ja_mageia

Pokok Doa (Sakit)
1. Ibu Totty Atman
2. Bp. Lie Yun Hin
3. Ibu Mariana 



    
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
PUASA DAN AKSI PENYANGKALAN DIRI PDF Print E-mail
Written by Samuel Stefan Siahaya   
Saturday, 06 February 2016 13:17

Tanpa terasa, kita telah memasuki bulan kedua di tahun 2016 ini, dan di bulan Februari ini kita akan memasuki Masa Raya Paskah.  Masa Raya Paskah dimulai sejak 40 hari sebelum Paskah (tidak termasuk hari Minggu), yang diawali dengan Ibadah Rabu Abu. Tahun ini Ibadah Rabu Abu akan dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2016, dilanjutkan dengan Minggu Pra-Paskah I – VI, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan mencapai puncaknya pada Minggu Paskah tanggal 27 Maret 2016. Selama Minggu-Minggu Pra-Paskah, umat dihimbau untuk melakukan puasa dan juga aksi penyangkalan diri. Kata ‘puasa’ berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu ‘Upa’ (dekat) dan ‘Wasa’ (Yang Mahakuasa), sehingga apabila kedua kata tersebut digabungkan, maka ‘Upawasa’  berarti mendekatkan diri kepada  Tuhan Yang Mahakuasa.

            Ketika kita melakukan puasa, maka yang paling utama adalah bagaimana kita mendekatkan diri kita kepada Tuhan, yang akhirnya tampak melalui perubahan sikap dan perbuatan kita. Mengapa? Karena puasa tidak hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi kita semata, namun juga untuk kepentingan orang lain di sekitar kita. Dalam Yesaya 58, Allah melalui Nabi Yesaya menegur pelanggaran umat-Nya, karena mereka melakukan puasa hanya untuk pemuasan diri pribadi dan tidak mengindahkan orang lain. Mereka berpuasa, namun menindas orang yang lemah, membiarkan orang lain kelaparan, telanjang bahkan menelantarkan sesame yang tak punya rumah. Mereka berpuasa, namun tidak mengarahkan atau mendekatkan hati kepada Tuhan. Allah tidak menghendaki umat-Nya melaksanakan puasa dengan perilaku dan sikap yang demikian. Ia justru menginginkan bangsa Israel merendahkan hati dan memiliki kasih serta kepedulian kepada orang lain. Yesaya 58:6-7 menyatakan: “…..Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang yang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”

            Selama masa Pra-Paskah di GKI Perumahan Citra 1, puasa  dilakukan selama 40 hari, yang dimulai pada Rabu Abu dan berakhir pada hari Minggu Palmarum. Angka 40 hari ini dalam Perjanjian Lama       mengingatkan akan masa 40 hari Musa berada di Gunung Sinai (Keluaran 34:28), masa 40 tahun perjalanan umat Israel di padang gurun (Bilangan 14:33), masa 40 hari penduduk Niniwe berpuasa menyesali dosa mereka (Yunus 3:1-10), dan dalam Perjanjian Baru, 40 hari Yesus berpuasa di padang gurun (Matius 4:1-2; Markus 1:12-13; Lukas 4:1-2).

            Bagaimana pelaksanaan puasa dalam konteks agama Kristen? Dalam agama Kristen, puasa adalah praktek ibadah yang dijalankan secara suka rela dan personal. Ada beberapa cara berpuasa: tidak makan dan minum, tidak melakukan hal-hal yang disukai dalam jangka waktu tertentu (berbelanja, jajan, jalan-jalan, merokok dsb.), atau puasa hati, yaitu menahan diri dari tutur kata, pikiran, dan perasaan yang sia-sia. Jadi pada intinya, puasa adalah menahan diri dari perbuatan dan sikap yang mementingkan atau menyenangkan diri sendiri, dan lebih mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan, agar lebih dapat mengenal maksud dan kehendak Tuhan. Seseorang yang berpuasa adalah seseorang yang rindu untuk berada di dekat Tuhan.

            Aksi penyangkalan diri adalah salah bentuk konkret dari puasa. Ketika kita menahan diri kita dari hal-hal yang kita sukai (misalnya: berbelanja, jajan, merokok), maka uang yang tadinya kita gunakan untuk menyenangkan dan memuaskan diri, kita berikan atau salurkan kepada mereka yang jauh lebih membutuhkannya. Di sini kita belajar untuk mempraktikkan hukum kasih yang Tuhan Yesus ajarkan. Dan melalui tindakan aksi penyangkalan diri ini, bukan hanya kita yang akan merasakan sukacita, namun orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita, juga turut merasakannya. Ini sesuai dengan Firman Tuhan dalam Yesaya 58:10-11 menyatakan: ”apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.”

            Marilah kita menjalankan puasa dan aksi penyangkalan diri. Memang ini bukan hal yang mudah, karena akan ada begitu banyak godaan yang muncul, baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar diri kita. Namun itu bukanlah menjadi penghalang bagi kita untuk melakukannya. Kita bersama mohon bantuan dan tuntunan Roh Kudus agar kita mampu menjalankan puasa ini dengan baik dan benar, sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Selamat memasuki Masa Raya Paskah 2016. Tuhan memberkati.

 

Penulis: Samuel Stefan Siahaya

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 45/XXI/Minggu, 7 Februari 2016

 

 

 
TUGAS DAN PANGGILAN YANG SEJATI DARI ALLAH PDF Print E-mail
Written by Pnt. Dewi Rikawati   
Saturday, 30 January 2016 12:36

Pada suatu hari Minggu sesudah kebaktian, ada seorang ibu muda datang menghampiri saya serta bertanya: “Kami (suami dan istri) sebagai simpatisan di GKI Perumahan Citra 1 ini,   apakah boleh ikut dalam pelayanan?” Saya menjawab: “Tentu saja boleh.” Kemudian saya menjelaskan beberapa hal apabila mau turut ambil bagian dalam pelayanan. Dalam hati, saya bersyukur ada umat yang begitu mempunyai kerinduaan untuk  melayani.

Sebagai umat pilihan Allah, kehadiran kita di dunia ini telah dirancang oleh Allah Bapa sendiri. Seperti yang terjadi pada nabi Yeremia, dalam Yeremia 1:5 Tuhan kepada dia: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Sering tidak disadari oleh umat Tuhan bahwa kita sebenarnya mempunyai tugas dan panggilan dari Tuhan untuk melayani. Sering kita berpikir dan berkata bahwa itu bukan aku, aku tidak pandai bicara, aku tidak bisa  seperti si anu, aku masih muda, aku sudah tua. Berbagai alasan yang klise terus menjadi alasan untuk tidak mau melayani.

Dalam Yeremia 1:5, dikatakan bahwa Allah mengenal, menguduskan, menetapkan Yeremia menjadi nabi bangsanya sebelum kelahirannya. Yeremia juga menyangkal bahwa sesungguhnya dia tidak pandai berbicara, sebab dia masih muda. Yeremia berusaha untuk mengelak dari tugas yang akan diembannya. Dia tahu hidup sebagai nabi sering dicemooh, dianiaya. Namun Allah berkata: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kau sampaikan.” Yeremia atas dasar alasan apapun tidak bisa menolak apa yang sudah menjadi kehendak Allah.

Tugas dan panggilan yang sejati dari Allah itu ada dalam hidup setiap kita sebagai umat pilihan-Nya, dan dalam hal ini kita harus meresponnya.  Tuhan Yesus hadir di dunia mempunyai tugas dari Allah Bapa, dan ketika Yesus dipanggil Dia menyambut dengan sukacita dan melaksanakan tugasnya hingga selesai. Yesus saja mau merespon akan Karya Agung  Allah, jadi bagaimana dengan kita? Apakah ketika Tuhan memanggil, kita sanggup mengatakan: “Tidak Tuhan, jangan saya Tuhan”, dan sebagainya. Tuhan akan memperlengkapi kita dalam tugas-tugas kita. Dia akan memberi kekuatan dalam menjalankan tugas panggilan kita, serta semua akan diberikan damai sejahtera-Nya .

Tuhan menghendaki kita membantu orang yang lemah, itulah kasih yang harus disalurkan. Dalam 1 korintus 13:1-13, Rasul Paulus menegaskan peran dari kasih itu sendiri, bahwa segala karunia lahiriah akan berakhir tetapi tidak demikian dengan kasih, karena kasih  sangat berperan untuk menciptakan relasi antar umat manusia. Kasih adalah sebuah    tindakan, bukan abstrak, kasih merupakan dasar hidup dan kualitas karakter umat Kristen.

Umat Kristen harus beranjak dari pendengar menjadi pelaku, tidak lagi menjadi umat   Kristen pasif tetapi yang aktif, yang mau merespon tugas dan panggilan yang sejati dari Tuhan,  untuk menjalankan misi Tuhan di dunia ini.

Selamat kepada seluruh calon pejabat gerejawi GKI Perumahaan Citra 1 untuk periode pelayanan 2016-2017 yang telah merespon panggilan Tuhan. Kiranya Tuhan memampukan dan memberi kekuatan dalam menjalankan tugas pelayanan di GKI Perumahan Citra 1.

 

Penulis: Pnt. Dewi Rikawati

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 44/XXI/Minggu, 31 Januari 2016 

 

 
BERJUMPA TUHAN DENGAN MEMBACA RENUNGAN?? PDF Print E-mail
Written by Nathan Christianto Kilindung   
Saturday, 23 January 2016 08:25

”Pada dasarnya Epifani ditampilkan melalui kehadiran Allah pada        pengalaman membaca Alkitab dan mendalaminya.”

Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya.

Kehidupan di Jakarta yang super sibuk seringkali membuat sebagian besar dari kita mengalami hal sebagai berikut:

 

  1. Situasi 1: Pagi Hari. Weker berbunyi: Kriiiinngggg!! Bangun! Bangun! Badan masih capek, tadi malam pulang sudah larut malam dan tidur baru sebentar. Kita tidur sedikit lagi saja……. Waah, kenapa sudah jam 5.30 am? Nanti malam saja membaca renungannya, tugas mengantar anak sekolah sudah menanti.
  2. Situasi 2: Malam Hari. Aduuh, capek sekali rasanya. Kembali lagi pulang malam dan rasanya mau langsung tidur saja. Bagaimana dengan  komitmen untuk membaca renungan hari ini? Hmmm, baca Renungan Harian saja. Pendek dan singkat. 10 menit selesai. Setelah itu aku bisa tidur….. Zzzzzz.

 

Pada setiap pertanyaan standar: “Siapa dari kita yang tidak membaca Alkitab/renungan setiap hari?”, pasti dapat dijawab oleh setiap orang  Kristen “aku membaca Alkitab/renungan setiap hari.” Membaca Alkitab/renungan sudah menjadi hal rutin bagi banyak orang percaya. Namun membaca Alkitab/renungan, jika hanya menjadi rutinitas (apalagi hanya 10 menit selesai), belum secara otomatis membawa kita kepada pendalaman yang seharusnya dan perjumpaan dengan Tuhan. Terlebih dari itu,    seringkali kita mengambil jalan lebih singkat dengan langsung membaca renungan-renungan yang cukup simple juga singkat dan tidak lagi membaca porsi Alkitabnya. Hal ini akhirnya membuat kita tidak dapat mengerti secara otentik berita Firman Allah itu sendiri.

Firman Allah tidak dapat disamakan dengan sumber-sumber lain, termasuk renungan-renungan yang dibuat untuk itu. Renungan-renungan itu hanya menjadi alat bantu untuk kita dapat mulai mengerti, namun sesungguhnya kita hanya dapat berjumpa dengan Tuhan jika kita membaca Alkitab secara langsung dan mendalaminya. Sama seperti ilustrasi di atas, dalam Nehemia 8:1-10, bangsa Israel dapat berjumpa dengan Tuhan ketika mereka mendengar kitab Taurat (Firman Allah) yang dibacakan oleh Ezra dan mendalaminya oleh bantuan Ezra.

Di Komisi Anak GKI Perumahan Citra 1, seorang Senior GSM (Guru Sekolah Minggu) telah menjadi sumber inspiratif bagi GSM yang lain untuk      merenungkan Alkitab setiap hari melalui media WhatsApp - GSM Group. Aturan mainnya, setiap GSM yang telah merenungkan Firman Allah hari itu dapat menuliskan namanya dan membagikan apa yang dia dapatkan dari Firman Allah hari itu. Saya melihat, dimulai dari satu orang GSM, saat ini setiap hari ada beberapa GSM yang setia untuk merenungkan Firman Allah setiap hari dan membagikannya kepada GSM yang lain. Hal ini membuat setiap GSM dapat saling belajar dan memberikan semangat satu kepada yang lain untuk terus setia membaca dan merenungkan Alkitab setiap harinya. Saya percaya mereka menjadi ilustrasi yang baik dari Epifani (perjumpaan dengan Tuhan) melalui pembacaan Alkitab dan mendalaminya.

Apakah kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam pembacaan Alkitab/renungan kita hari ini?

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Penulis: Nathan Christianto Kilindung

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 43/XXI/Minggu, 24 Januari 2016

 

 

 
TEMPAYAN KOSONG MENJADI PENUH PDF Print E-mail
Written by Pnt. Reyn Hard Dinguamah   
Sunday, 17 January 2016 00:02

Yohanes 2:1-11, bercerita tentang peristiwa di mana Tuhan Yesus mengadakan mukjizat dengan mengubah air menjadi anggur di sebuah pesta perkawinan di Kana. Suatu peristiwa yang tidak asing lagi untuk kita. Kali ini, melalui peristiwa itu sebagai umat Tuhan kita diajak untuk mau mengingat, merenungkan dan mensyukuri sukacita yang Tuhan sudah limpahkan dalam hidup kita dan bersedia memberi diri untuk menjadi saluran sukacita bagi orang lain.

Dalam tradisi pernikahan orang Yahudi, anggur merupakan hidangan yang wajib disediakan oleh tuan rumah atau penyelenggara. Kualitas dan ketersediaan anggur dalam pesta dapat menjadi ukuran kualitas dari pesta tersebut bahkan kehormatan keluarga mempelai. Oleh karenanya, Maria yang kemungkinan besar merupakan salah seorang kerabat mempelai dan penyelenggara pesta, langsung bereaksi cepat ketika ia mengetahui bahwa anggurnya habis. Maria tahu bahwa kehabisan anggur adalah masalah serius, maka ia langsung memberi tahu anaknya yaitu Yesus. Tampaknya Maria tidak terlalu gusar atau panik dalam menghadapi masalah yang serius dan berat ini. Hal ini terjadi karena anaknya ada di sana dan tentu karena dia sudah sangat mengenal Yesus dengan baik selama 30 tahun. Maria dalam ketenangannya hanya mengatakan “mereka kehabisan anggur” kepada Yesus.

Walaupun terkesan Ia menolak, tetapi Maria tetap mempersiapkan para pelayan agar menuruti perintah Yesus, dan mereka melaksanakannya dengan baik. Hasilnya adalah anggur melimpah dalam pesta itu. Enam buah tempayan kosong diisi dengan dua tiga buyung air yang kemudian diubah menjadi anggur oleh Yesus. Jumlah itu setara dengan 480 liter sampai 720 liter anggur. Sungguh sebuah keajaiban terjadi. Enam tempayan kosong menjadi penuh oleh anggur berkualitas baik. Mempelai bersama keluarga dan para undangan berlimpah dengan sukacita.

Anggur dalam pesta perkawinan di atas dapat kita analogikan dengan sukacita dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Pengenalan kita akan Tuhan dan anugerah keselamatan yang dari Tuhan, menghadirkan sukacita dalam kehidupan kita. Tetapi karena berbagai permasalahan yang dihadapi dan dilalui, ada orang dapat mengalami “kehabisan/kehilangan” sukacita. Untuk orang-orang seperti inilah Tuhan memanggil kita umat-Nya untuk menjadi saluran sukacita.

Jika suatu ketika Tuhan mengijinkan kita bertemu dengan orang-orang yang kehilangan sukacita dalam hidupnya, kita dapat menjadi  saluran sukacita seperti yang dilakukan oleh Maria, para pelayan,       pemimpin pesta atau seperti yang dilakukan Tuhan Yesus.

· Maria yang berinisiatif untuk mencari solusi dari masalah yang dialami orang lain. Maria sadar bahwa ia tidak bisa mengatasi masalah itu, maka ia mencari bantuan kepada pihak yang ia tahu bisa memberi pertolongan. Ia datang kepada Yesus.

· Para pelayan yang patuh pada arahan Maria. Mereka tetap melakukan perintah Yesus walaupun mereka sebenarnya punya alasan untuk tidak melakukannya karena tidak masuk akal.

· Pemimpin pesta yang menghidupkan suasana pesta dan ikut bersukacita bersama dengan kedua mempelai dan keluarga mereka.

· Tuhan Yesus yang hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi mempelai tepat pada waktu-Nya sehingga mereka tetap bersukacita sepanjang pesta itu berlangsung.

Kiranya kita dapat senantiasa bersyukur untuk anugerah sukacita yang Tuhan limpahkan dalam hidup kita dan akhirnya kita pun bersedia menjadi saluran berkat bagi orang lain di sekeliling kita. Tuhan memberkati.

 

Penulis: Pnt. Reyn Hard Dinguamah

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 42/XXI/Minggu, 17 Januari 2016

 

 

 
KETIKA YESUS JUGA DIBAPTISKAN PDF Print E-mail
Written by James Steven Purba   
Saturday, 09 January 2016 15:19

Di sebuah warung depan Gereja.

 

Doel    :         Cieh yang baru baptis, kinclong bener 'tuh kemeja

Rakes  :         Eh, bang Doel. Bisa aja ah

Doel    :         Mampir dong, ngadem, biar nggak lepek tuh kemeja

Rakes  :         Oke bang, bentar aja yah

Doel    :         Ngomong-ngomong baptis gitu biar apa sih Kes?

Rakes  :         Tanda sih bang, kalau kita ini resmi milik Tuhan, dan juga   ingetin kalau                kita itu punya tugas dalam hidup ini, jadi bukan asal hidup gitu bang

Doel    :         Oh. Tugasnya kayak apaan Kes? Ribet ya pasti?

Rakes  :         Obrolan warungnya jadi berat nih bang

Doel    :         Ah gitu aja berat lo, gratis deh tuh Kopi

Rakes  :         Kopi segini aja mah gue mampu bang. Penasaran banget ya?

Doel    :         Terserah deh tong

 

Rakes  :         Dia marah lho ha-ha. Pemahaman tugas di sini yah luas bang.  Intinye kita                     ini harus inget kalau kita itu wakil Tuhan dalam hidup sehari-hari, itu yang                       biasanya orang lupa, yang diinget cuman baptis tanda kalau kita udah                           dewasa, selepas itu kelar

Doel    :         Oh. Soalnya Abang bingung nih: Yesus juga dibaptis kan? Lha Yesus 'kan                       anak Allah. Ape Yesus kudu diingetin juga?

Rakes  :         Cieh yang udah baca-baca. Udahlah yuk ke gereja aja kita

Doel    :         Jawab dulu Kes

Rakes  :         Allah yang mulia itu hadir dalam sosok Yesus bang. Baptisan  Yesus diartiin

                   sebagai tanda Yesus mewakili Allah, dan punya misi di tengah-tengah Dunia                    ini melalui kesederhanaan. Yesus itu selalu jadi ingetin kita untuk sederhana                    …

Doel    :         ... padahal dia anak Allah …

Rakes  :         Ya. Betul

Doel    :         Kayak Jokowi ya. Sederhana walaupun Presiden

Rakes  :         Tapi 'kan Jokowi Presidennya, bukan anak dari Presiden

Doel    :         Ya berarti kayak anaknya Jokowi

Rakes  :         Iyaa sih, tapi kan anaknya Jokowi nggak mengemban tugas negara dari

                    bapaknya. So ... anak Jokowi bukan Jokowi

Doel    :         Nambah kopinya?

Rakes  :         Boleh

Doel    :         Jadi, lo sekarang wakil Allah resmi nih

Rakes  :         Ya berusaha sebaik-baiknya bang, makasi bang kopinya. Melalui sikap                           sederhana sehari-hari. Abang kapan ikut ke gereja?

Doel    :         Ntaran dah, lagian temen Abang juga udah wakil Allah kan, disamperin                           lagi  ha-ha

Rakes  :         Bisa aja dah ah. Jalan dulu ya bang

Doel    :         Iye-iye. Eh salamin si Paijo sama Ucok ya, lama nggak mampir tuh bedua

Rakes  :         Iye bang. Ntar disampein. Udah ye. Kopinya ngutang dulu ya bang

Doel    :         Ya elah

 

Penulis: James Steven Purba

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 41/XXI/Minggu, 10 Januari 2015

 

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 2 guests online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini13
mod_vvisit_counterKemarin22
mod_vvisit_counterMinggu Ini103
mod_vvisit_counterBulan Ini103
mod_vvisit_counterKeseluruhan75824

Login Form