ja_mageia

Pokok Doa (Sakit)
1. Dian Panglipuringtyas
2. Ibu Julianti



   
    

 

    
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
Mengajar dan Berkata-kata dengan kuasa PDF Print E-mail
Written by Pulo R. S. Banjarnahor   
Saturday, 31 January 2015 08:16

Banyak orang mengeluh tentang hidup yang makin sulit dijalani. Biaya melambung tinggi, kondisi kesehatan merosot, hubungan antar sesama makin renggang, konflik terbuka makin terlihat di sana-sini, kekhawatiran akan masa depan yang sulit makin besar, sampai pada hal paling hakiki, yakni setelah kehidupan di dunia ini diakhiri. Memang, hidup ini penuh tantangan dan misteri. Ketika menghadapi tantangan hidup, manusia menunjukkan sikap berbeda. Sebagian orang lari dari kenyataan; sebagian lagi bersikap masa bodoh dan menganggap waktu dapat menyelesaikan segalanya; sebagian lainnya berupaya mengatasi persoalan dengan mengerahkan segenap daya upaya. Berbagai macam sikap itu adalah reaksi umum yang kerap diekspresikan manusia. Bagaimana sepatutnya sikap orang beriman?

Bagi umat beriman, persoalan hidup patut dihadapi bersama Tuhan dan firman-Nya. Berita Alkitab bukan hanya tulisan yang menyimpan wawasan ala kadarnya, melainkan firman Tuhan yang berkuasa. Meski tak secara harfiah, ia menuntun manusia untuk menjawab persoalan hidupnya sepanjang masa. Sekalipun ditulis oleh manusia, sejatinya Alkitab adalah karya Roh Kudus yang penuh kuasa dan wibawa. Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Perkataan dan pengajaran-Nya mengandung kuasa. Maka, kita perlu menemukan prinsip Allah di setiap firman-Nya, agar belantara hidup ini dapat kita jalani bersama Dia. Pemberitaan firman kali ini mengajak kita memaknai pengajaran dan perkataan Yesus sebagai Firman Allah yang penuh kuasa. Selain untuk memulihkan hubungan dengan Tuhan dan sesama, Firman itu juga berkuasa menuntun kita dalam menapaki hidup di belantara dunia.

Dalam Injil Markus1:21-28, dilukiskan bahwa Yesus tidak hanya hadir beribadah, tetapi juga mengajar. Ternyata, Yesus memukau para pendengar-Nya. Mereka begitu takjub mendengar pengajaran Yesus yang memiliki kuasa. Melalui respons para pendengarnya, penulis Markus membandingkan Yesus dengan para ahli Taurat yang juga melakukan peran sebagai pengajar, namun wibawa dan kharismanya tidak muncul. Intinya, dengan menggunakan legitimasi masa, penulis Injil Markus memosisikan diri sebagai pihak yang pro-Yesus, sekaligus menegaskan bahwa Yesus lebih dari ahli Taurat. Di sini Markus menulis keberadaan seorang yang kerasukan setan yang tak berdaya itu, tubuhnya dipakai sebagai mediator oleh setan untuk menyampaikan pesan yang biasanya bertentangan dengan kehendak Allah. Intinya, melalui suara orang yang kerasukan setan itu, penulis hendak menyampaikan jati diri Yesus.

 

Iblis itu merasa ketakutan terhadap Yesus. Dengan demikian, penguasa kegelapan itu juga mengakui kemahakuasaan Yesus. Iblis tahu Yesus adalah yang Kudus dari Allah datang sebagai manusia. Yesus yang penuh kuasa kemudian memerintah Iblis untuk diam dan keluar. Si Iblis mengguncang-guncangkan orang itu, menjerit dengan suara nyaring, lalu keluar. Drama pengusiran setan itu diakhiri dengan reaksi orang banyak yang menyaksikannya, yang tertuang dalam ayat 27-28. Reaksi tersebut terdiri dari dua tahap. Mulanya mereka sangat takjub, sehingga mereka memperbincangkannya. Katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Reaksi ini menunjukkan bahwa hal yang dilakukan Yesus tersebut belum pernah ada sebelumnya.

Ulangan 18:15-20 menyatakan janji Tuhan yang disampaikan melalui mulut dan bibir Musa. Perikop ini dimulai dengan pernyataan, bahwa seorang nabi akan dibangkitkan (dimunculkan) di antara mereka. Firman-Nya akan ditaruh dalam mulut-Nya, dan Ia akan mengatakan kepada mereka segala yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Di sini kita melihat kedatangan Yesus untuk menyampaikan Kebenaran sudah dinubuatkan oleh Musa. Injil Yohanes juga menyatakan bahwa Yesus adalah firman Allah yang menjadi Manusia.

Mazmur 111:1-10, Pemazmur dari Mazmur 111 mengajak kita untuk menghormati kuasa Allah, mengagumi kebesaran karya-Nya, dan bersyukur atas segala kebaikan-Nya. Dan yang utama, takut akan Tuhan merupakan permulaan hikmat bagi manusia untuk menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan berbagai tantangan.

I Korintus 8:1-3 menyatakan bahwa kasihlah yang memungkinkan manusia mengatasi peliknya dinamika hidup. Perbedaan pendapat bisa mendatangkan konfik, demikian juga, sikap yang benar, ketika diterapkan dalam konteks berbeda, bisa menjadi batu sandungan. Pengetahuan saja tidak cukup untuk mengatasi situasi yang rumit ini. Kadang malah pengetahuan mendatangkan kesombongan. Dengan kasih kita dapat dan mampu mengelola persoalan yang kita hadapi. Kasih dan hikmat berasal dari Allah yang harus kita nyatakan sehingga ada kuasa yang dapat memecahkan persoalan yang dihadapi.

Kita dipanggil untuk menyatakan kebenaran dengan melalui pengajaran yang sudah kita terima dari Firman Tuhan yang hidup yaitu Yesus Kristus. Kita dimampukan untuk menyatakannya karena kasih Kristus yang sudah kita terima melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.

 

Syalom

 

Penulis: Pulo R. S. Banjarnahor

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 44/XX/Minggu, 1 Februari 2015 

 

 
Dipanggil untuk Bertobat, Percaya dan Mengikut Dia PDF Print E-mail
Written by Nathan Christianto Kilindung   
Sunday, 25 January 2015 00:31

"Dalam banyak organisasi, membuat perubahan bagaikan memoleskan lipstik pada anjing buldog. Anda harus berusaha keras. Sering kali yang Anda dapatkan hanyalah noda lipstik, dan seekor anjing buldog yang marah". Demikian tulis Dave Murphy dalam San Francisco Chronicle.

Pengampunan, pertobatan dan menjadi pengikut Kristus adalah pengajaran yang sering kita dengar. Tetapi, pengampunan Allah yang begitu besar sering kali ditanggapi dengan tindakan “murahan”, yaitu ketika kita kembali kepada kehidupan lama kita sehingga makna pertobatan tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh. Padahal, pengampunan Allah selalu    disertai panggilan untuk bertobat, di mana kita diharapkan untuk berubah, meninggalkan kejahatan yang lama, dan mengikut Tuhan. Inilah proses yang diharapkan oleh Tuhan Yesus dan yang dapat kita lihat pada kisah Yunus (Bacaan 1) serta kisah Tuhan Yesus memanggil murid-murid yang pertama (Bacaan Injil).

 

  1. Dalam kisah Yunus dan kota Niniwe, peringatan Tuhan melalui Yunus akan perbuatan orang Niniwe yang jahat ditanggapi orang Niniwe dengan tindakan yang benar (bukan “murahan”), yaitu dengan berbalik dari tingkah laku yang jahat. Pertobatan yang ditunjukkan oleh seluruh isi kota Niniwe bukan hanya ritual penyesalan, tetapi diikuti dengan perubahan sikap hidup.
  2. Dalam kisah Tuhan Yesus memanggil murid-murid yang pertama, peristiwa Tuhan Yesus memanggil murid-murid yang pertama ini diawali dengan pemberitaan Injil oleh Tuhan Yesus di Galilea, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”. Setelah pemberitaan Tuhan Yesus atas orang-orang di Galilea ini, Tuhan Yesus memberikan panggilan khusus kepada beberapa penjala ikan yang Ia temui di tepi danau Galilea, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Keseluruhan proses dari pemberitaan Injil (“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”) sampai kepada  panggilan khusus (“Mari, ikutlah Aku”) ditanggapi oleh Simon,  Andreas, Yakobus dan Yohanes dengan keputusan mengikut  Tuhan Yesus.

 

Pertobatan yang lahir dari rasa cinta kepada Tuhan Yesus tidak hanya berhenti kepada sebuah ungkapan hati yang menyesal, ataupun ritual penyesalan, tetapi diikuti dengan keseluruhan hidup yang diubah arah orientasinya kepada Injil. Untuk pertobatan ini, diperlukan usaha yang keras untuk membuat perubahan atas diri sendiri, seperti diilustrasikan oleh Dave Murphy dalam San Francisco Chronicle.

Perjuangan yang keras untuk membuat perubahan atas diri sendiri tidak akan berhasil jika tidak dilandasi oleh perjumpaan dengan kasih Allah. Kita dapat berjumpa dengan kasih Allah ketika kita mengerti dan merasakan kasih Allah yang begitu besar, murni, dan tidak terbatas akan kita.

Mari kita meresponi pengampunan Allah dengan perubahan hidup (pertobatan) dan kesediaan untuk mengikut-Nya.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Penulis: Nathan Christianto Kilindung

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 43/XX/Minggu, 25 Januari 2015 

 
DIPANGGIL UNTUK MENGIKUT YESUS PDF Print E-mail
Written by Reyn Hard Dinguamah   
Saturday, 17 January 2015 16:50

Dalam Kebaktian Minggu, 11 Januari 2015 yang lalu, Pdt. Ellisabeth Hasikin mengajukan pertanyaan yang menarik dan cukup mendasar kepada jemaat. Inti pertanyaannya adalah: “Apa arti hidup bagi saudara?” Ada jemaat yang menjawab: “hidup adalah perjuangan”, jemaat lain menjawab: “hidup adalah anugerah”. Ibu Suci yang duduk di samping saya menjawab: “hidup adalah kairos”, (tidak sampai terdengar oleh Pdt. Ellisabeth Hasikin). Saya sendiri berpikir/menjawab (tidak menyuarakannya) bahwa “hidup itu adalah panggilan”. Mungkin pikiran/jawaban saya ini dipengaruhi oleh situasi pikiran dan perenungan saya akan tema renungan warta minggu ini yang berjudul “Dipanggil untuk Mengikut Yesus”. Setelah saya pikirkan dan renungkan lebih dalam lagi, pikiran/jawaban saya itu ada benarnya.

Setelah manusia (Adam dan Hawa) jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah dan hidupnya terpisah dari Allah. Allah ingin kembali bersekutu dengan manusia ciptaan-Nya. Maka Allah melakukan berbagai cara agar bisa kembali memiliki hubungan yang baik dan akrab dengan manusia yang memang Dia kasihi. Hingga pada akhirnya Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus ke dalam dunia untuk keselamatan umat manusia.

Secara prinsip, sesungguhnya Allah memanggil semua orang untuk percaya kepada Tuhan Yesus agar memperoleh keselamatan dan kembali bersekutu dengan Allah Bapa di surga. Cara Allah memanggil setiap orang dapat saja berbeda-beda. Ada yang dipanggil secara langsung, ada yang dipanggil melalui orang lain, ada yang dipanggil melalui alam ciptaan-Nya, ada yang dipanggil melalui perenungan Firman Tuhan, ada yang dipanggil melalui suatu peristiwa/kejadian istimewa dalam hidupnya dan berbagai cara unik lainnya.

Dalam merespons panggilan Tuhan ini, manusia memberikan respon yang beragam. Ada orang mendengar panggilan Tuhan dan segera percaya lalu mengikut Dia. Ada juga orang yang mendengar panggilan Tuhan tetapi tidak segera memberi respons yang baik. Ada orang yang tidak peduli dengan panggilan Tuhan. Bahkan ada orang yang menolak panggilan Tuhan, dan tidak percaya kepada-Nya.

Dalam bacaan injil hari ini (Yohanes 1:43-51), kita dapat melihat bagaimana respons Filipus dan Natanael saat mendengar panggilan Tuhan Yesus. Filipus mendengar panggilan Tuhan tanpa             mempertanyakan ajakan Tuhan yang singkat dan tegas itu. Ia langsung percaya dan memutuskan untuk mengikut Yesus. Filipus bahkan mengajak Natanael untuk percaya dan mengikut Yesus. Tetapi Natanael bersikap berbeda, ia malah mempertanyakan asal-usul dan daerah asal Tuhan Yesus. Namun, setelah Natanael bertemu secara pribadi dengan Tuhan Yesus, ia menjadi takjub, kagum dan percaya kepada-Nya, bahkan ia mau mengikut Tuhan. Bagaimana cara Allah memanggil kita untuk mengikut Dia?

Setelah kita percaya dan mengikut Tuhan, tentu Allah ingin kita menjadi saksi-Nya dan mengajak orang lain untuk percaya dan mengikut Tuhan juga. Untuk menjalankan kerinduan Allah ini, setiap orang percaya dalam kurun waktu tertentu dalam hidupnya mendapat panggilan-panggilan khusus. Ada yang dipanggil menjadi dokter, menjadi guru, menjadi ibu rumah tangga, menjadi suami, menjadi pengusaha, menjadi pendeta, menjadi guru sekolah minggu, menjadi artis, menjadi siswa, menjadi majelis jemaat, menjadi supir, menjadi presiden, menjadi gubernur, menjadi ketua RT, menjadi tukang parkir, menjadi tukang sayur, menjadi polisi, menjadi tentara atau panggilan lain yang spesial dan unik.

Ketika kita menjalankan panggilan-panggilan khusus tersebut, Allah menginginkan kita menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh rasa tanggung jawab. Kita menjadi guru yang dapat diteladani, menjadi anak yang membanggakan orangtua, menjadi suami yang mengasihi istrinya, menjadi pengusaha yang jujur, menjadi ketua RT yang mengayomi warganya, menjadi tentara yang tidak arogan, menjadi tukang parkir yang bertanggung jawab, menjadi polisi yang tidak melakukan pungli, dll. Allah menginginkan kita melakukan segala sesuatunya seperti untuk Dia dan bukan untuk manusia. Jadi melalui panggilan-panggilan khusus kita, orang lain disekitar kita dapat melihat dan mengenal siapa yang kita ikuti atau siapa Tuhan kita.

Tujuan renungan kali ini adalah: “Umat memahami bahwa panggilan hidupnya yang utama adalah mengikut Yesus dengan mendengar dan merespons panggilan-Nya”. Semoga dengan memahami bahwa yang terutama dalam hidup kita adalah mengikut dan memuliakan Tuhan, maka kita akan menjalankan panggilan-panggilan khusus kita dengan motivasi yang baik dan benar. Kita melakukannya dalam rangka menjadi saksi Tuhan dan menjadi saluran berkat dari Tuhan untuk orang-orang di sekeliling kita. Kiranya Tuhan Yesus mengaruniakan kekuatan dan kesetian kepada kita dalam mengikut Dia sepanjang hidup kita. Amin.

 

Penulis: Reyn Hard Dinguamah

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 42/XX/Minggu, 18 Januari 2015

 

 
DIKASIHI DAN DIPERKENAN ALLAH PDF Print E-mail
Written by James Steven Purba   
Tuesday, 13 January 2015 03:34

“I cannot believe in a God who wants to be praised all the time.”

Kalimat itu datangnya dari filsuf terkenal Friedrich Nietzsche, yang menjadi populer ketika dipakai oleh berbagai pihak yang hendak menyindir aktivitas warga Kristen dunia yang sibuk dengan segala macam penyembahan dan pujian. Namun bila direnungkan, ungkapan itu memang bisa menjadi  “cubitan” yang membangunkan kita dari mimpi panjang tentang sosok Allah yang seolah hanya ingin    disenangkan saja.

Bukankah kita kerap bertanya tentang bagaimana caranya agar kita dikasihi dan diperkenan oleh Allah? Bukankah seringkali kita memaknai  tujuan hidup kita untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan, sehingga seluruh aktivitas doa, saat teduh, pujian penyembahan, persembahan dan pelayanan, kita anggap sebagai jalan untuk menyenangkan Tuhan? Bahkan ada diskusi muda-mudi populer dengan tema, “Belajar memprioritaskan kesenangan Tuhan di atas kesenangan pribadi”.

Tentu ini tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Ungkapan Nietzsche mengingatkan kita bahwa Allah adalah sosok yang mahabesar yang sebenarnya tidak membutuhkan segala puji-pujian kita. Kesan bisa beragam, namun kesan penulis tentang ungkapan di atas adalah memperkenalkan kembali Allah yang kita percayai sebagai sosok yang kebesaran-Nya melampaui segala akal pemahaman kita, sehingga kurang pas apabila kita membatasi Allah untuk disenangkan semata.

Dalam perspektif iman Kristen, kita memahami bahwa sejatinya manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Namun karena begitu besar kasih Allah, ia berkenan memberikan Anak-Nya sendiri. Kalimat ini tentunya akrab di telinga kita, tetapi mari kita membaca dan menghayati sekali lagi, terutama pada bagian “karena begitu besar kasih Allah…”

Renungan pada hari Minggu ini mau mengingatkan kita bahwa kasih Allah yang kita alami setiap harinya bukan berasal dari segala aktivitas dan kebaikan kita, namun adalah prakarsa Allah itu sendiri. Sehingga pertanyaan kita tentang “bagaimana caranya menyenangkan Allah” sebaiknya lebih diarahkan dalam kaitan dengan respons atau pertanggungjawaban atas kasih Allah yang begitu besar yang telah kita terima itu.

Sebagaimana Allah mencintai kita tanpa syarat, maka kita pun sebaik mungkin harus mencintai sesama dengan tulus, belajar untuk beribadah tanpa syarat, membina hubungan tanpa syarat dan terus belajar bersama untuk membina kehidupan dengan kebaikan yang tanpa syarat. Kiranya Allah yang mahabesar memampukan kita.

 

Penulis: James Steven Purba

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 41/XX/Minggu, 11 Januari 2015

 

 

 
NEW YEAR, NEW HOPE! PDF Print E-mail
Written by Pdt. Gloria Tesalonika   
Wednesday, 07 January 2015 07:25

Peristiwa hilangnya pesawat Air Asia dengan rute Surabaya-Singapura pada hari Minggu 28 Desember 2014 yang lalu, menjadi duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Hanya dalam hitungan hari, seluruh masyarakat semestinya merayakan pergantian tahun, menutup tahun 2014 dan menyongsong tahun 2015 dengan gembira dan sukacita. Namun bukan  kegembiraan menyambut tahun baru yang dirasakan, sebaliknya masyarakat justru diperhadapkan pada dukacita yang mendalam, atas peristiwa jatuhnya pesawat dengan kode penerbangan QZ 8501 tersebut.

Hingga Senin yang lalu, proses pencarian pesawat termasuk seluruh awak kapal dan penumpang di dalamnya belum menemukan titik terang. Berbagai pemberitaan, mulai dari surat kabar juga media televisi, melukiskan jelas bagaimana pihak keluarga dilanda kecemasan bahkan kekhawatiran, tatkala menunggu kabar terkait dengan anggota keluarga mereka yang berada dalam pesawat yang dikemudikan oleh Kapten Pilot Iriyanto itu. Akan tetapi secercah harapan muncul ketika Selasa 30 Desember, sekitar pk. 14.45 Badan SAR Nasional (Basarnas) memastikan bahwa puing-puing  dan jenazah yang ditemukan di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, berasal dari pesawat Air Asia QZ 8501, yang ditemukan pada pagi harinya. Mendengar kabar tersebut, sontak seluruh warga masyarakat serta pemerintah Indonesia berada dalam sebuah kondisi harapan, harapan akan sebuah kepastian dari kebimbangan dan kecemasan yang sebelumnya melanda. Penemuan serpihan kapal serta jenazah korban tak dihindari menimbulkan kesedihan bagi keluarga serta seluruh Bangsa Indonesia. Akan tetapi di sisi lain, penemuan tersebut menjadi harapan di tengah ketiadaan harapan dan kepastian yang mereka alami beberapa hari terakhir ini.

Hidup manusia tidak dapat dilepaskan dari apa yang disebut dengan harapan (hope). Harapan adalah pra-syarat yang membuat manusia dapat hidup. Harapan memampukan kita untuk menatap masa depan yang membentang di hadapan kita. Akan tetapi, harapan bukanlah sesuatu yang langgeng. Di satu sisi, kita juga dapat kehilangan harapan sehingga kita menjadi gelisah, cemas, khawatir, bahkan putus asa. Inilah yang dialami oleh keluarga korban jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501. Mereka berada dalam kondisi ini. Andar Ismail dalam tulisannya pernah menyatakan bahwa itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Manusia bisa memiliki harapan, namun juga bisa kehilangan harapan. Manusia, pada titik tertentu ketika merasa putus asa dan merasa tidak bisa menyelesaikan persoalan hidupnya bisa melakukan tindakan yang ekstrim ingin cepat mati dan mengakhiri hidupnya.

Oleh karenanya tak bisa tidak, kita berpengharapan selama kita hidup di tengah dunia ini, dan kita hidup selama kita berpengharapan. Namun pertanyaannya, pengharapan seperti apa yang dimaksud disini? Pengharapan dalam hidup orang percaya bukan hanya sekedar dambaan. Pengharapan di dalam Kristus tidak hanya sekadar bicara soal hasil yang diinginkan dalam sebuah kejadian. Akan tetapi sungguh indah, pengharapan di dalam Kristus adalah harapan akan sesuatu yang pasti terjadi dan merupakan janji Tuhan atas kita.

Inilah yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam Suratnya kepada Jemaat di Korintus yaitu I Korintus 13:13. Dalam pandangan Paulus, kata pengharapan mempunyai peranan yang penting dalam iman kristiani. Pengharapan dalam iman kristiani adalah sebuah keyakinan, kepercayaan kepada Tuhan yang menjamin hidup umat-Nya. Kepastian harapan dalam iman kristiani berbeda dengan kepastian sebuah perencanaan manusia. Kepastian dalam sebuah pengharapan di sini adalah sebuah kepercayaan bahwa hidup manusia sepenuhnya berada dalam tangan Tuhan. Dengan kata lain Tuhan Allah sendirilah yang menjadi dasar pengharapan. Kasih-Nya yang telah teruji melalui perjalanan hidup Yesus Kristus, adalah sumber dari pengharapan iman kristiani sekarang dan di masa depan.

Pemaknaan pengharapan inilah yang semestinya mengiringi perjalanan hidup kita memasuki tahun 2015. Kita baru saja melalui tahun 2014 dengan begitu banyak kenangan di dalamnya. Tak dipungkiri, perjalanan hidup kita memang tak selamanya mulus. Selain sukacita dan kebahagiaan, kita pun kerap diperhadapkan pada situasi yang tidak mudah dan tidak menyenangkan sepanjang tahun yang telah lewat. Mungkin ada di antara kita yang kehilangan pekerjaan, juga kehilangan orang yang amat dikasihi dan dicintai. Tak sedikit dari kita yang mengalami krisis ekonomi maupun krisis dalam hidup berumah tangga. Pergumulan itu menjadi bagian dalam hidup yang tentu saja menyesakkan dada dan menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita untuk melanjutkan hidup ke depannya.

Namun Firman Tuhan meneguhkan kita sekalian, bahwa Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyatakan pengharapan-Nya atas kita. Sungguh amat indah, pengharapan di dalam Kristus adalah pengharapan yang pasti, karena itulah janji-Nya bagi kita. Karena itu marilah kita melangkah memasuki tahun yang baru dengan kesadaran untuk tetap teguh dalam iman, setia dalam tindakan, dan bersandar sepenuhnya kepada pengharapan kita kepada janji Tuhan yang telah merencanakan perjalanan hidup kita.

Saya mengakhiri renungan ini dengan syair sebuah lagu berjudul “Ku Tahu Bapa P’liharaku”, yang berisikan janji pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan kita, memasuki tahun yang baru:

Ku tahu Bapa p’liharaku,

Dia baik… Dia baik…

Ku yakin Dia s’lalu sertaku

Dia baik bagiku

Lewat badai cobaan,

kasih-Nya menyatakan kebaikan…

Ku tahu Bapa p’liharaku,

Dia baik bagiku

 

Selamat Tahun Baru 2015 Jemaat GKI Perumahan Citra 1.

Selamat mensyukuri anugerah Tuhan yang mengiringi perjalanan hidup Saudara di tahun yang baru ini.

Tuhan memberkati.

 

Penulis: Pdt. Gloria Tesalonika

Sumber : Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 40/XX/Minggu, 4 Januari 2015 

 

Last Updated on Wednesday, 07 January 2015 07:28
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini1
mod_vvisit_counterKemarin26
mod_vvisit_counterMinggu Ini141
mod_vvisit_counterBulan Ini1
mod_vvisit_counterKeseluruhan69585

Login Form