ja_mageia

Pokok Doa (Sakit)
    1. Ibu Sumarni 
   
    

 

    
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
IKATAN PERJANJIAN ALLAH DENGAN MANUSIA PDF Print E-mail
Written by Pulo R.S. Banjarnahor   
Monday, 28 July 2014 06:15

Kita sangat terbiasa dengan segala bentuk perjanjian. Baik itu perjanjian tertulis maupun tidak tertulis. Relasi kita pun diikat dengan perjanjian. Perjanjian  suami - istri, orang tua - anak, janji calon anggota legislatif terhadap rakyat atau calon presiden, dan lain sebagainya. Dasar dari perjanjian adalah kepercayaan. Dengan kepercayaan itulah seseorang mengambil keputusan tertentu dengan yakin dalam hidupnya. Namun, kita sering menjumpai bahwa perjanjian dapat dengan mudah dibatalkan karena ketidaktulusan dan kecurangan pihak lain. Perjanjian yang seharusnya bersifat mengikat, dapat dengan mudah dihancurkan atau dibatalkan.

Hidup kita diikat dalam ikatan perjanjian antara Allah dan manusia, yaitu ikatan perjanjian karya keselamatan Allah bagi dunia. Berbeda dengan perjanjian manusia, perjanjian dengan Allah adalah sebuah bentuk perjanjian yang tidak dapat dibatalkan. Ada satu pihak yang dapat diandalkan dalam ikatan perjanjian tersebut. Pihak itu adalah Allah, yang tidak akan pernah ingkar dan membatalkan perjanjian. Amat indah, ikatan itu dibawa dalam rencana dan rancangan Allah yang menghasilkan berkat bagi kehidupan. Kita sebagai umat perjanjian diajak menghayati hidup dalam Allah, terus berpaut pada-Nya dalam segala situasi, termasuk dalam situasi penderitaan dan kesesakan, karena Allah akan tetap setia pada perjanjian-Nya dan memberi kelegaan bagi kita.

Yakub, di tengah perlarian dan ketakutannya, mengharapkan perjumpaan dengan Laban, saudaranya, menjadi perjumpaan yang melegakan. Namun, hal itu berujung pada kisah manipulasi yang lain. Jika dulu ia memanipulasi Esau, kini ia dimanipulasi Laban. Dengan pengalaman ini, Yakub belajar bahwa manipulasi adalah perlakuan yang mencerminkan ketidakadilan. Yakub berada pada sisi lemah, tidak bisa lari dari ketetapan Laban. Yang dapat dilakukannya adalah bekerja keras untuk bertahan hidup dan mendapatkan cintanya dengan menambah waktu pengabdian pada mertuanya.

Jika kita melihat secara utuh kisah percintaan dan kehidupan rumah tangga Yakub, maka kita akan melihat bagaimana perlindungan dan penyertaan Allah dinyatakan kepada Yakub. Di balik semua kerja keras dan upayanya menghadapi intrik Laban, ada tangan Allah yang tetap menjaga dan memberkati. Allah membebaskan Yakub dari cengkraman Laban. Allah juga menahan Laban untuk tidak menciderai Yakub dan keluarganya, serta merelakan mereka pergi dalam segala kelimpahan, hasil dari kerja keras Yakub selama 21 tahun. Allahlah pihak yang menganugerahkan anak-anak dalam hidupnya. Allah pula pihak yang dipandang baik oleh Rahel dan Lea, sebagai pembela untuk mendapatkan perhatian Yakub, suami mereka. Allah yang memberi kekuatan Yakub untuk mendapatkan Rahel. Janji Allah kepada Yakub mengenai hak kesulungan tetap digenapi, kendati tak dipungkiti Yakub banyak menghadapi hambatan dari orang di sekitarnya.

Hal yang sama dialami oleh pemazmur. Ia menaikkan ungkapan syukur kepada Allah, karena Allah memegang perjanjian-Nya dengan penuh kesetiaan, Ia tidak pernah ingkar janji. Ungkapan syukur pemazmur ini didasarkan pada perbuatan-perbuatan Allah dalam kehidupan umat. Perbuatan yang dilakukan-Nya mendatangkan kebaikan bagi umat termasuk teguran dan penghukuman. Firman dan perjanjian yang diikat Allah dengan umat digenapi dalam keadilan dan kasih-Nya. Sekali Ia mengikat perjanjian, maka Ia akan tetap setia untuk selamanya. Tidak ada yang dapat membatalkannya. Inilah bukti bahwa Allah adalah pihak yang dapat diandalkan dalam kehidupan umat. Pemazmur dapat melihat bahwa hukuman yang diterima manusia termasuk pengajaran/cara Allah untuk menggenapi janjiNya. Penggenapan janji Allah tidak hanya dapat dirasakan manusia dalam kelimpahan dan sukacita, tetapi juga dalam proses hukuman untuk kita taat.

Setiap manusia perlu menyadari keterbatasan dan kelemahannya. Pada saat penderitaan menekan berat, kita semakin menyadari segala keterbatasan kita. Ketika diperhadapkan pada situasi penuh tekanan dan penderitaan, kita seperti tidak punya kekuatan lagi, bahkan untuk mengungkapkan hal itu dalam doa. Lidah menjadi kelu untuk menguntai kata dan mengutarakan maksud kepada Allah. Penderitaan terlalu berat untuk dilukiskan dengan kata-kata. Dalam situasi demikian, kemudian dinyatakan bahwa Roh menolong kita untuk menyampaikannya kepada Allah. Ia berbicara melebihi kata-kata untuk mengantarkan penderitaan yang tak tertahankan. Allah mengenal umat-Nya, Dia tahu yang kita butuhkan. Umat yang setia dan taat akan membuktikan rancangan Allah adalah rancangan yang mendatangkan kebaikan.

Kerajaan Allah seperti pukat yang disebar kepada semua orang tanpa kecuali. Ia menjaring tanpa batas. Akan tetapi pada akhirnya, dari hasil tangkapan di dalam pukat, sang nelayan akan melakukan pemisahan, mana ikan yang baik, berguna, dan mana yang tidak. Demikianlah, Kerajaan Allah juga soal pemisahan. Pemisahan dilakukan dengan dasar keadilan dan kasih Allah.

Penggenapan janji Allah sedang berlangsung kepada kita semua, bila kita setia dan taat maka kita akan tersenyum mengucapkan syukur untuk semua yang terjadi dari Allah.

Tuhan memberkati.

 

 

Penulis : Pulo R.S.Banjarnahor

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 17/XX/Minggu, 27 Juli 2014 

 
MASIHKAH HATI KITA TERKOYAK? PDF Print E-mail
Written by Widyadi Purwosuwito   
Saturday, 19 July 2014 09:43

TUHAN-lah yang empunya bumi serta segala isinya,

dan dunia serta yang diam di dalamnya (Mzm 24:1).

Potret ketidak-adilan dan ketidak-setaraan terbuka lebar di belahan bumi mana pun, bahkan acapkali terpampang di sekitar kehidupan kita sehari-hari. Dominasi global,  penyalahgunaan kekuasaan, keserakahan dan individualisme telah menyebabkan kerusakan ekonomi, sosial, budaya dan politik global. Kerusakan bumi dan manusia semakin nyata terlihat mendunia, termasuk di Indonesia.

Fenomena Global

Temuan berikut adalah sebuah fakta tentang kerakusan manusia untuk melahap kekayaan bumi ciptaan Allah dan segenap isinya. Dan ini semakin memperlebar jurang kesenjangan antar manusia dan antar institusi negara. Pada tahun 2003, ada 7,7 juta orang memiliki kekayaan 1 juta dolar AS atau lebih. Jumlah kekayaan mereka ini mencapai 28,9 triliun dolar AS, atau hampir tiga kali lipat produksi nasional AS pada tahun yang sama. Pada saat yang sama, 840 juta orang di seantero dunia kekurangan pangan dan 1,5 milyar orang yang kebanyakan adalah perempuan, anak-anak dan penduduk asli hidup dengan kurang dari 1 dolar AS per hari.               Konsumsi barang dan jasa 20% orang-orang terkaya dunia setara dengan 86% konsumsi global. Penghasilan tahunan dari orang-orang terkaya yang berjumlah 1% sama dengan penghasilan orang-orang termiskin yang berjumlah 57%, dan paling sedikit 24.000 orang meninggal setiap hari karena kemiskinan dan kurang gizi.

Masalah-masalah lingkungan hidup pemanasan global, penipisan sumber daya alam, dan hilangnya keanekaragaman hayati semakin parah saja. Sebagai contoh, kita akan kehilangan 30-70 persen dari keanekaragaman hayati dunia dalam kurun waktu 20-30 tahun ke depan. Akibat pemanasan global yang terus meningkat mengakibatkan punahnya spesies-spesies dari bumi. Menurut penelitian, dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, 25% spesies hewan dan tanaman punah akibat pemanasan global. Sementara itu perang juga terus berkecamuk di banyak bagian dunia, militerisme dan kekerasan telah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. 1)

Fenomena Lokal

Indonesia adalah negara yang kaya potensi sumber daya alam, dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia (245 juta jiwa) dan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua (5,9% per tahun) dalam kelompok Negara-negara G-20. Namun Indonesia juga merupakan negara paling korup (peringkat 64 dari 177 negara), dengan kesenjangan kesejahteraan yang sangat (dan semakin) lebar. Jumlah penduduk miskin 11,37% dari populasi, atau 28,07 juta jiwa (Maret 2013). Tingkat pengangguran 6,25% atau 7,39 juta jiwa dari angkatan kerja (Agustus 2013). Distribusi kekayaan yang timpang: 17 orang Indonesia terkaya menguasai 5% PDB Indonesia (setara US$ 41,1 miliar). Disamping itu, kerusakan hutan meningkat dua kali lipat    menjadi 20.000 Km2/tahun (2012). Dan masih terjadi ketimpangan lainnya atas nama pembangunan: perdagangan manusia, eksploitasi tenaga kerja perempuan dan perpindahan rakyat secara geografis, ekonomi, politik, budaya dan ekologis, di mana kegiatan dan modal umumnya masih terpusat di Jawa dan Sumatera. Sistem kapitalisme yang menghasilkan pola-pola relasi sosial (gender, kelas, ras, kebangsaan dan lainnya) dan ketergantungan yang mengeksploitasi perempuan dan anak. 2)

Tuturan pemazmur bahwa bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan bagaikan hiasan ayat suci yang kita taruh di kaca lemari pajangan. Kita sering merasa apa yang kita punyai dalam hidup ini adalah milik kita karena kita telah berjuang mati-matian untuk dapat memilikinya. Legalisasi kepemilikan pun ada di tangan kita sehingga kita merasa sah untuk melakukan tindakan apapun seperti yang kita mau. Kita lupa bahwa orang lain dan sesuatu yang lain di luar diri kita adalah ciptaan dan milik Tuhan yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Hati yang trenyuh saat doa pengakuan dosa apakah hanya ada dalam ibadah minggu? Apakah  hati kita masih terkoyak ketika praktik ketidak-adilan ada di depan mata atau bahkan mungkin tanpa sadar kita sedang tergoda untuk melakukan tindakan serupa karena alasan kenyamanan diri yang enggan terusik dan tidak rela berbagi?

 

1. Dokumen refleksi 048A Raker BPMSW 2007-2011 oleh Pdt.Kuntadi Sumadikarya, dan dokumen AGAPE oleh Tim Keadilan Perdamaian dan Ciptaan DGD Jenewa 2006, diterbitkan oleh Pelayanan Masyarakat Kota HKBP Jakarta, 2008.

2. Term of Reference Seminar Nasional “Keserakahan, Keadilan dan Perdamaian” oleh Oikotree Indonesia, 2014. 

 

Penulis : Widyadi Purwosuwito

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 16/XX/Minggu, 20 Juli 2014

 

 
Rivalitas vs Solidaritas PDF Print E-mail
Written by Nathan Christianto   
Monday, 14 July 2014 13:55

Bulan Juni dan Juli tahun ini, kita mengalami 2 "event" besar; (i) yang satu berkaitan dengan pesta sepakbola sejagad; dan (ii) yang satunya berkaitan dengan pesta demokrasi pemilihan Presiden Republik Indonesia. Dari kedua event besar ini, penulis mendapati 2 hasil yang berbeda yang cocok untuk mengilustrasikan tema hari ini: Rivalitas vs Solidaritas.

Pesta sepakbola sejagad. Ya, itulah World Cup yang sedang ramai-ramainya. Dalam 1.5 minggu pertama, banyak orang sudah merasa kecewa karena beberapa kesebelasan dari negara favorit (Italia, Inggris, Spanyol) terpaksa harus tersingkir pada babak pertama. Semuanya ini adalah hasil semangat rivalitas yang tinggi; semuanya ingin menang dan meraih piala dunia. Negara lain harus kalah! Apakah benar seperti itu? Kalau dilihat dalam setiap permainan, semangat rivalitas itu dimulai dengan masing-masing pemain bersalaman sebelum bermain dan, setelah "bertempur" selama 90 menit, pertandingan diakhiri dengan kembali bersalaman dan bertukar kaos. Rivalitas selama 90 menit diakhiri dengan solidaritas antar pemain untuk bersalaman.

Dalam peristiwa yang lain, pemilihan Presiden Republik Indonesia, ceritanya berbeda. Persaingan antar calon Presiden dan Wakil Presiden diawali dengan masa kampanye dan debat antar calon. Di sini rivalitas antar calon untuk memenangi pemilu tahun ini sangat dimaklumi dan hal ini membuat setiap calon berupaya untuk memberikan yang terbaik. Akan tetapi, rivalitas murni yang tidak disertai dengan solidaritas akhirnya menimbulkan rasa mau menang sendiri, menghalalkan segala cara untuk menang dan mencari cara untuk  menjatuhkan saingannya. Kampanye hitam, politik uang, dan segala hal dicari dan dipakai hanya supaya bisa menang. Rivalitas di atas  solidaritas.

Pada cerita hari ini, Yakub dengan semangat rivalitasnya ingin merebut hak kesulungan dari kakaknya Esau. Semangat rivalitas ini juga diperparah oleh kondisi di mana Ishak, bapa dari Esau dan Yakub yang berhak memberikan hak kesulungan ternyata lebih mengasihi Esau. Alhasil, segala cara coba dicari oleh Yakub untuk dapat merebut hak kesulungan.  Akhirnya didapatinya sebuah kesempatan saat Esau sangat lapar dan lelah dari padang dan mereka saling bertukar: hak kesulungan direbut Yakub dan Esau menerima semangkuk sup merah dan roti! Apakah ini hanya karena kesalahan Esau yang tidak menghargai hak kesulungan? Tidak! Yakub juga bersalah karena, dengan semangat rivalitasnya, ia menghalalkan segala cara dan mengorbankan solidaritasnya pada saat melihat kakaknya Esau sedang kelaparan dan kelelahan dan menggunakan kesempatan itu untuk "menjatuhkan" Esau dengan merebut hak kesulungannya. Hal ini menimbulkan konsekuensi yang besar yang akhirnya membuat ketidakharmonisan antara Esau dan Yakub untuk waktu yang cukup lama.

Semangat rivalitas bukan hal yang buruk. Tanpa rivalitas, manusia tidak terpacu untuk memberikan yang terbaik dari dirinya. Bayangkan pertandingan sepakbola di mana semua pemain mau mengalah! Hasilnya adalah sepakbola "gajah", yang tidak menarik sama sekali. Bagaimana kita dapat mengontrol diri dan mengimbangi rivalitas dengan solidaritas? Dalam bacaan Roma 8:1-11 dan Matius 13:1-23, hidup dalam roh dan menjadikan hati kita menjadi tanah yang subur untuk Firman Tuhan adalah satu-satunya cara agar kita tidak lupa diri, termasuk lupa diri terhadap solidaritas. Indikator yang kita bisa rasakan adalah kalau kita cenderung mau menang sendiri dan menghalalkan segara cara, termasuk menjatuhkan orang lain, ini adalah tanda-tanda orang yang lupa akan solidaritas.

Selamat berjuang dalam hidup dan memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan, inilah semangat rivalitas. Tempatkan Tuhan di atas rivalitas dengan memperhatikan apakah semangat rivalitas kita memberikan hasil yang positif dan kebaikan buat orang lain, inilah semangat solidaritas.

Tuhan memberkati. Amin.

 

Penulis : Nathan Christianto

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 15/XX/Minggu, 13 Juli 2014 

 
Allah Menuntun dan Menolong PDF Print E-mail
Written by Reyn Hard Dinguamah   
Wednesday, 09 July 2014 05:12

Bila suatu saat kita berkenalan dengan seseorang yang mengaku sebagai seorang guide (penuntun) atau sebagai seorang assistant (penolong), apa pemahaman kita terhadap pekerjaan orang tersebut? Kemungkinan pemahaman kita adalah: Seorang guide bekerja di tempat-tempat wisata untuk melayani turis. Seorang assistant bertugas menolong para dosen/guru dalam mengajar dan menyediakan materi ajar di kelas. Dengan demikian kita memandang pekerjaan seorang penuntun atau penolong bukanlah pekerjaan yang penting.

Kita bisa juga memahami bahwa pekerjaan seorang guide dan assistant dari sisi yang berbeda. Seorang guide dan assistant adalah orang yang lebih berpengalaman, lebih mengerti keadaan, melihat dalam perspektif yang lebih luas, mengerti apa yang lalu, yang sekarang, dan yang akan terjadi di masa yang akan datang; Seperti orang tua yang menuntun dan menolong anaknya dalam melakukan hal-hal sederhana sampai membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Tuntunan bersifat arahan, sementara pertolongan adalah sarana intervensi ketika seorang anak tidak sanggup menjalani hidup dengan kapasitasnya sendiri.

Seorang pembuat mobil tentu berkeinginan (bertujuan) agar orang-orang dapat menggunakan mobil buatannya dengan baik dan dapat berfungsi dengan baik juga. Agar tujuannya itu tercapai tentu dia harus memberitahu para pembeli mobilnya bagaimana cara menggunakan dan bagaimana cara merawat mobil tersebut. Dia sebagai pembuat mobil harus menuntun dan menolong para pemilik mobil. Dia dapat melalukannya melalui para montir yang sengaja disiapkan untuk menuntun dan menolong para pemilik mobil. Biasanya tuntunan dan pertolongan para montir diperlukan pada saat pemilik mobil sedang mengalami kesulita dengan mobilnya.

Jikalau kita ditanya, apa tujuan Allah menciptakan manusia? Tentu salah satu jawaban kita adalah untuk memuliakan Allah. Bagaimana caranya kita mempermuliakan Allah? Yaitu dengan hidup menurut cara dan kehendak Allah. Apakah mudah untuk hidup menurut cara dan kehendak Allah? Kemungkinan besar jawaban kita adalah: tidak mudah hidup seturut kehendak Allah. Tetapi, kita tahu bahwa hidup kita ini adalah milik dan ciptaan-Nya sehingga Dia tidak akan pernah membiarkan kita berjuang sendiri. Kita juga tahu bahwa tidak ada pribadi lain yang lebih mengenal tujuan hidup manusia selain dari pada Allah sendiri. Karena itu, dalam kehidupan ini, tuntunan dan pertolongan Allah adalah hal yang mutlak dibutuhkan oleh kita. Apalagi pada saat-saat kita mengalami kesulitan hidup.

Abraham sebagai bapak segala orang beriman juga pernah mengalami situasi dilematis (sulit). Dilema yang dihadapi Abraham adalah anaknya yang tunggal belum menikah, padahal usia Abraham sudah cukup lanjut. Abraham mempunyai dua pilihan yaitu pilihan mudah dan pilihan yang sukar. Cara yang mudah adalah menikahkan Ishak dengan  perempuan Kanaan. Pilihan ini tidak sejalan dengan rencana dan janji Allah yaitu menjadikan Abraham bangsa yang besar dan menjadi berkat bagi banyak bangsa. Cara yang sukar adalah menikahkan Ishak dengan perempuan yang berasal dari kaum  keluarganya di tempat asalnya.

Abraham memilih cara kedua, yaitu cara yang sulit bahkan hampir mustahil. Abraham belajar untuk hidup di jalan Allah. Abraham percaya bahwa Allah akan menuntun dan menolong dia. Dan memang terbukti, dalam situasi pelik itu tuntunan dan pertolongan Allah begitu nyata sehingga Ishak bisa menikah dengan Ribka, seorang yang bukan  hanya elok parasnya tetapi juga luhur budinya. Tuntunan dan pertolongan Tuhan itu  sangat indah dan menakjubkan. Hal itu dapat kita lihat dalam cara Tuhan menuntun dan  melonong hamba Abraham saat bertemu Ribka. Tuntunan dan pertolongan yang begitu jelas dan rinci.

Kita yang hidup di masa sekarang juga dapat menyaksikan bagaimana Tuhan menuntun dan menolong kita saat kita menghadapi situasi yang sulit. Situasi sulit itu kita alami mungkin saat kita mendidik anak, mencari jodoh untuk anak, mencari pekerjaan untuk anak, situasi pekerjaan di kantor/perusahaan, komunikasi suami-istri atau dalam situasi yang lain. Seringkali terjadi bahwa dalam situasi dilemaatis/sulitlah iman percaya kita kepada Tuhan itu menjadi nyata. Dibutuhkan kerendahan hati dan keterbuaan untuk mengalami tuntunan dan pertolongan Tuhan. Yesus mengundang siapa pun -yang sadar bahwa dirinya berada dalam keletihan perjuangan iman- untuk datang kepada-Nya. Ia berjanji memberi kelegaan. Kelegaan itu dinyatakan dengan memberi tanggungjawab yang tepat (bukan berat).

Kehidupan orang kristen seharusnya adalah hidup dalam pimpinan Roh kudus. Roh  kudus akan memampukan orang kristen untuk konsisten dan hidup dalam ketaatan yang sejati. Bukan sekedar tahu Firman Tuhan, namun juga melakukan Firman Tuhan. Karena itu, janganlah  kita menjadi orang kristen yang mengandalkan diri sendiri, merasa pandai dan benar sendiri. Kita harus senantiasa bersandar dan berpegang teguh pada Allah melalui Yesus Kristus. Sebab hanya dari pada-Nyalah tuntunan dan pertolongan yang benar.

 

Penulis : Reyn Hard Dinguamah

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 14/XX/Minggu, 6 Juli 2014 

 
Tuhan Menyediakan, Manusia Mengusahakan Kelegaan PDF Print E-mail
Written by Sugiri Santosa   
Sunday, 29 June 2014 15:16

Paijo    : Lesu sekali daganganku belakangan ini Bang, sudah sebulan lebih warungku betul-betul sepi. Ongkos rumah tangga naik terus, tetapi pemasukannya turun. Lama-lama warungku bisa tutup nih!

Ucok    : Itu tuh, mini market buka di mana-mana. Malah ada yang  sebelah-sebelahan. Bukan warung kamu saja yang seret Jo, mereka juga pasti sesak napasnya. Persaingan dagang di mana-mana semakin sengit engga keruan.

Paijo    : Dulu waktu baru buka, langgananku tambah tiap hari. Dari ngontrak sampai punya kios sendiri. Sekarang ciut lagi nih!

Ucok :  Begitulah dunia ini, tidak selamanya kita bisa menikmati yang enak terus. Susah dan senang datang bergantian. Yang jadi juara akan turun, yang tenar jadi gurem, yang sukses juga  mengalami kegagalan. Perhatikan saja, begitu kita lahir, kematian sudah menunggu. Di tengah-tengahnya ada banyak kesakitan. Jadi itulah kehidupan yang sedang kita jalani Jo.

Paijo    : Jadi sakit, kesulitan, masalah dan pergumulan itu tidak bisa ditawar, yah Bang. Istilah kerennya sekarang, itu adalah keniscayaan.

Ucok    : Tuhan memberikan panas dan hujan kepada siapa saja, tua atau muda, baik atau jahat, semuanya kebagian. Begitu juga petir dan banjir. Jadi kesusahan dan masalah adalah bagian yang perlu kita terima juga. Yang jadi perbedaan adalah bagaimana kita menerimanya

Paijo    :  Lho, masalah kan tetap masalah, Bang. Mau diterima bagaimana lagi?

Ucok    : Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, masalah adalah beban yang tidak diinginkan. Sebisa mungkin orang akan menghindarinya, karena bikin pegal, frustrasi dan bahkan menyakitkan. Tapi bagi orang percaya, masalah adalah bagian dari rencana Allah yang indah untuk  kita.

Paijo : Indah? Maksud loe? Maap Bang, maap keseleo lidah! Maksud Abang apanya yang indah?

Ucok :  Rencana Allah itu indah, yaitu dalam segala sesuatu Ia merancang dan mengerjakan yang baik bagi anak-anak-Nya. Masalah juga adalah cara Tuhan menolong kita bertumbuh. Otak yang terasah menjadi tajam, otot yang terlatih menjadi kuat dan iman yang teruji menjadi tangguh.

Paijo : Jadi tanpa masalah dan perjuangan, iman kita jadi lemot dan loyo yah Bang?

Ucok :  Nah tuh, kau mulai nangkep maksud abang! Pengalaman kita melewati kesulitan-kesulitan hidup bersama Tuhan akan menjadi kesaksian yang luar biasa, yang bisa menyemangati dan menguatkan orang lain Jo! Kesulitan kita pun dipakai Tuhan menjadi berkat bagi orang lain.

Paijo : Jadi masalah dan kesulitan itu adalah kado yang bungkusannya rombeng yah Bang! Di luarnya tidak menarik, tetapi isinya bagus

Ucok :  Ada lagi bonus barengannya, yaitu kita akan diberikan kekuatan yang cukup  untuk menanggung persoalan-persoalan kita. Bersama Dia dijamin bisa, itu kan janji-Nya. Nah, kalau Tuhan tidak pernah bohong, maka kita pun tidak bisa kalah. Apa lagi yang perlu kita takutkan? Paulus malahan menantang: Hai maut, di mana sengatmu?

Paijo : Tapi masalah-masalah saya kok rasanya berat banget, kapan sih Tuhan mau mengangkatnya? Makin cepat dibantu, kan makin baik buat saya.

Ucok :  Itu juga yang dulu dipikirin oleh Abraham dan Sara. Dari pada menunggu lama punya anak, dipikirnya lebih baik Tuhan dibantuin dengan rencananya sendiri, yang lebih cepat. Diambilnya budaknya Hagar menjadi istrinya. Dan memang tokcer, Hagar memberikan dia seorang anak laki-laki, Ismail. Tapi itu kan bukan rencana Tuhan, jadi hasilnya malahan amburadul. Keluarganya hampir saja  bubar. Tuhan tahu yang terbaik dan tidak pernah terlambat. Jadi kita juga perlu sabar

Paijo : Kita harus percaya kepada rancangan-Nya dan juga waktu-Nya, ya engga?

Ucok :  Betul Jo! Dan sesudah itu, iman Abraham tumbuh pesat. Ia malahan bersedia mengorbankan anak satu-satunya itu karena ia tahu Tuhan akan mengatur dan  memberikan yang terbaik. 

Paijo : Betul Bang, di gunung Moria itu Tuhan menyediakan seekor domba ganti anaknya. Tuhan kita memang luar biasa baik Bang! 

Ucok    : Jangan lupa, kita juga perlu berusaha sungguh-sungguh, sambil berserah dan percaya bahwa Dialah yang didepan pegang kendali. Di Yeremia 17 ayat 7 ditulis: Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!

Paijo : Bukan main yah Bang, tent’ram rasanya hati ini, punya Tuhan yang tidak pernah bohong dan tidak pernah telat. Eh, ngomong-ngomong aku boleh tau engga, tanggal 9 nanti abang mau nyoblos siapa? Nomor satu atau nomor 2?

Ucok    : Saya sih……hmm…mau pilih Yesus aja, (bersenandung)...sampai s’lama lamanya. Meskipun saya susah, menderita dalam dunia. Saya mau ikut Yesus......

Paijo    : Lho, ditanya kok malah nyanyi!

Ucok    :  Abang sih mau yang pasti pasti aja Jo!

 

Penulis : Sugiri Santosa

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No : 13/XX/Minggu, 29 Juni 2014 

Last Updated on Sunday, 29 June 2014 15:28
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini3
mod_vvisit_counterKemarin21
mod_vvisit_counterMinggu Ini34
mod_vvisit_counterBulan Ini578
mod_vvisit_counterKeseluruhan65225

Login Form