ja_mageia

Pokok Doa
 1. Bangsa & Negara
 2. Bencana Alam di Indonesia 
 3. Gereja-gereja di Indonesia
 4. GKI Perumahan Citra1
     - Kesatuan hati (MJ/BP/Aktifis)
     - Kerinduan umat utk melayani
 
 
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
DIBAPTIS DAN DICOBAI AGAR SIAP MEMBERITAKAN INJIL PDF Print E-mail
Written by Susijanti Surjana   
Saturday, 21 February 2015 12:20

Baptisan adalah suatu tanda pertobatan. Baptisan juga merupakan langkah awal yang harus dijalani murid-murid Yesus, untuk selanjutnya menjalani misi Allah dalam diri setiap orang percaya. Yesus yang adalah manusia seutuhnya, tetapi juga Allah seutuhnya, tidak menganggap diri-Nya seharusnya tidak perlu menjalankan baptisan. Karena Ia terlahir tanpa dosa dan tidak berbuat dosa dalam kehidupan-Nya sebagai manusia. Berita Firman menuliskan dengan kerendahan hati-Nya, Ia menempuh perjalanan sejauh 96 km dari Nazaret ke daerah Sungai Yordan dengan berjalan kaki; untuk memberikan diri-Nya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, sebagai prasyarat awal untuk menjalankan misi Allah dalam diri-Nya.

Melalui hal tersebut kita menemukan keteladanan Yesus, yaitu:

 

  • Taat melaksanakan peraturan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Himbauan Yohanes yang berseru-seru di padang gurun: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”, dilaksanakan-Nya.
  • Memiliki hati yang rela, dalam hal ini rela melakukan perjalanan yang jauh.
  • Memiliki hati yang rendah, bersedia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan, sebagai tanda pertobatan.

 

Dari uraian ini tergambar jelas Yesus meneladankan secara konkret seluruh tindakan yang dilakukan dalam menggenapi misi Allah bagi seluruh umat manusia. Apa yang dilakukan oleh Yesus mestinya menginspirasi kia untuk juga melakukan hal yang demikian. Kita diingatkan untuk hidup dalam pertobatan, memiliki hati yang taat, serta kerelaan untuk berkorban. Dengan demikian seperti yang dinyatakan Allah pada Yesus: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”, akan dinyatakan juga pada kita. Allah berkenan memakai kita.

Bacaan Injil kemudian menuliskan bahwa setelah itu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Pelajaran apa yang dapat kita petik?

Yesus mengajarkan pada kita, sebelum kita ‘terjun’ dalam tugas pelayanan, kita perlu menarik diri dari kehidupan keseharian kita yaitu dengan melatih mental dan mengosongkan diri. Puasa adalah suatu cara melatih penguasaan diri kita. Bagaimana kita dapat mengendalikan keinginan daging, hawa nafsu, dan keegoisan kita. Hari lepas hari kita lalui dengan fokus kepada kehendak Allah dalam diri kita, dengan terus menjalin hubungan dengan-Nya melalui doa dan pembacaan firman Tuhan, sebagai makanan rohani.

Setelah berpuasa, Yesus dicobai iblis.

 

  • Iblis memakai kelemahan fisik-Nya yakni rasa lapar untuk memperdaya-Nya. Bukankah rasa lapar ini yang membuat kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam dosa? Yesus mengingatkan kita, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja. (Lukas 4:4)
  • Iblis mencoba membujuk dengan kekuasaan dan kemuliaan dunia yang dapat ia berikan, asal mau sujud menyembah kepadanya. Memang manusia pada umumnya menginginkan ini. Tetapi Yesus mengajarkan kita dengan mengatakan: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti”. Jangan pernah menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan dan kemuliaan.
  • Iblis menantang Yesus untuk membuktikan dan menunjukkan padanya, bahwa Ia sungguh Anak Allah. Yesus menjawab: ”Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Lukas 4:12). Ini mengingatkan kita untuk tidak mempermainkan janji Allah.

 

 

Apabila langkah-langkah ini kita lalui, seperti juga Yesus, Ia siap memulai pelayanan-Nya dengan mengajar dan melayani umat manusia. Dan satu hal yang harus kita ingat dan juga dilakukan Yesus sebelum dan sesudah mengerjakan pekerjaan-Nya, Yesus menyediakan waktu untuk berdoa pada Bapa-Nya.

Saat ini kita memasuki Minggu Pra-Paskah I. Minggu-minggu Pra-Paskah mengajak kita untuk menghayati karya Allah dalam diri Yesus Kristus yang menyelamatkan umat manusia. Kiranya penghayatan tersebut menolong dan memampukan kita untuk juga melakukan misi Allah dalam diri kita masing-masing.

Selamat memasuki Minggu-minggu Pra-Paskah.

Tuhan memberkati.

 

Penulis: Susijanti Surjana

Sumber : Renungan Wartaa Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 47/XX/Minggu, 22 Februari 2015 

 

 

 
TRANSFIGURASI PDF Print E-mail
Written by Pnt. Lieke Handoko Winata   
Saturday, 14 February 2015 23:51

Penggemar Harry Potter tentu mengetahui istilah transfigurasi. Transfigurasi dipahami sebagai cabang ilmu sihir yang mempelajari bagaimana merubah sebuah benda atau objek menjadi bentuk yang lain. Dapat berupa benda mati atau benda hidup. Setiap murid di sekolah sihir Hogwarts, tak terkecuali Harry Potter diharuskan mempelajari mata pelajaran transfigurasi ini sebagai ilmu dasar sihir. Dalam pelaksanaannya, untuk merubah sebuah objek diperlukan tongkat dan mantra.

Minggu ini disebut minggu Transfigurasi. Pertanyaannya apakah transfigurasi di sini sama dengan ilmu sihir dalam cerita Harry Potter?

Transfigurasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perubahan bentuk/rupa, metamorfosis, dan penjelmaan. Menurut arti kata ada kemiripan, namun maknanya jauh berbeda. Minggu Transfigurasi diperingati pada hari Minggu sebelum pelaksanaan Rabu Abu yang kali ini jatuh pada tanggal 18 Februari 2015. Setelah Minggu       Transfigurasi maka dimulailah masa Pra-Paskah.

Minggu Transfigurasi adalah peristiwa pemuliaan Yesus yang terjadi di atas gunung (Markus 9:2-13). Disaksikan oleh 3 orang murid terdekatnya, yaitu Simon Petrus, Yohanes dan Yakobus. Dalam    peristiwa tersebut, Alkitab menuliskan bahwa Yesus berubah rupa, pakaian-Nya menjadi sangat putih dan mengkilat. Lalu tampak bersama Yesus 2 orang lain, yaitu Musa dan Elia. Musa dan Elia orang-orang pilihan Allah. Musa dipilih oleh Tuhan untuk memimpin bangsa Israel, ia juga mengalami kemuliaan Allah di atas Gunung Sinai dan menerima 10 Hukum Tuhan. Begitu pula dengan Elia. Ia adalah seorang nabi besar melebihi nabi-nabi lainnya, membuat berbagai macam mujizat dan juga mengalami kemuliaan Allah, meninggal dengan cara terangkat ke sorga dengan kereta kuda berapi (2 Raja-Raja 2:11). Saat mereka bersama dengan Yesus dalam peristiwa transfigurasi, mereka juga dimuliakan.

Perubahan yang terjadi dalam diri Yesus bukan karena ilmu sihir, atau mantra tetapi Allah yang memberikan kemuliaan kepada-Nya. Peristiwa transfigurasi ini terjadi karena kuasa Allah dan dalam rencana besar Allah, untuk menyatakan diri Yesus Anak Allah, sebagai Mesias yang dijanjikan yang siap menjalankan misi Allah. Karena setelah peristiwa transfigurasi maka dimulailah masa penderitaan Yesus, akan diperingati dalam 6 minggu Pra-Paskah, sampai dengan kematian Yesus. Lalu Yesus kembali akan dimuliakan melalui kebangkitan-Nya. Pemuliaan Yesus untuk meneguhkan dan menguatkan Yesus dalam menjalankan tahapan-tahapan hidup Yesus selanjutnya yang penuh dengan penderitaan dalam rangka menyelamatkan manusia.

Apa makna peristiwa transfigurasi Yesus bagi kita? Peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung meneguhkan kita agar tetap beriman pada keselamatan yang Yesus telah berikan melalui hidup-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Sebagai pengikut Kristus kita pun diingatkan agar tidak menjadi ragu, namun tetap beriman dengan menunjukkan hidup iman kita kepada Kristus melalui kehidupan yang dijalani sehari-hari. Tuhan memampukan.

 

Penulis: Pnt. Lieke Handoko Winata

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 46/XX/Minggu, 15 Februari 2015 

 

 
Lebih dari Mukjizat PDF Print E-mail
Written by Alfrest Zacharias   
Saturday, 07 February 2015 12:00

Mukjizat, siapa yang tidak ingin mendapat mukjizat? Rasanya ini adalah suatu hal yang sangat diharapkan orang, apalagi ketika sedang dalam suatu permasalahan dalam hidupnya. Ya, pada dasarnya semua orang mengharapkan mukjizat datang di saat yang tepat.

Apakah demikian juga yang terjadi pada kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan? Apakah kita menyadari bahwa setiap hari kita mendapatkan mukjizat dari Tuhan? Mulai ketika kita bangun tidur dan dapat kembali menghirup udara di pagi hari, kemudian mampu melakukan semua pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Apakah kita menyadari atau justru malah tidak menyadari akan semuanya itu? Bisa jadi yang kedua yang kerap terjadi. Kita hanya memikirkan kebutuhan kita sendiri ketimbang orang lain, kita seolah-olah punya kuasa agar mukjizat itu hadir sesuai dengan keinginan kita. Tidak tahukah bahwa semua mukjizat yang Tuhan berikan itu bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk menyatakan karya Allah di dalam dunia ini kepada orang lain juga.

Kitab Yesaya dalam bacaan hari ini menggambarkan keputusasaan bangsa Israel di tengah-tengah penderitaan, hingga mereka menganggap bahwa Tuhan berpaling dan tidak setia (ay. 27). Mereka tidak menyadari dan memahaminya sehingga “protes” dan menganggap Tuhan tidak memperhatikan hak-hak mereka. Padahal sesungguhnya Allah begitu mengasihi dan menyayangi umat-Nya, dan Allah menjawab keputusasaan bangsa itu melalui karya dan perbuatan-Nya mulai dari dunia diciptakan hingga mereka terbebas dan memperoleh keselamatan dari-Nya (Yes. 40:1). Bukankah mukjizat itu sudah terjadi melalui tindakan dan karya-Nya yang terus-menerus berlangsung kepada bangsa Israel dan hal itu dilakukan untuk menyatakan bahwa diri-Nya ada bersama-sama mereka, sehingga sudah semestinya bangsa Israel tidak perlu takut dan gentar lagi dengan keadaan mereka.

Dalam Injil Markus 1:29 jelas sangat menyentuh kehidupan orang-orang di Kapernaum yang sangat beragam dalam kehidupan (mungkin karena termasuk kota besar) bagaimana mereka sesungguhnya ingin agar Yesus tetap tinggal di situ dan melakukan banyak mukjizat karena pada saat itu mereka sangat memerlukannya. Tetapi Yesus tidak mau karya agung-Nya hanya dimiliki oleh orang-orang di wilayah tersebut, karena masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan Yesus untuk menyatakan kemuliaan Allah di tengah-tengah dunia ini.

Orang-orang di Kapernaum hanya mau melihat mukjizat-mukjizat saja tetapi mereka tidak peduli dengan identitas Yesus sesungguhnya. Yesus melakukan itu untuk mendemonstrasikan kasih dan kuasa-Nya, tetapi mereka yang melihat dan mengalami mukjizat-mukjizat itu tidak kunjung mengenal Dia.

Sungguh ironis jika itu terjadi pada kita, apakah pribadi kita hanya mau mendapatkan dan merasakan mukjizat Tuhan sementara kita tidak pernah mengenal Dia dan mau memuliakan-Nya dalam setiap kehidupan kita? Bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain? Ya, rasanya kita perlu melakukan introspeksi agar hal tersebut dapat diatasi sehingga kita mengerti apa kehendak Tuhan bagi kehidupan ini.

Bukan hanya sekedar mukjizat tetapi karya dan keselamatan Allah bagi semua orang dan apa yang ada di dunia ini jauh lebih penting dibandingkan kita yang hanya memikirkan diri sendiri.

Dan ingatlah akan hal itu bahwa segala yang kita dapatkan dan rasakan tidak tergantung pada kehendak atau usaha manusia, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Oleh sebab itu, maka Rasul Paulus tidak mengganggap bahwa tugas pemberitaan Injil  berasal dari kekuatan dirinya, tetapi berasal dari Injil itu sendiri. Karena Injil adalah kekuatan yang membebaskan sekaligus memberikan kerelaan baginya untuk melayani orang lain. Paulus menganggap sudah selayaknya ia memberitakan Injil karena mukjizat yaitu kasih karunia Allah.

Melalui firman Tuhan kita menyaksikan bahwa Yesus tidak mementingkan diri-Nya sendiri ketika di Kapernaum. Yesus memilih untuk pergi ke tempat-tempat lain supaya di sana Ia pun dapat memberitakan Injil, karena untuk itulah Dia telah datang ke dunia ini (ayat 38). Paulus juga melakukan hal yang sama yaitu lebih memilih memberitakan Injil bagi orang lain, karena pekerjaan tersebut dianggapnya bukan hanya sekedar mukjizat Tuhan bagi dirinya, tetapi agar rencana dan karya Allah bisa diwartakan.

Apalagi yang harus kita pikirkan, tema Minggu ini: “Lebih dari Mukjizat” menyatakan bahwa karya dan keselamatan yang Allah nyatakan dalam diri kita harus kita sambut dengan penuh sukacita melalui perbuatan kita kepada orang lain, sehingga mereka akan merasakan kehadiran Allah dalam segala keadaan. Kita meyakini pada saat itulah mukjizat kasih Allah dinyatakan kepada setiap kita. Selamat melayani.

 

Penulis: Alfrest Zacharias

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 45/XX/Minggu, 8 Februari 2015

 

 
Mengajar dan Berkata-kata dengan kuasa PDF Print E-mail
Written by Pulo R. S. Banjarnahor   
Saturday, 31 January 2015 08:16

Banyak orang mengeluh tentang hidup yang makin sulit dijalani. Biaya melambung tinggi, kondisi kesehatan merosot, hubungan antar sesama makin renggang, konflik terbuka makin terlihat di sana-sini, kekhawatiran akan masa depan yang sulit makin besar, sampai pada hal paling hakiki, yakni setelah kehidupan di dunia ini diakhiri. Memang, hidup ini penuh tantangan dan misteri. Ketika menghadapi tantangan hidup, manusia menunjukkan sikap berbeda. Sebagian orang lari dari kenyataan; sebagian lagi bersikap masa bodoh dan menganggap waktu dapat menyelesaikan segalanya; sebagian lainnya berupaya mengatasi persoalan dengan mengerahkan segenap daya upaya. Berbagai macam sikap itu adalah reaksi umum yang kerap diekspresikan manusia. Bagaimana sepatutnya sikap orang beriman?

Bagi umat beriman, persoalan hidup patut dihadapi bersama Tuhan dan firman-Nya. Berita Alkitab bukan hanya tulisan yang menyimpan wawasan ala kadarnya, melainkan firman Tuhan yang berkuasa. Meski tak secara harfiah, ia menuntun manusia untuk menjawab persoalan hidupnya sepanjang masa. Sekalipun ditulis oleh manusia, sejatinya Alkitab adalah karya Roh Kudus yang penuh kuasa dan wibawa. Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Perkataan dan pengajaran-Nya mengandung kuasa. Maka, kita perlu menemukan prinsip Allah di setiap firman-Nya, agar belantara hidup ini dapat kita jalani bersama Dia. Pemberitaan firman kali ini mengajak kita memaknai pengajaran dan perkataan Yesus sebagai Firman Allah yang penuh kuasa. Selain untuk memulihkan hubungan dengan Tuhan dan sesama, Firman itu juga berkuasa menuntun kita dalam menapaki hidup di belantara dunia.

Dalam Injil Markus1:21-28, dilukiskan bahwa Yesus tidak hanya hadir beribadah, tetapi juga mengajar. Ternyata, Yesus memukau para pendengar-Nya. Mereka begitu takjub mendengar pengajaran Yesus yang memiliki kuasa. Melalui respons para pendengarnya, penulis Markus membandingkan Yesus dengan para ahli Taurat yang juga melakukan peran sebagai pengajar, namun wibawa dan kharismanya tidak muncul. Intinya, dengan menggunakan legitimasi masa, penulis Injil Markus memosisikan diri sebagai pihak yang pro-Yesus, sekaligus menegaskan bahwa Yesus lebih dari ahli Taurat. Di sini Markus menulis keberadaan seorang yang kerasukan setan yang tak berdaya itu, tubuhnya dipakai sebagai mediator oleh setan untuk menyampaikan pesan yang biasanya bertentangan dengan kehendak Allah. Intinya, melalui suara orang yang kerasukan setan itu, penulis hendak menyampaikan jati diri Yesus.

 

Iblis itu merasa ketakutan terhadap Yesus. Dengan demikian, penguasa kegelapan itu juga mengakui kemahakuasaan Yesus. Iblis tahu Yesus adalah yang Kudus dari Allah datang sebagai manusia. Yesus yang penuh kuasa kemudian memerintah Iblis untuk diam dan keluar. Si Iblis mengguncang-guncangkan orang itu, menjerit dengan suara nyaring, lalu keluar. Drama pengusiran setan itu diakhiri dengan reaksi orang banyak yang menyaksikannya, yang tertuang dalam ayat 27-28. Reaksi tersebut terdiri dari dua tahap. Mulanya mereka sangat takjub, sehingga mereka memperbincangkannya. Katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Reaksi ini menunjukkan bahwa hal yang dilakukan Yesus tersebut belum pernah ada sebelumnya.

Ulangan 18:15-20 menyatakan janji Tuhan yang disampaikan melalui mulut dan bibir Musa. Perikop ini dimulai dengan pernyataan, bahwa seorang nabi akan dibangkitkan (dimunculkan) di antara mereka. Firman-Nya akan ditaruh dalam mulut-Nya, dan Ia akan mengatakan kepada mereka segala yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Di sini kita melihat kedatangan Yesus untuk menyampaikan Kebenaran sudah dinubuatkan oleh Musa. Injil Yohanes juga menyatakan bahwa Yesus adalah firman Allah yang menjadi Manusia.

Mazmur 111:1-10, Pemazmur dari Mazmur 111 mengajak kita untuk menghormati kuasa Allah, mengagumi kebesaran karya-Nya, dan bersyukur atas segala kebaikan-Nya. Dan yang utama, takut akan Tuhan merupakan permulaan hikmat bagi manusia untuk menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan berbagai tantangan.

I Korintus 8:1-3 menyatakan bahwa kasihlah yang memungkinkan manusia mengatasi peliknya dinamika hidup. Perbedaan pendapat bisa mendatangkan konfik, demikian juga, sikap yang benar, ketika diterapkan dalam konteks berbeda, bisa menjadi batu sandungan. Pengetahuan saja tidak cukup untuk mengatasi situasi yang rumit ini. Kadang malah pengetahuan mendatangkan kesombongan. Dengan kasih kita dapat dan mampu mengelola persoalan yang kita hadapi. Kasih dan hikmat berasal dari Allah yang harus kita nyatakan sehingga ada kuasa yang dapat memecahkan persoalan yang dihadapi.

Kita dipanggil untuk menyatakan kebenaran dengan melalui pengajaran yang sudah kita terima dari Firman Tuhan yang hidup yaitu Yesus Kristus. Kita dimampukan untuk menyatakannya karena kasih Kristus yang sudah kita terima melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.

 

Syalom

 

Penulis: Pulo R. S. Banjarnahor

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 44/XX/Minggu, 1 Februari 2015 

 

 
Dipanggil untuk Bertobat, Percaya dan Mengikut Dia PDF Print E-mail
Written by Nathan Christianto Kilindung   
Sunday, 25 January 2015 00:31

"Dalam banyak organisasi, membuat perubahan bagaikan memoleskan lipstik pada anjing buldog. Anda harus berusaha keras. Sering kali yang Anda dapatkan hanyalah noda lipstik, dan seekor anjing buldog yang marah". Demikian tulis Dave Murphy dalam San Francisco Chronicle.

Pengampunan, pertobatan dan menjadi pengikut Kristus adalah pengajaran yang sering kita dengar. Tetapi, pengampunan Allah yang begitu besar sering kali ditanggapi dengan tindakan “murahan”, yaitu ketika kita kembali kepada kehidupan lama kita sehingga makna pertobatan tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh. Padahal, pengampunan Allah selalu    disertai panggilan untuk bertobat, di mana kita diharapkan untuk berubah, meninggalkan kejahatan yang lama, dan mengikut Tuhan. Inilah proses yang diharapkan oleh Tuhan Yesus dan yang dapat kita lihat pada kisah Yunus (Bacaan 1) serta kisah Tuhan Yesus memanggil murid-murid yang pertama (Bacaan Injil).

 

  1. Dalam kisah Yunus dan kota Niniwe, peringatan Tuhan melalui Yunus akan perbuatan orang Niniwe yang jahat ditanggapi orang Niniwe dengan tindakan yang benar (bukan “murahan”), yaitu dengan berbalik dari tingkah laku yang jahat. Pertobatan yang ditunjukkan oleh seluruh isi kota Niniwe bukan hanya ritual penyesalan, tetapi diikuti dengan perubahan sikap hidup.
  2. Dalam kisah Tuhan Yesus memanggil murid-murid yang pertama, peristiwa Tuhan Yesus memanggil murid-murid yang pertama ini diawali dengan pemberitaan Injil oleh Tuhan Yesus di Galilea, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”. Setelah pemberitaan Tuhan Yesus atas orang-orang di Galilea ini, Tuhan Yesus memberikan panggilan khusus kepada beberapa penjala ikan yang Ia temui di tepi danau Galilea, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Keseluruhan proses dari pemberitaan Injil (“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”) sampai kepada  panggilan khusus (“Mari, ikutlah Aku”) ditanggapi oleh Simon,  Andreas, Yakobus dan Yohanes dengan keputusan mengikut  Tuhan Yesus.

 

Pertobatan yang lahir dari rasa cinta kepada Tuhan Yesus tidak hanya berhenti kepada sebuah ungkapan hati yang menyesal, ataupun ritual penyesalan, tetapi diikuti dengan keseluruhan hidup yang diubah arah orientasinya kepada Injil. Untuk pertobatan ini, diperlukan usaha yang keras untuk membuat perubahan atas diri sendiri, seperti diilustrasikan oleh Dave Murphy dalam San Francisco Chronicle.

Perjuangan yang keras untuk membuat perubahan atas diri sendiri tidak akan berhasil jika tidak dilandasi oleh perjumpaan dengan kasih Allah. Kita dapat berjumpa dengan kasih Allah ketika kita mengerti dan merasakan kasih Allah yang begitu besar, murni, dan tidak terbatas akan kita.

Mari kita meresponi pengampunan Allah dengan perubahan hidup (pertobatan) dan kesediaan untuk mengikut-Nya.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Penulis: Nathan Christianto Kilindung

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 43/XX/Minggu, 25 Januari 2015 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini13
mod_vvisit_counterKemarin18
mod_vvisit_counterMinggu Ini105
mod_vvisit_counterBulan Ini503
mod_vvisit_counterKeseluruhan70087

Login Form