miliar). Disamping itu, kerusakan hutan meningkat dua kali lipat    menjadi 20.000 Km2/tahun (2012). Dan masih terjadi ketimpangan lainnya atas nama pembangunan: perdagangan manusia, eksploitasi tenaga kerja perempuan dan perpindahan rakyat secara geografis, ekonomi, politik, budaya dan ekologis, di mana kegiatan dan modal umumnya masih terpusat di Jawa dan Sumatera. Sistem kapitalisme yang menghasilkan pola-pola relasi sosial (gender, kelas, ras, kebangsaan dan lainnya) dan ketergantungan yang mengeksploitasi perempuan dan anak. 2)

Tuturan pemazmur bahwa bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan bagaikan hiasan ayat suci yang kita taruh di kaca lemari pajangan. Kita sering merasa apa yang kita punyai dalam hidup ini adalah milik kita karena kita telah berjuang mati-matian untuk dapat memilikinya. Legalisasi kepemilikan pun ada di tangan kita sehingga kita merasa sah untuk melakukan tindakan apapun seperti yang kita mau. Kita lupa bahwa orang lain dan sesuatu yang lain di luar diri kita adalah ciptaan dan milik Tuhan yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Hati yang trenyuh saat doa pengakuan dosa apakah hanya ada dalam ibadah minggu? Apakah  hati kita masih terkoyak ketika praktik ketidak-adilan ada di depan mata atau bahkan mungkin tanpa sadar kita sedang tergoda untuk melakukan tindakan serupa karena alasan kenyamanan diri yang enggan terusik dan tidak rela berbagi?

 

1. Dokumen refleksi 048A Raker BPMSW 2007-2011 oleh Pdt.Kuntadi Sumadikarya, dan dokumen AGAPE oleh Tim Keadilan Perdamaian dan Ciptaan DGD Jenewa 2006, diterbitkan oleh Pelayanan Masyarakat Kota HKBP Jakarta, 2008.

2. Term of Reference Seminar Nasional “Keserakahan, Keadilan dan Perdamaian” oleh Oikotree Indonesia, 2014. 

 

Penulis : Widyadi Purwosuwito

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 16/XX/Minggu, 20 Juli 2014

 

 
Rivalitas vs Solidaritas PDF Print E-mail
Written by Nathan Christianto   
Monday, 14 July 2014 13:55

Bulan Juni dan Juli tahun ini, kita mengalami 2 "event" besar; (i) yang satu berkaitan dengan pesta sepakbola sejagad; dan (ii) yang satunya berkaitan dengan pesta demokrasi pemilihan Presiden Republik Indonesia. Dari kedua event besar ini, penulis mendapati 2 hasil yang berbeda yang cocok untuk mengilustrasikan tema hari ini: Rivalitas vs Solidaritas.

Pesta sepakbola sejagad. Ya, itulah World Cup yang sedang ramai-ramainya. Dalam 1.5 minggu pertama, banyak orang sudah merasa kecewa karena beberapa kesebelasan dari negara favorit (Italia, Inggris, Spanyol) terpaksa harus tersingkir pada babak pertama. Semuanya ini adalah hasil semangat rivalitas yang tinggi; semuanya ingin menang dan meraih piala dunia. Negara lain harus kalah! Apakah benar seperti itu? Kalau dilihat dalam setiap permainan, semangat rivalitas itu dimulai dengan masing-masing pemain bersalaman sebelum bermain dan, setelah "bertempur" selama 90 menit, pertandingan diakhiri dengan kembali bersalaman dan bertukar kaos. Rivalitas selama 90 menit diakhiri dengan solidaritas antar pemain untuk bersalaman.

Dalam peristiwa yang lain, pemilihan Presiden Republik Indonesia, ceritanya berbeda. Persaingan antar calon Presiden dan Wakil Presiden diawali dengan masa kampanye dan debat antar calon. Di sini rivalitas antar calon untuk memenangi pemilu tahun ini sangat dimaklumi dan hal ini membuat setiap calon berupaya untuk memberikan yang terbaik. Akan tetapi, rivalitas murni yang tidak disertai dengan solidaritas akhirnya menimbulkan rasa mau menang sendiri, menghalalkan segala cara untuk menang dan mencari cara untuk  menjatuhkan saingannya. Kampanye hitam, politik uang, dan segala hal dicari dan dipakai hanya supaya bisa menang. Rivalitas di atas  solidaritas.

Pada cerita hari ini, Yakub dengan semangat rivalitasnya ingin merebut hak kesulungan dari kakaknya Esau. Semangat rivalitas ini juga diperparah oleh kondisi di mana Ishak, bapa dari Esau dan Yakub yang berhak memberikan hak kesulungan ternyata lebih mengasihi Esau. Alhasil, segala cara coba dicari oleh Yakub untuk dapat merebut hak kesulungan.  Akhirnya didapatinya sebuah kesempatan saat Esau sangat lapar dan lelah dari padang dan mereka saling bertukar: hak kesulungan direbut Yakub dan Esau menerima semangkuk sup merah dan roti! Apakah ini hanya karena kesalahan Esau yang tidak menghargai hak kesulungan? Tidak! Yakub juga bersalah karena, dengan semangat rivalitasnya, ia menghalalkan segala cara dan mengorbankan solidaritasnya pada saat melihat kakaknya Esau sedang kelaparan dan kelelahan dan menggunakan kesempatan itu untuk "menjatuhkan" Esau dengan merebut hak kesulungannya. Hal ini menimbulkan konsekuensi yang besar yang akhirnya membuat ketidakharmonisan antara Esau dan Yakub untuk waktu yang cukup lama.

Semangat rivalitas bukan hal yang buruk. Tanpa rivalitas, manusia tidak terpacu untuk memberikan yang terbaik dari dirinya. Bayangkan pertandingan sepakbola di mana semua pemain mau mengalah! Hasilnya adalah sepakbola "gajah", yang tidak menarik sama sekali. Bagaimana kita dapat mengontrol diri dan mengimbangi rivalitas dengan solidaritas? Dalam bacaan Roma 8:1-11 dan Matius 13:1-23, hidup dalam roh dan menjadikan hati kita menjadi tanah yang subur untuk Firman Tuhan adalah satu-satunya cara agar kita tidak lupa diri, termasuk lupa diri terhadap solidaritas. Indikator yang kita bisa rasakan adalah kalau kita cenderung mau menang sendiri dan menghalalkan segara cara, termasuk menjatuhkan orang lain, ini adalah tanda-tanda orang yang lupa akan solidaritas.

Selamat berjuang dalam hidup dan memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan, inilah semangat rivalitas. Tempatkan Tuhan di atas rivalitas dengan memperhatikan apakah semangat rivalitas kita memberikan hasil yang positif dan kebaikan buat orang lain, inilah semangat solidaritas.

Tuhan memberkati. Amin.

 

Penulis : Nathan Christianto

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 15/XX/Minggu, 13 Juli 2014 

 
Allah Menuntun dan Menolong PDF Print E-mail
Written by Reyn Hard Dinguamah   
Wednesday, 09 July 2014 05:12

Bila suatu saat kita berkenalan dengan seseorang yang mengaku sebagai seorang guide (penuntun) atau sebagai seorang assistant (penolong), apa pemahaman kita terhadap pekerjaan orang tersebut? Kemungkinan pemahaman kita adalah: Seorang guide bekerja di tempat-tempat wisata untuk melayani turis. Seorang assistant bertugas menolong para dosen/guru dalam mengajar dan menyediakan materi ajar di kelas. Dengan demikian kita memandang pekerjaan seorang penuntun atau penolong bukanlah pekerjaan yang penting.

Kita bisa juga memahami bahwa pekerjaan seorang guide dan assistant dari sisi yang berbeda. Seorang guide dan assistant adalah orang yang lebih berpengalaman, lebih mengerti keadaan, melihat dalam perspektif yang lebih luas, mengerti apa yang lalu, yang sekarang, dan yang akan terjadi di masa yang akan datang; Seperti orang tua yang menuntun dan menolong anaknya dalam melakukan hal-hal sederhana sampai membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Tuntunan bersifat arahan, sementara pertolongan adalah sarana intervensi ketika seorang anak tidak sanggup menjalani hidup dengan kapasitasnya sendiri.

Seorang pembuat mobil tentu berkeinginan (bertujuan) agar orang-orang dapat menggunakan mobil buatannya dengan baik dan dapat berfungsi dengan baik juga. Agar tujuannya itu tercapai tentu dia harus memberitahu para pembeli mobilnya bagaimana cara menggunakan dan bagaimana cara merawat mobil tersebut. Dia sebagai pembuat mobil harus menuntun dan menolong para pemilik mobil. Dia dapat melalukannya melalui para montir yang sengaja disiapkan untuk menuntun dan menolong para pemilik mobil. Biasanya tuntunan dan pertolongan para montir diperlukan pada saat pemilik mobil sedang mengalami kesulita dengan mobilnya.

Jikalau kita ditanya, apa tujuan Allah menciptakan manusia? Tentu salah satu jawaban kita adalah untuk memuliakan Allah. Bagaimana caranya kita mempermuliakan Allah? Yaitu dengan hidup menurut cara dan kehendak Allah. Apakah mudah untuk hidup menurut cara dan kehendak Allah? Kemungkinan besar jawaban kita adalah: tidak mudah hidup seturut kehendak Allah. Tetapi, kita tahu bahwa hidup kita ini adalah milik dan ciptaan-Nya sehingga Dia tidak akan pernah membiarkan kita berjuang sendiri. Kita juga tahu bahwa tidak ada pribadi lain yang lebih mengenal tujuan hidup manusia selain dari pada Allah sendiri. Karena itu, dalam kehidupan ini, tuntunan dan pertolongan Allah adalah hal yang mutlak dibutuhkan oleh kita. Apalagi pada saat-saat kita mengalami kesulitan hidup.

Abraham sebagai bapak segala orang beriman juga pernah mengalami situasi dilematis (sulit). Dilema yang dihadapi Abraham adalah anaknya yang tunggal belum menikah, padahal usia Abraham sudah cukup lanjut. Abraham mempunyai dua pilihan yaitu pilihan mudah dan pilihan yang sukar. Cara yang mudah adalah menikahkan Ishak dengan  perempuan Kanaan. Pilihan ini tidak sejalan dengan rencana dan janji Allah yaitu menjadikan Abraham bangsa yang besar dan menjadi berkat bagi banyak bangsa. Cara yang sukar adalah menikahkan Ishak dengan perempuan yang berasal dari kaum  keluarganya di tempat asalnya.

Abraham memilih cara kedua, yaitu cara yang sulit bahkan hampir mustahil. Abraham belajar untuk hidup di jalan Allah. Abraham percaya bahwa Allah akan menuntun dan menolong dia. Dan memang terbukti, dalam situasi pelik itu tuntunan dan pertolongan Allah begitu nyata sehingga Ishak bisa menikah dengan Ribka, seorang yang bukan  hanya elok parasnya tetapi juga luhur budinya. Tuntunan dan pertolongan Tuhan itu  sangat indah dan menakjubkan. Hal itu dapat kita lihat dalam cara Tuhan menuntun dan  melonong hamba Abraham saat bertemu Ribka. Tuntunan dan pertolongan yang begitu jelas dan rinci.

Kita yang hidup di masa sekarang juga dapat menyaksikan bagaimana Tuhan menuntun dan menolong kita saat kita menghadapi situasi yang sulit. Situasi sulit itu kita alami mungkin saat kita mendidik anak, mencari jodoh untuk anak, mencari pekerjaan untuk anak, situasi pekerjaan di kantor/perusahaan, komunikasi suami-istri atau dalam situasi yang lain. Seringkali terjadi bahwa dalam situasi dilemaatis/sulitlah iman percaya kita kepada Tuhan itu menjadi nyata. Dibutuhkan kerendahan hati dan keterbuaan untuk mengalami tuntunan dan pertolongan Tuhan. Yesus mengundang siapa pun -yang sadar bahwa dirinya berada dalam keletihan perjuangan iman- untuk datang kepada-Nya. Ia berjanji memberi kelegaan. Kelegaan itu dinyatakan dengan memberi tanggungjawab yang tepat (bukan berat).

Kehidupan orang kristen seharusnya adalah hidup dalam pimpinan Roh kudus. Roh  kudus akan memampukan orang kristen untuk konsisten dan hidup dalam ketaatan yang sejati. Bukan sekedar tahu Firman Tuhan, namun juga melakukan Firman Tuhan. Karena itu, janganlah  kita menjadi orang kristen yang mengandalkan diri sendiri, merasa pandai dan benar sendiri. Kita harus senantiasa bersandar dan berpegang teguh pada Allah melalui Yesus Kristus. Sebab hanya dari pada-Nyalah tuntunan dan pertolongan yang benar.

 

Penulis : Reyn Hard Dinguamah

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 14/XX/Minggu, 6 Juli 2014 

 
Tuhan Menyediakan, Manusia Mengusahakan Kelegaan PDF Print E-mail
Written by Sugiri Santosa   
Sunday, 29 June 2014 15:16

Paijo    : Lesu sekali daganganku belakangan ini Bang, sudah sebulan lebih warungku betul-betul sepi. Ongkos rumah tangga naik terus, tetapi pemasukannya turun. Lama-lama warungku bisa tutup nih!

Ucok    : Itu tuh, mini market buka di mana-mana. Malah ada yang  sebelah-sebelahan. Bukan warung kamu saja yang seret Jo, mereka juga pasti sesak napasnya. Persaingan dagang di mana-mana semakin sengit engga keruan.

Paijo    : Dulu waktu baru buka, langgananku tambah tiap hari. Dari ngontrak sampai punya kios sendiri. Sekarang ciut lagi nih!

Ucok :  Begitulah dunia ini, tidak selamanya kita bisa menikmati yang enak terus. Susah dan senang datang bergantian. Yang jadi juara akan turun, yang tenar jadi gurem, yang sukses juga  mengalami kegagalan. Perhatikan saja, begitu kita lahir, kematian sudah menunggu. Di tengah-tengahnya ada banyak kesakitan. Jadi itulah kehidupan yang sedang kita jalani Jo.

Paijo    : Jadi sakit, kesulitan, masalah dan pergumulan itu tidak bisa ditawar, yah Bang. Istilah kerennya sekarang, itu adalah keniscayaan.

Ucok    : Tuhan memberikan panas dan hujan kepada siapa saja, tua atau muda, baik atau jahat, semuanya kebagian. Begitu juga petir dan banjir. Jadi kesusahan dan masalah adalah bagian yang perlu kita terima juga. Yang jadi perbedaan adalah bagaimana kita menerimanya

Paijo    :  Lho, masalah kan tetap masalah, Bang. Mau diterima bagaimana lagi?

Ucok    : Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, masalah adalah beban yang tidak diinginkan. Sebisa mungkin orang akan menghindarinya, karena bikin pegal, frustrasi dan bahkan menyakitkan. Tapi bagi orang percaya, masalah adalah bagian dari rencana Allah yang indah untuk  kita.

Paijo : Indah? Maksud loe? Maap Bang, maap keseleo lidah! Maksud Abang apanya yang indah?

Ucok :  Rencana Allah itu indah, yaitu dalam segala sesuatu Ia merancang dan mengerjakan yang baik bagi anak-anak-Nya. Masalah juga adalah cara Tuhan menolong kita bertumbuh. Otak yang terasah menjadi tajam, otot yang terlatih menjadi kuat dan iman yang teruji menjadi tangguh.

Paijo : Jadi tanpa masalah dan perjuangan, iman kita jadi lemot dan loyo yah Bang?

Ucok :  Nah tuh, kau mulai nangkep maksud abang! Pengalaman kita melewati kesulitan-kesulitan hidup bersama Tuhan akan menjadi kesaksian yang luar biasa, yang bisa menyemangati dan menguatkan orang lain Jo! Kesulitan kita pun dipakai Tuhan menjadi berkat bagi orang lain.

Paijo : Jadi masalah dan kesulitan itu adalah kado yang bungkusannya rombeng yah Bang! Di luarnya tidak menarik, tetapi isinya bagus

Ucok :  Ada lagi bonus barengannya, yaitu kita akan diberikan kekuatan yang cukup  untuk menanggung persoalan-persoalan kita. Bersama Dia dijamin bisa, itu kan janji-Nya. Nah, kalau Tuhan tidak pernah bohong, maka kita pun tidak bisa kalah. Apa lagi yang perlu kita takutkan? Paulus malahan menantang: Hai maut, di mana sengatmu?

Paijo : Tapi masalah-masalah saya kok rasanya berat banget, kapan sih Tuhan mau mengangkatnya? Makin cepat dibantu, kan makin baik buat saya.

Ucok :  Itu juga yang dulu dipikirin oleh Abraham dan Sara. Dari pada menunggu lama punya anak, dipikirnya lebih baik Tuhan dibantuin dengan rencananya sendiri, yang lebih cepat. Diambilnya budaknya Hagar menjadi istrinya. Dan memang tokcer, Hagar memberikan dia seorang anak laki-laki, Ismail. Tapi itu kan bukan rencana Tuhan, jadi hasilnya malahan amburadul. Keluarganya hampir saja  bubar. Tuhan tahu yang terbaik dan tidak pernah terlambat. Jadi kita juga perlu sabar

Paijo : Kita harus percaya kepada rancangan-Nya dan juga waktu-Nya, ya engga?

Ucok :  Betul Jo! Dan sesudah itu, iman Abraham tumbuh pesat. Ia malahan bersedia mengorbankan anak satu-satunya itu karena ia tahu Tuhan akan mengatur dan  memberikan yang terbaik. 

Paijo : Betul Bang, di gunung Moria itu Tuhan menyediakan seekor domba ganti anaknya. Tuhan kita memang luar biasa baik Bang! 

Ucok    : Jangan lupa, kita juga perlu berusaha sungguh-sungguh, sambil berserah dan percaya bahwa Dialah yang didepan pegang kendali. Di Yeremia 17 ayat 7 ditulis: Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!

Paijo : Bukan main yah Bang, tent’ram rasanya hati ini, punya Tuhan yang tidak pernah bohong dan tidak pernah telat. Eh, ngomong-ngomong aku boleh tau engga, tanggal 9 nanti abang mau nyoblos siapa? Nomor satu atau nomor 2?

Ucok    : Saya sih……hmm…mau pilih Yesus aja, (bersenandung)...sampai s’lama lamanya. Meskipun saya susah, menderita dalam dunia. Saya mau ikut Yesus......

Paijo    : Lho, ditanya kok malah nyanyi!

Ucok    :  Abang sih mau yang pasti pasti aja Jo!

 

Penulis : Sugiri Santosa

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 13/XX/Minggu, 29 Juni 2014 

Last Updated on Sunday, 29 June 2014 15:28
 
MENOLONG MEREKA YANG TERTINDAS PDF Print E-mail
Written by James Steven Purba   
Friday, 27 June 2014 09:11

Dalam sebuah tayangan dokumenter tentang sejarah konflik perempuan diungkap sebuah kebenaran pahit: Peradaban, pada dasarnya, merupakan sejarah dominasi terhadap alam dan perempuan. Patriarki berarti penguasaan terhadap perempuan dan alam. Tulisan ini hendak mengajak pembaca untuk terus membuka mata terhadap kekerasan seksual yang marak terjadi, dan secara khusus melihat pengaruh budaya Patriarki yang berpotensi melahirkan kekerasan-kekerasan terhadap  perempuan.

 

***

Mari membuka mata dan telinga. Kita hidup di sebuah zaman dimana perempuan digambarkan sebagai boneka barbie, makna kecantikan dirampas habis oleh iklan televisi hingga blockbuster Hollywood dan munculnya kebingungan masal terhadap peran perempuan antara karier dan tanggung jawab sosial. Akan tetapi, bukankah sekilas keadaan perempuan Indonesia baik-baik saja? Apalagi dilihat dari mereka yang memiliki gaya hidup cantik khas kelas menengah yang sehari-hari menikmati metropolis Jakarta yang bertaburan mall. Jawabannya jelas tidak. Memakai sampel perempuan modern Jakarta yang berkehidupan cukup namun kerap bingung pada perannya, tak jarang itu menjadi sampel yang tidak tepat.

Persoalan perempuan selalu menjadi semacam jeritan yang terus menerus berteriak untuk mendapatkan perhatian masyarakat. Ini salah satu fenomena dimana budaya Patriarki telah hidup turun temurun sehingga melebur dalam nilai-nilai keluarga, hingga pada akhirnya tidak dapat diamati lagi mana yang memberikan pengaruh baik dan mana yang buruk. Pembahasan pro dan kontra budaya Patriarki merupakan pembicaraan panjang, namun yang pasti ketika kita terbiasa mengagungkan peran laki-laki dan mengkerdilkan perempuan, ada banyak hal yang dapat menjadi masalah.

Contoh sederhana: setiap laki-laki bisa berceloteh panjang tentang lelahnya dia di kantor lalu mengharapkan semacam perlakuan khusus ketika sampai di rumah, tanpa sedikit pun menyadari bahwa pekerjaan perempuan di rumah bisa berkali-kali lipat lebih melelahkan daripada serangkaian rapat. Pandangan bahwa laki-laki yang bekerja maka ia lebih lelah, jelas keliru.

Berangkat dari sini, lebih banyak lagi masalah akan muncul dan pada akhirnya pecahlah apa yang kemudian disebut kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan/atau kekerasan seksual yang memiliki dampak yang lebih dahsyat dan meluas. Kejahatan terhadap martabat kemanusiaan ini begitu sering terjadi, termasuk di Indonesia, namun ironisnya kesadaran untuk menawarkan pertolongan berupa keberpihakan terhadap korban dan pelaporan kepada aparat hukum masih begitu rendah. Kekerasan terhadap perempuan berarti kekerasan terhadap kemanusiaan, dan itu menjadi persoalan kita bersama, jauh melampaui segala macam bilik yang selalu mengelompokkan manusia, dalam hal ini termasuk juga agama di dalamnya.

Lalu apa yang dapat kita perbuat sebagai bagian dari masyarakat? Membantu korban kekerasan dengan pendekatan yang tepat dan turut serta mengusahakan proses penyelesaian hukum adalah langkah konkret yang dapat dilakukan. Namun lebih lanjut lagi, mari lebih kritis terhadap budaya-budaya yang cenderung merendahkan perempuan, terlibat aktif dalam pembicaraan terbuka tentang kekerasan perempuan dan memperbarui pemahaman kita terhadap peran perempuan.

 

Mari membuka mata dan telinga. Laki-laki bekerja dari matahari terbit sampai terbenam, tetapi pekerjaan perempuan tidak pernah berakhir. Kiranya Tuhan menolong kita.

 

Penulis : James Steven Purba

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 12/XX/Minggu, 22 Juni 2014 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini6
mod_vvisit_counterKemarin29
mod_vvisit_counterMinggu Ini78
mod_vvisit_counterBulan Ini492
mod_vvisit_counterKeseluruhan65139

Login Form