ja_mageia

Pokok Doa (Sakit)
1. Dian Panglipuringtyas
2. Ibu Julianti
3. Ibu Nanik 
4. Bp. Julius Trianto
5. Ibu Totty Atman
6. Ibu Listiyani Rachman

   
    

 

    
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Home
GKI Perumahan Citra 1
MENGOSONGKAN DIRI, TAAT MEMIKUL SALIB PDF Print E-mail
Written by Rismauli V. P. Aruan   
Sunday, 29 March 2015 00:01

Tema ibadah kita Minggu ini adalah “Mengosongkan Diri, Taat Memikul Salib”. Kenosis adalah kata Yunani untuk “kekosongan”. Mengosongkan diri (kenoo) digunakan dalam arti mengosongkan, menghapuskan, membuat tidak berpengaruh (make of no effect), kehilangan pembenaran. Kata kosong merujuk kepada berbagai hal, seperti misalnya keadaan kosong pada suatu rumah berarti tidak memiliki benda, sedangkan kosong pada seorang manusia berarti suatu keadaan tanpa perasaan, bodoh, bahkan tanpa guna dan tidak bernilai.

Minggu Pra-Paskah VI kerapkali disebut sebagai Minggu     Palmarum serta Minggu Sengsara. Dalam kisah di Minggu Palmarum ini, kita menyaksikan dalam Berita Injil bahwa penduduk Yerusalem mengelu-elukan Yesus dengan nyanyian "Hosana". Umat yang semula menyanjung Yesus berubah menjadi kumpulan orang yang melampiaskan kemarahan dan kebencian, agar Yesus disalibkan.

Yesus dan murid murid-Nya masuk ke kota Yerusalem setelah melalui perjalanan di Yerikho, di mana Ia menyembuhkan seorang      pengemis yang buta bernama Bartimeus. Saat berada dekat Betfage dan Betania, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk mengambil seekor keledai. Injil Markus mempersaksikan kuasa Yesus yang mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi di depan, bahkan juga reaksi orang yang akan menanyakan alasan para murid untuk melepaskan keledai tersebut. Dalam Markus 8:31, Yesus berkata ”Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari". Kemampuan Yesus memprediksi masa depan berkaitan dengan prediksi-Nya tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya. Dengan demikian, keputusan Yesus pergi ke Yerusalem didasari pada kesadaran ilahi-Nya bahwa Dia melaksanakan kehendak dan rencana keselamatan Allah. Kesadaran ilahi Yesus merujuk pada kuasa Allah yang mahatahu (omniscience) tentang apa yang akan terjadi, sehingga peristiwa kematian yang dialami oleh Yesus merupakan wujud dari rencana keselamatan Allah. Allah telah mempersiapkan karya keselamatan dalam penebusan, sehingga         penderitaan dan kematian Yesus merupakan karya pendamaian yang akan memulihkan dan mengampuni umat yang percaya kepada-Nya.

Umat Israel di Yerusalem memandang diri Yesus bagaikan seorang pahlawan yang menang berperang. Mereka menyebut Yesus sebagai Mesias, dan mereka menyaksikan Yesus berkuasa melakukan berbagai mujizat dengan kuasa ilahi, sehingga banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, untuk diinjak keledai yang ditunggangi Yesus dan mengikuti Yesus sambil berseru “Hosana! Hosana!”, yang  berarti “Oh, selamatkanlah sekarang, sudilah menyelamatkan kami!” Penduduk Israel memohon agar Yesus Sang Mesias Allah berkenan menyelamatkan mereka dari penjajahan Bangsa Romawi. Apabila mereka telah terbebas dari penjajahan politis, maka mereka berharap berdirinya Kerajaan Mesias yang jaya seperti kerajaan Daud     menguasai seluruh kehidupan umat. Pengharapan politis ini membutakan mata hati dan iman mereka untuk melihat dan menyadari makna dan tujuan sesungguhnya arti kehadiran dan pekerjaan Yesus untuk menyatakan karya keselamatan Allah dengan memberikan hidup-Nya. Hal ini membuat penduduk Yerusalem sangat kecewa ketika Yesus tidak melakukan perbuatan mukjizat bahkan perlawanan sedikit pun saat diri-Nya ditangkap dan dianiaya. Teriakan “Hosana“ yang dikumandangkan kemudian berubah menjadi teriakan “salibkan Dia”.

Hal yang paradoks terlihat dalam keadaan di mana semua orang yang menyambut Yesus dengan kegembiran luar biasa bak raja yang datang, lalu menjadi kelompok  massa yang berteriak seperti kepada seorang penjahat yang menuntut kematian Yesus. Namun sungguh istimewa, Yesus menunjukkan kemuliaan-Nya dengan melepaskan hak-Nya mengosongkan diri, dan memilih secara aktif untuk tetap taat mutlak mengemban tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya. Yesus merendahkan diri-Nya, sekalipun Ia setara dengan Allah, memilih untuk menjadi hamba yang mengalami proses “perubahan”. Ini dituliskan dalam Surat Filipi 2, di mana dituliskan Yesus (1) Tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah, (2) mengosongkan Diri, (3) mengambil rupa seorang hamba, (4) menjadi sama dengan Manusia, (5) merendahkan diri, (6) taat sampai mati, (7) mati di atas kayu salib.

Rasul Paulus menunjukkan perbedaan sikap antara Kristus dan pemerintah Romawi. Pemerintah Romawi yang menjajah, senantiasa lebih cenderung untuk mencari kehormatan dan kemuliaan, dengan meningkatkan kedudukan dan status seseorang. Kecenderungan kita selaku umat, juga bisa lebih suka mencari kehormatan di balik pelayanan dan kesalehan. Kita terkadang juga tidak segan menggunakan nama Allah atau Kristus, walaupun sesungguhnya kita haus akan pujian dan kehormatan. Akan tetapi, Kristus bersikap sebaliknya. Ia turun dari kemuliaan-Nya dan statusnya sampai ke titik terendah, bahkan sampai pada status yang paling hina dengan mati di kayu salib. Berkurban dan memberikan nyawa-Nya bagi umat manusia. Kesediaan Kristus mengosongkan diri dan memberikan hidup-Nya, adalah supaya setip umat yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang berkelimpahan dengan anugerah. Prinsip teologis ini diteguhkan oleh Injil Yohanes: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan".

Tuhan Yesus sudah memberikan keteladanan positif yaitu ketaatan kepada Sang Bapa. Ketaatan ini mestinya diresponi oleh kita sebagai anak-anak-Nya. Ia menghendaki kita untuk juga memiliki ketaatan dalam perjalanan hidup kita. Ketaatan yang bukan ditentukan oleh keadaan, namun ketaatan karena pembaharuan kasih kita kepada-Nya, demi kemuliaan-Nya dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

Penulis: Rismauli V.  P. Aruan

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 52/XX/Minggu, 29 Maret 2015

 

Last Updated on Sunday, 29 March 2015 00:02
 
SIAPA MENCINTAI NYAWA AKAN KEHILANGAN NYAWANYA PDF Print E-mail
Written by Pnt. Lisawati Thahir   
Saturday, 21 March 2015 06:34

Seturut dengan kalender tahun gerejawi, hari ini kita memasuki minggu Pra-Paskah V. Pada masa ini gereja menyongsong    tibanya saat-saat menjelang peristiwa kematian Kristus. Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Cepat atau lambat, pasti, entah dengan cara apapun, kita semua akan sampai ke sana. Saat Tuhan memanggil, dari debu akan kembali menjadi debu.

            Di dalam Injil Yoh. 12:25 Yesus menyatakan: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”. Ini adalah pernyataan kontroversial atau lebih tepatnya paradoksal artinya pernyataan tersebut merupakan penyimpangan dari hal-hal normal. Secara naluriah, makhluk hidup akan berjuang untuk survival (bertahan hidup) atau melawan kalau nyawanya terancam. Mereka ingin sebisanya terus hidup dan berjuang mempertahankan nyawanya.

            Namun kehidupan yang tampak paradoksal ini juga dijalani oleh Tuhan Yesus sendiri. Ketika Andreas dan Filipus menyampaikan permintaan beberapa orang Yunani yang ingin menemui Yesus. Tuhan Yesus menjawab: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yoh. 12:23). Ini adalah proklamasi pertama kematian Kristus. Walaupun Dia berkuasa atas maut, Tuhan rela menyerahkan nyawa-Nya. Menjelang kematian-Nya, sebagaimana dinyatakan Tuhan Yesus sendiri: Anak Manusia akan mati dalam keadaan “ditinggikan dari bumi” (Yoh. 12:32).  Sekarang telah menjadi jelas bahwa yang dimaksudkan adalah kematian di kayu salib. Pada waktu itu Tuhan Yesus tergantung di antara langit dan bumi. Kematian yang mengerikan.

            Tentu tidak mudah untuk mengurbankan diri dan menghadapi kematian. Tuhan Yesus sendiri juga bergumul. Yesus terharu, seperti ketika Ia berdoa di taman Getsemani. Namun kematian itu jugalah yang menjadi jalan bagi kemuliaan-Nya. Kristus harus lebih dulu mati, untuk kemudian bangkit dan menunjukkan kemenangan sorgawi. Melalui kematian-Nya, tujuan Allah menyelamatkan dunia itu dinyatakan. Paradox of the cross, dari suatu kehinaan dalam kematian di kayu salib menjadikan Kristus yang bangkit dan dipermuliakan.

Paradoks salib sebetulnya senada juga dengan pernyataan Yesus di Yoh. 24:24, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Harus mati untuk bertumbuh dan berbuah juga merupakan misteri kehidupan, bahkan sebuah keniscayaan. Banyak benih tumbuh-tumbuhan seringkali disimpan dalam keadaan kering untuk jangka waktu yang lama. Benih itu juga (tampak) mati. Namun, ketika benih itu ditanam di tanah, benih yang tampak mati itu pecah dan menghasilkan tumbuhan baru, yang akan berbuah dan menghasilkan lebih banyak kehidupan baru. Bersedia mengurbankan diri (pecah dan mati), menjadi jalan untuk mengembangkan kehidupan baru.

            Misteri kematian dan kehidupan seperti itu juga merupakan prinsip kehidupan Kristen. Untuk dapat berbuah, kita tidak harus “mati beneran” seperti yang dialami Tuhan Yesus. Untuk menjadi berkat yang “menghidupkan”. Kita harus bersedia “mematikan” egoisme dan mau berkurban. Mengurbankan keinginan, kepentingan sendiri dan bisa jadi kenikmatan hidup, demi kebaikan umat manusia yang dikasihi Tuhan, sudah merupakan bagian dari perwujudan kematian yang menghidupkan. Seperti pernyataan Rasul Paulus dalam Filipi 1:21-22 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah”. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk hidup menurut teladan Kristus, berkurban demi misi Allah menyelamatkan dunia ini.

            Kevin Carter adalah seorang wartawan foto Afrika Selatan, pemenang penghargaan Pulitzer Prize (penghargaan tertinggi dalam jurnalistik) pada tanggal 23 Mei 1994 di Columbia University, AS. Saat melakukan perjalanan ke Sudan pada bulan Maret 1993, Carter memotret seorang anak perempuan kecil yang sekarat karena kelaparan dan di dekatnya ada burung pemakan bangkai yang sedang menunggu untuk memakan anak tersebut. Dua bulan setelah mendapatkan penghargaan istimewa itu, pada tanggal 27 Juli 1994 Carter bunuh diri di dalam truk di tebing sungai Braamfonteinspuit, Afrika Selatan. Ia meninggal dalam usianya yang ke-33 tahun. Menurut sahabat Carter, semenjak namanya melonjak, ia mengalami depresi, tertekan berat oleh rasa bersalah, karena banyak kecaman dari berbagai pihak yang marah dan berpendapat dirinya hanya mementingkan profesi melebihi naluri kemanusiaannya. Alih-alih mengangkat dan menolong gadis kecil itu, ia hanya mengambil gambar “Di Ambang Kematian” yang akhirnya membawa dirinya sendiri kepada kematian tragis.

            Kehidupan, pekerjaan, dan keberadaan kita di dunia ini samasekali tidak meniadakan tanggung jawab kita sebagai manusia yang telah menerima anugerah keselamatan-Nya. Bagi Yesus, mati demi kehidupan memang sebuah momen tunggal di atas kayu salib. Namun bagi kita, mati demi kehidupan adalah sebuah panggilan setiap saat. Mati demi kehidupan adalah sebuah cara hidup yang berani menyingkirkan apa saja yang menghalangi pelayanan kita dari Allah dan sesama. Dengan menyerahkan kehidupan atau “nyawa” kita, untuk melayani Tuhan dan melakukan kebaikan bagi orang lain, sesungguhnya kita sedang membangun kehidupan yang berkenan kepada Allah. “Nyawa” kita di dunia ini tampak seperti tidak kita pertahankan, tetapi  kita sedang menghidupi kehidupan kekal yang dikaruniakan Tuhan kepada orang percaya.

            Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk menjalani kehidupan seperti kehidupan yang Kristus telah jalani. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

Penulis: Pnt. Lisawati Thahir

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 51/XX/Minggu, 22 Maret 2015 

 
Anugerah Keselamatan-NYA - Rayakanlah! PDF Print E-mail
Written by Pnt. Tulus Santoso   
Wednesday, 18 March 2015 05:36

Orang bilang hidup adalah proses untuk menjalani kesengsaraan, sehingga konon oleh karena itulah maka setiap bayi yang lahir akan selalu menangis. Tidak peduli kaya atau miskin, pandai atau bodoh, tua atau muda, tinggi atau pendek maupun gemuk atau kurus, pada umumnya kita merasakan kesengsaraan dan ketidak puasan dalam kehidupan yang dijalani, sampai timbul ungkapan “rumput tetangga lebih hijau”. Orang merasa tidak puas hidupnya karena terjebak dengan ukuran-ukuran untuk selalu membandingkan diri dengan keberhasilan orang lain. Sebagai orang beriman sepatutnya kita menjalani hidup dengan senantiasa merayakan hidup itu sendiri dalam setiap momen yang dilewati. Cobalah kita merenung sejenak, menginterospeksi diri, apa yang kita sudah alami dalam satu jam terakhir saja. Maka bermacam bayangan dari berbagai kejadian akan segera terlintas dalam pikiran kita, sedemikian banyaknya sehingga kita sulit untuk mengingat kembali setiap momennya. Kemudian kita coba lagi konsentrasikan diri pada hal-hal positif, tatkala momen-momen yang baik yang sudah kita jalani boleh berlangsung bahkan tanpa kita sadari, semuanya tampak  under control, teratur  seolah ada “tangan” yang terus-menerus membimbing kita dalam menjalani kehidupan ini.

Seperti diungkapkan pada Bilangan 21:4-9 mengisahkan kasih Tuhan yang amat nyata kepada umat Israel. Allah mendengar keluh kesah umat-Nya yang menderita sebagai budak di Mesir dan Ia bertindak menyelamatkan mereka. Demikian juga Mazmur 107:1-3 yang menyimpulkan bahwa kasih Tuhan bersifat kekal. Karena kasih setia-Nya Tuhan menebus umat-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Pada bagian selanjutnya Mazmur 107:17-22 diuraikan berbagai pertolongan Tuhan kepada umat-Nya, yang sakit disembuhkan, yang kelaparan dan kehausan diberi makan dan minum. Mengingat kebaikan Tuhan tersebut, sepatutnyalah umat merayakan hidup dengan menyatakan syukur kepada Tuhan, memberi persembahan syukur dan memberitakan segala kebaikan-Nya. Rasul  Paulus juga mengunkapkan dalam Filipi 2:1-3 bahwa jemaat Filipi dahulu sudah mati karena pelanggaran dan dosa mereka. Namun demikian sebaliknya dalam Fil 2:4-7 dinyatakan bahwa karena kasih karunia Allah yang besar, alih-alih menghukum, Allah justru meluputkan umat-Nya dari hukuman dan menyelamatkan mereka dari maut. Menurut Paulus, Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita. Di dalam Kristus Yesus, Allah telah membangkitkan umat-Nya dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga. Lebih lanjut ditegaskan bahwa karena kasih karunia orang Kristen diselamatkan oleh iman kepada Kristus. Keselamatan itu bukan hasil usaha manusia tetapi pemberian Allah (Fil 2:8-10). Percakapan Yesus dengan Nikodemus dalam Yohanes 3:14-21 telah mempertegas pada kita semua atas peran “Anak Manusia” yakni Diri-Nya sendiri sebagai pusat dari konsistensi Allah yang melimpahi umat-Nya dengan kasih setia dan rahmat. Seperti Musa meninggikan patung ular tembaga dan siapa yang memandangnya akan sembuh dari ancaman kematian akibat pagutan ular tedung. Demikian juga dalam penyelamatan umat manusia dan dunia “Anak Manusia” pun harus ditinggikan (disalib), agar setiap orang yang memandang kepada-Nya memperoleh keselamatan.

Kita sebagai umat Allah, yang seharusnya mati telah dihidupkan kembali oleh karya kematian dan kebangkitan Kristus, mengingat itu sepatutnyalah kita merayakan kehidupan ini dengan antusias, namun demikian kita tidak boleh membanggakan diri, melainkan melaksanakan kehendak Allah yang Ia rancang untuk kita. Kita harus senantiasa merayakan hidup dengan mendasarkan pada hubungan kita dengan Tuhan antara ciptaan dengan sang Pencipta dan menghayati kasih Tuhan melalui anugerah keselamatan dari dosa. Yesus adalah representasi kehadiran Allah yang penuh kasih setia, maka barang siapa percaya kepada Yesus, ia tidak akan mengalami kebinasaan melainkan memperoleh kehidupan yang kekal. Inilah dasar utama bagi umat beriman untuk merayakan kehidupan.

Marilah kira rayakan…..

 

Penulis: Pnt. Tulus Santoso

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 50/XX/Minggu, 15 Maret 2015 

 
MENGUDUSKAN DIRI DENGAN MENAATI FIRMAN TUHAN PDF Print E-mail
Written by Pnt. Samuel Stefan Siahaya   
Saturday, 07 March 2015 11:43

Akhir-akhir ini kita seringkali membaca atau mendengar melalui berbagai media tentang banyaknya orang ataupun institusi yang melanggar bahkan memutarbalikkan hukum/peraturan yang berlaku. Ketidaksesuaian pendapat antara dua pihak dapat berujung dengan pertikaian, kekerasan bahkan pembunuhan. Pihak yang lebih berkuasa seringkali dengan mudah menindas pihak yang lemah demi keuntungan pribadi maupun golongan. Di sisi lain, perselingkuhan dan perzinahan sudah tidak dianggap sebagai hal yang tabu oleh sebagian masyarakat, khususnya yang hidup di daerah perkotaan. Hidup kudus, benar dan taat akan aturan (Firman Tuhan) menjadi hal yang langka dalam kehidupan masyarakat saat ini. Lantas, apa yang harus dilakukan oleh orang-orang percaya dalam menghadapi kenyataan di atas?  Pertanyaan ini sangat penting untuk kita renungkan bersama, mengingat sebagai orang-orang percaya, kita dikuduskan atau ”dipisahkan” dari dunia untuk menjalani hidup baru sesuai dengan firman Tuhan, dan diutus kembali ke dalam dunia untuk menjadi garam dan terang (bersaksi) di tengah dunia.

Di dalam Kitab Keluaran 20:1-7 telah tercantum Sepuluh Hukum yang diberikan Allah dengan perantaraan Musa kepada bangsa Israel setelah mereka mengalami pembebasan dari perbudakan di Mesir. Di dalam Sepuluh Hukum ini, secara tegas Allah menyatakan aturan-aturan yang harus ditaati oleh manusia (dalam hubungannya dengan Allah dan sesama manusia) agar manusia mengalami kebebasan yang sesungguhnya, yaitu bebas dari belenggu dosa. Melalui Sepuluh Hukum Firman ini, Allah ingin agar manusia menghayati tiga hal utama, yaitu:      1) Anugerah kasih yang telah diterima dari Allah; 2) Bagaimana merespon kasih itu dengan mengasihi Allah; 3) dan mewujudnyatakan kasih kepada Allah melalui tindakan mengasihi sesama. Namun sejak hukum Allah ini diperkenalkan melalui bangsa Israel hingga saat ini, manusia cenderung untuk melanggar hukum Allah dan lebih menikmati hidup di dalam belenggu dosa.

Walaupun manusia tetap berbuat dosa, Allah tetap mengasihi manusia, sehingga Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Perikop dalam Injil Yohanes 2:13-22 menceritakan bagaimana Yesus, datang ke Bait Suci di Yerusalem. Dikatakan dalam ayat 15-16 “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Mengapa Tuhan Yesus marah dan bertindak seperti itu? Alasannya karena Tuhan Yesus mengetahui ada banyak penyimpangan dan ketidakadilan yang dilakukan di Bait Suci. Ia membersihkan (menguduskan) Bait Suci dari “bisnis” ibadah para imam dan kroni-kroninya. Selain itu, Ia juga mengembalikan fungsi tempat berdoa di halaman Bait Suci. Tuhan Yesus mengetahui bahwa ritual ibadah dan berbagai aturan dalam hukum Taurat rentan disalahgunakan.  Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, Tuhan Yesus mengakhiri berbagai ritual ibadah tersebut dan menggantinya dengan ibadah yang langsung tertuju kepada Allah tanpa melalui Bait Suci.

Saat ini, pilihan untuk menjalani hidup kudus bukan hal yang populer, bahkan bagi sebagian orang dianggap tindakan bodoh. Pementingan diri sendiri atau kelompok lebih diutamakan. Hidup yang hanya sekali ini digunakan untuk memuaskan diri sendiri, sehingga perlahan-lahan tujuan hidup manusia yang seharusnya untuk memuliakan Allah, bergeser menjadi memuliakan diri sendiri melalui berbagai tindakan mengejar/memupuk kekayaaan, ketenaran dan kekuasaan. Namun Rasul Paulus mengingatkan dalam 1 Korintus 1:25 “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari manusia.” Jika kita menjalani hidup kudus, mungkin akan tampak “aneh” dan tidak disukai oleh banyak orang (dunia), namun Tuhan Yesus ingin agar kita sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya menjaga kekudusan melalui ketaatan kepada firman Tuhan dan beriman kepada Tuhan Yesus sehingga kita bisa melihat dan menghayati    pernyataan dan keagungan Allah melalui segala ciptaan-Nya (Mazmur 19).

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk senantiasa menjalani hidup kudus dengan menaati Firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

 

Penulis:Pnt. Samuel Stefan Siahaya

Sumber:Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No:49/XX/Minggu, 8 Maret 2015 

 

 

Last Updated on Saturday, 07 March 2015 11:47
 
MEMIKIRKAN APA YANG DIPIKIRKAN ALLAH PDF Print E-mail
Written by Pnt. Ricky Surjana   
Sunday, 01 March 2015 00:00

Memerhatikan    judul     tema     khotbah pada Minggu ini, apa yang terbersit dalam pikiran anda?

Jikalau seorang istri atau suami saja seringkali tidak dapat memikirkan  apa yang   dipikirkan pasangan  hidupnya (belahan jiwanya), apalagi memikirkan apa yang dipikirkan oleh  Allah.  Tidakkah  ini  merupakan  suatu  kemustahilan bagi manusia? Mungkin benar, bila hal ini ditilik dari sudut pandang dunia. Dunia seringkali menjadi tempat yang sempit dan sesak untuk pikiran Allah. Tetapi, bagaimana jika hal ini ditilik dari sudut pandang Allah?

Menurut sudut pandang Allah, manusia bisa memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Setiap orang yang dibaptis adalah  manusia,  bahkan  kemudian disebut  sebagai  ciptaan baru yang diberi karunia untuk memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Yang di bumi selalu men jadi pusat dari pikiran manusia lama. Isinya adalah segala sesuatu yang bersifat duniawi dan yang mendatangkan murka  Allah,  yaitu:  percabulan,  kenajisan,  hawa  nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembah berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu: marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu (Kol. 3:5-9). Tetapi, manusia baru memprioritaskan pusat pikirannya pada yang di atas, yakni pikiran Kristus. Ia menanggalkan manusia lama serta kelakuannya dan mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan/pikiran yang benar menurut gambar Khaliknya (Kol.3:10). Pikiran Allah adalah mewujudkan keadilan Allah bagi dunia. Allah memikirkan keselamatan dunia dengan segala isinya melalui jalan Salib. Penderitaan dan kematian Tuhan Yesus adalah wujud keadilan Allah.

Sebagai manusia baru, kita harus meninggalkan cara hidup lama kita yang serba egosentris. Seluruh pikiran dan perilaku hidup kita harus berpusat kepada Allah. Dan Allah suka apabila kita bermegah karena kita memahami dan mengenal Allah (Yer. 9:24). Oleh sebab itu, Allah mengaruniakan pada kita Roh Kudus, yang akan terus memimpin dan mengarahkan pikiran kita sesuai dengan pikiran Allah.

Tuhan Yesus memberkati kita semua

 

Penulis: Pnt Ricky Surjana

Sumber: Renungan Warta Jemaat GKI Perumahan Citra 1

No: 48/XX/Minggu, 1 Maret 2015

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Polling

Berapa lama Saudara mengenal Paideia
 

Whos Online

We have 1 guest online

Dokumentasi



Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini5
mod_vvisit_counterKemarin16
mod_vvisit_counterMinggu Ini56
mod_vvisit_counterBulan Ini21
mod_vvisit_counterKeseluruhan70666

Login Form